IHSG Parkir di Level 5.925, Seberapa Besar Peluang Rebound Besok?
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup turun 0,17% ke 5.925 pada perdagangan hari ini, Selasa (13/10). Sebanyak 336 saham menguat, 290 saham terkoreksi, dan 168 saham lainnya tidak bergerak.
Secara tahun berjalan atau year to date (ytd), IHSG anjlok 31,47%. Sementara bila dilihat dalam sebulan terakhir, nilai koreksinya mencapai 8,28%.
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan nilai transaksi saham hari ini sebesar Rp 10,64 triliun dengan volume 36,41 miliar saham dan frekuensi sebanyak 1,47 ribu kali. Adapun kapitalisasi pasar IHSG hari ini sebesar Rp 10.422 triliun.
Dari sebelas sektor yang ada di BEI, hanya tiga yang tersungkur di zona merah. Sektor yang mencatat penurunan terbesar adalah teknologi yang terperosok 0,95%. Salah satu saham teknologi yang berada di zona merah yakni PT DCI Indonesia Tbk (DCII), yang turun 3,12% ke Rp 193.250 per saham.
Sementara itu, bursa saham Asia mayoritas di zona hijau. Indeks Hang Seng naik 0,30%, Shanghai Composite naik 0,10%, dan Straits Times tumbuh 0,26%. Sebaliknya Nikkei turun 1,82%.
Saham top gainers:
- PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS) naik 4,62% ke Rp 181.
- PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) naik 4,46% ke Rp 328.
- PT Singaraja Putra Tbk (SINI) naik 4,01% ke Rp 14.250.
Saham top losers:
- PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) turun 13,19% ke Rp 2.370.
- PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) turun 10,24% ke Rp 570.
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun 2,60% ke Rp 1.310.
Research Analyst Bumiputera Sekuritas, Muhammad Thoriq Fadilla, menilai arah IHSG besok masih berada dalam tren bearish. Menurut dia, posisi indeks di bawah EMA 5 (6.004,91), EMA 10 (6.067,06), dan EMA 50 (6.278,20).
Kendati demikian, Thoriq menyebut terbentuknya long lower shadow setelah indeks sempat menyentuh 5.828,68 menunjukkan adanya respons beli di area bawah. Pola candlestick yang menyerupai hammer, didukung Stochastic yang berada di area oversold, mulai membuka peluang technical rebound. Namun, dia mengakui MACD masih menunjukkan momentum negatif.
Thoriq memproyeksikan IHSG berpeluang menguat menuju 6.007–6.067 apabila mampu melewati 5.930 dan kembali bergerak di atas EMA 5. “Namun, pemulihan diperkirakan masih terbatas, dengan support penting di 5.828–5.798 yang perlu dipertahankan,” tulis Thoriq dalam analisisnya, Selasa (13/10).
Dari sisi global, dia menyebut perhatian investor pekan ini tertuju pada rilis CPI dan Core CPI AS (14/10), disusul PPI dan Retail Sales (15/10). Semua hasil rilis itu akan menjadi acuan dalam menilai tekanan inflasi dan arah kebijakan bank sentral AS, The Fed.
Tak hanya itu, harga Brent di sekitar US$ 105 per barel dan ketegangan geopolitik Timur Tengah masih berpotensi menjaga risiko inflasi dan membatasi ruang pelonggaran moneter. Sementara itu, musim laporan keuangan perbankan AS kuartal III 2026 juga menjadi perhatian untuk menilai ketahanan kinerja korporasi.
Dari kawasan Asia, rilis inflasi dan perdagangan Cina pada Rabu (14/10) akan memberikan gambaran mengenai kondisi permintaan dan aktivitas ekspor. Namun Thoriq melihat pemulihan ekonomi masih dibayangi lemahnya sektor properti dan konsumsi.
“Selain itu, tekanan saham teknologi regional, keputusan moneter Singapura, serta laporan keuangan TSMC (15/10) berpotensi memengaruhi sentimen pasar kawasan,” ucapnya.
Dari sisi domestik, hasil lelang SUN dengan target indikatif Rp 30 triliun menjadi perhatian untuk mengukur minat investor terhadap obligasi pemerintah. Cadangan devisa September sebesar US$ 146,3 miliar masih mendukung stabilitas eksternal.
Meskipun penguatan dolar AS dan tingginya yield US Treasury tetap membayangi rupiah. Menjelang RDG Bank Indonesia (20–21/10), perkembangan nilai tukar dan likuiditas juga perlu dicermati.
“Peluang technical rebound IHSG masih terbuka, tetapi keberlanjutannya sangat bergantung pada kemampuan indeks mempertahankan support serta meredanya tekanan eksternal,” kata Thoriq.
