REAL Masuk Bisnis Data Center, Ini yang Mesti Dicermati Investor

Karunia Putri
7 Oktober 2026, 15:03
data center
Katadata/Hari Widowati/Chatgpt
Ilustrasi data center dan suhu panas yang dihasilkannya.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT Repower Asia Indonesia Tbk (REAL) memasuki babak baru dengan mulai mendiversifikasi bisnis ke sektor data center atau pusat data. Hal itu dilakukan perseroan demi menangkap peluang pertumbuhan infrastruktur digital di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI).

REAL masuk ke bisnis tersebut melalui anak usahanya, PT Repower Global Sinergitama (RGST). RGST menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan PT Quanta Tunas Abadi. Kerja sama itu menjadi langkah awal persiapan akuisisi untuk mengembangkan bisnis RGST di bidang managed service, infrastruktur teknologi informasi, internet dan data center.

Quanta Tunas Abadi adalah perusahaan penyedia layanan internet alias internet service provider (ISP) dan infrastruktur jaringan di Indonesia dengan merek Higen. “Penandatanganan MoU ini menjadi landasan bagi RGST dan HIGEN dalam mempersiapkan dan membahas langkah-langkah strategis yang diperlukan dalam rangka pengembangan kegiatan usaha di bidang tersebut,” tulis Direktur REAL, Sjafardamsah, dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Rabu (7/10).

Setelah proses akuisisi rampung, REAL akan memiliki ruang untuk mengembangkan dan memperluas bisnis di bidang infrastruktur teknologi informasi, internet dan data center.

Namun, transaksi tersebut belum bersifat final. Pelaksanaannya masih bergantung pada hasil uji tuntas, pemenuhan persyaratan internal masing-masing pihak, penandatanganan perjanjian definitif serta persetujuan dari otoritas terkait sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Menyusul pengumuman tersebut, saham REAL langsung melonjak 16,28% ke level Rp 50 hari ini.

Selama ini, bisnis utama REAL bergerak di sektor properti dan real estate, meliputi pembelian, penjualan, persewaan serta pengoperasian aset properti yang dimiliki maupun disewa. Sejumlah proyek yang dikembangkan REAL antara lain Botanical Puri Asri di Depok, Jawa Barat, dengan luas lebih dari 1,8 hektare untuk segmen menengah. Lalu ada pula Green Botanical Garden di Jagakarsa, Jakarta Selatan, serta; Pejaten Office Park di Warung Buncit, Jakarta Selatan.

Perseroan juga mengembangkan Apartemen Bekasi Timur dengan luas lebih dari 1,4 hektare; Apartemen Tangerang seluas 1,1 hektare dengan konsep transit oriented development (TOD); Apartemen Pasar Minggu yang berjarak sekitar 500 meter dari stasiun, serta; Townhouse Pondok Cabe di Tangerang Selatan, Banten.

Masuknya REAL ke bisnis data center menambah daftar panjang emiten di BEI yang mulai membidik bisnis infrastruktur digital seiring meningkatnya kebutuhan komputasi dan penyimpanan data akibat perkembangan AI.

Beberapa emiten telah memiliki eksposur terhadap ekosistem data center. Sebut saja PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) yang mengembangkan kawasan industri yang menjadi lokasi sejumlah perusahaan data center. Sementara itu, PT Cikarang Listrindo Tbk (POWR) memasok kebutuhan listrik untuk operasional kawasan industri termasuk pusat data.

PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) memiliki jaringan fiber optik yang mendukung konektivitas data center. Adapun PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) menyediakan infrastruktur jaringan dan fiber optik yang menghubungkan pusat-pusat data.

Untuk pemain utamanya, ada PT DCI Indonesia Tbk (DCII) yang memang fokus pada bisnis data center. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga mengembangkan bisnis tersebut melalui NeutraDC dan Telkomsigma. Sementara PT Indosat Tbk (ISAT) memiliki eksposur melalui kerja sama strategis dengan BDx Indonesia serta pengembangan komputasi AI.

PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga melakukan diversifikasi dari bisnis energi dan batu bara ke infrastruktur digital melalui unit usahanya. Adapun PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) memperluas bisnis konektivitas ke ekosistem data center melalui anak usahanya.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai tren akuisisi dan diversifikasi, khususnya ke data center menunjukkan arah bisnis sejumlah emiten Indonesia dalam menangkap peluang pertumbuhan di masa depan. Dalam beberapa kasus, perubahan arah bisnis tersebut juga terjadi bersamaan dengan perubahan pengendali perusahaan. Namun di REAL tidak.

“Pola ini konsisten dengan upaya konglomerasi memindahkan modal dari bisnis matang menuju sektor dengan pertumbuhan struktural lebih tinggi, termasuk mineral kritis, energi baru, infrastruktur digital, dan AI,” kata Syafruddin kepada Katadata, Selasa (6/10).

Apa yang Perlu Dicermati Investor?

Kendati demikian, Syafruddin mengingatkan, label bisnis masa depan tidak serta-merta menunjukkan adanya transformasi strategis yang kuat. Menurut dia, diversifikasi baru memberikan nilai tambah apabila perusahaan mampu memindahkan keunggulan dari bisnis lama, baik berupa modal, jaringan, teknologi, pelanggan maupun kompetensi operasional.

Jika hubungan antara bisnis lama dan bisnis baru lemah, diversifikasi justru berpotensi menambah kompleksitas, memunculkan subsidi silang dan menekan valuasi perusahaan melalui conglomerate discount.

Karena itu, menurut Syafruddin, investor tidak cukup hanya melihat banyaknya sektor baru yang dimasuki emiten. Investor perlu menilai apakah setiap akuisisi mampu meningkatkan return on invested capital (ROIC) dan arus kas perusahaan secara berkelanjutan.

Ada empat hal yang perlu diperhatikan investor dalam menilai aksi akuisisi, yakni harga, pembiayaan, integrasi dan hasil.

Pertama, investor perlu membandingkan acquisition multiple dengan perusahaan sejenis serta menghitung apakah sinergi yang dijanjikan mampu menutup premium harga akuisisi.

Kedua, investor perlu mencermati sumber pendanaan. Akuisisi yang dibiayai utang dapat meningkatkan laba per saham dalam jangka pendek, tetapi sekaligus meningkatkan risiko refinancing, tekanan terhadap kemampuan membayar bunga serta potensi dilusi apabila perusahaan kemudian membutuhkan rights issue.

Ketiga, investor perlu melihat kemampuan integrasi setelah transaksi, termasuk retensi pelanggan, margin, biaya operasional, budaya organisasi, dan realisasi belanja modal. Banyak transaksi akuisisi tidak menghasilkan nilai tambah bukan karena aset yang dibeli bermasalah, melainkan karena sinergi yang dijanjikan tidak terealisasi.

Keempat, investor perlu memantau ROIC setelah akuisisi dibandingkan dengan weighted average cost of capital (WACC), arus kas bebas, tingkat leverage serta kontribusi laba organik.

“Reaksi harga saham saat pengumuman bukan bukti final,” ujar Syafruddin.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...