Garuda (GIAA) Tunjuk Thomas Sugiarto jadi Dirut, Incar Pendanaan Kebut Pemulihan
PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) menetapkan Thomas Sugiarto Oentoro menjadi DIrektur Utama (Dirut) menggantikan Glenny H. Kairupan. Adapun Glenny kini menjabat sebagai Komisaris Utama.
Pergantian ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Garuda Indonesia, Kamis (8/10). Sebelumnya Thomas menjabat Wakil Direktur Utama sejak Oktober 2025. Dalam keputusan RUPSLB tersebut juga terdapat perubahan jabatan direksi Garuda Indonesia dan pergantian dewan komisaris.
“Pergantian kepemimpinan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat momentum perbaikan kinerja Garuda, seiring pertumbuhan pendapatan, pemulihan armada, dan penyusutan kerugian,” tulis manajemen Garuda seperti dikutip Jumat (9/10).
Bersamaan dengan penunjukan Thomas, susunan pengurus Garuda diperkuat oleh sejumlah profesional dengan pengalaman internasional, baik di jajaran direksi maupun dewan komisaris. Dalam susunan terbaru tak ada lagi jabatan Wakil Direktur Utama. Selain itu juga ada penambahan jabatan Direktur Komersial.
Posisi Direktur Komersial diisi Alan McIntyre, yang memiliki pengalaman sebagai Executive Manager Strategy di Qantas Group serta Chief Customer and Commercial Officer di Jetstar. Pengalaman tersebut relevan untuk mendukung penguatan strategi jaringan, pengelolaan pendapatan, dan pengalaman pelanggan.
Pada jajaran Dewan Komisaris, Jaan Albrecht dan Trey Urbahn ditunjuk sebagai Komisaris Independen. Jaan memiliki rekam jejak sebagai CEO Saudia Airlines, Austrian Airlines, dan Star Alliance. Sementara itu, pengalaman Trey mencakup peran penasihat dan pengawasan di sejumlah perusahaan penerbangan, termasuk Spirit Airlines, Etihad Airways, serta TAP Air Portugal.
Susunan direksi setelah RUPSLB
* Direktur Utama: Thomas Sugiarto Oentoro
* Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko: Balagopal Kunduvara
* Direktur Operasi: Eric Ferdinand Sofyal
* Direktur Teknik: Mukhtaris
* Direktur Komersial: Alan McIntyre
* Direktur Human Capital & Corporate Service: Dina Sandri Fani
* Direktur Transformasi: Neil Raymond Mills
Susunan dewan komisaris setelah RUPSLB
* Komisaris Utama: Glenny H. Kairupan
* Komisaris: Sugito Anjasmoro
* Komisaris: Chairal Tanjung
* Komisaris Independen: Mawardi Yahya
* Komisaris Independen: Jaan Albrecht
* Komisaris Independen: Trey Urbahn
Cari Pendanaan di Tengah Pemulihan
Pergantian manajemen GIAA terjadi di tengah rencana mencari pendanaan berupa tambahan utang dari perbankan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja. Hal ini dilakukan seiring lonjakan biaya bahan bakar minyak (BBM) dan perawatan pesawat yang memperbesar kerugian.
Merujuk pemberitaan Bloomberg Garuda juga mempertimbangkan melakukan lindung nilai (hedging) terhadap biaya bahan bakar. Perusahaan juga akan menggunakan sisa dana pembiayaan sebesar US$ 1,4 miliar atau Rp 25,05 triliun dalam enam bulan ke depan untuk kebutuhan perawatan pesawat. Dana tersebut diperoleh Garuda dari sovereign wealth fund Danantara
Langkah ini dilakukan Garuda sebab menurut laporan keuangan semester pertama tahun ini kas perusahaan mencapai US$ 624 juta atau Rp 11,17 triliun. Sedangkan kewajiban lancarnya mencapai US$ 1,6 miliar atau Rp 28,6 triliun.
Managing Director Research PT Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, mengatakan untuk maskapai dengan skala seperti Garuda, tolok ukur standar industri global adalah mempertahankan cadangan likuid sebesar 20% hingga 25% dari pendapatan tahunan.
“Idealnya, Garuda memiliki kas tidak terbatas (unrestricted cash) sebesar US$ 720-900 juta (Rp 12,5 triliun-Rp 16,1 triliun) untuk menghadapi potensi guncangan,” ujar Harry seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (8/10).
Menurut Harry, maskapai tersebut perlu mendapatkan tambahan pendanaan dalam tiga hingga enam bulan ke depan karena tingginya biaya bahan bakar dan kerugian yang dialami akan mempercepat penggerusan kas.
Bloomberg menyebut penyelamatan Garuda dinilai penting sebab maskapai tersebut mempekerjakan 10 ribu orang. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah mengalihkan kepemilikan saham pemerintah sebesar 65% di Garuda kepada Danantara pada Maret tahun lalu.
Langkah ini diambil untuk membantu maskapai tersebut. Kepemilikan dana tersebut kemudian meningkat menjadi 91% setelah suntikan dana sebesar US$ 1,4 miliar atau Rp 25,05 triliun.
Garuda sebelumnya telah menghentikan 40% pengoperasian armada sejak 2025 lalu. Hal ini akibat keterbatasan pendanaan dan meningkatnya biaya perawatan. Kondisi tersebut diperparah oleh lonjakan harga bahan bakar akibat perang Timur Tengah membuat proses pemulihan maskapai menjadi semakin mahal.
Garuda mencatat kerugian US$ 120,7 juta atau Rp 2,16 triliun pada semester pertama, meskipun pendapatannya meningkat 16% menjadi US$ 1,80 miliar atau Rp 32,2 triliun. Kerugian tersebut membuat ekuitas Garuda mengalami defisit sebesar US$ 52,2 juta atau Rp 934,14 miliar, dari sebelumnya surplus US$ 44,4 juta atau Rp 794,6 miliar pada akhir 2025.
Hingga semester I 2026, Garuda group mengoperasikan 104 pesawat, naik 6 unit dibandingkan tahun lalu yang mencapai 98 pesawat saja. Perusahaan telah menghabiskan US$ 232 juta atau Rp 4,15 triliun untuk perawatan pesawat pada semester pertama tahun ini. Jumlahnya lebih dari tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di tengah tekanan itu, Presiden Prabowo Subianto memprediksi maskapai penerbangan BUMN, Garuda Indonesia bakal mulai meraup keuntungan pada 2027. Prabowo menyebut Garuda telah mengalami kerugian selama bertahun-tahun.
Meski begitu, dia menyebut per Juni 2026 ada 20 pesawat Garuda yang sudah dilakukan aktif beroperasi sehingga jumlah pesawat yang operasikan mencapai 140 unit. Ia bahkan menyebut jika tidak terjadi perang di Timur Tengah, Garuda sudah akan untung pada Juli tahun ini.
“Sekarang kami berharap awal 2027 mereka sudah mulai untung,” kata Prabowo, alam Sidang Tahunan MPR RI & Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI, Jumat (14/8).
