Ada Transaksi Senyap Rp 1,1 T di Saham Konglomerat Low Tuck Kwong Bayan (BYAN)
Emiten konglomerat Low Tuck Kwong PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mencatatkan transaksi crossing hingga Rp 1,1 triliun. Berdasarkan RTI Business, aksi senyap itu terjadi di pasar negosiasi hingga 1 juta lot pada pukul 11:45 WIB.
Apabila menilik perdagangan intraday pukul 14:41 WIB, saham GOTO naik 0,89% ke Rp 11.350 per saham. Volume yang diperdagangkan tercatat 383,80 ribu, dengan nilai transaksi Rp 4,35 miliar, dan kapitalisasi pasarnya sebesar Rp 378,33 triliun.
Meski begitu, perusahaan belum memberikan laporan kepemilikan saham terkait transaksi senyap itu kepada Bursa Efek Indonesia (BEI). Pasalnya BYAN kini tengah jadi bulan-bulanan di pasar modal usai bos Jhonlin Group, Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam mengakuisisi hingga 10 miliar lembar saham BYAN.
Crazy rich Kalimantan itu menggadaikan dua saham PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) dan PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) ke Bank Mandiri, yang dinilai untuk menebus biaya akuisisi 30,25% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN), produsen batu bara itu.
Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nurkholis Syafruddin mengatakan, kemampuan debitur membayar utang seharusnya menjadi dasar penilaian kredit, bukan semata-mata nilai aset yang dijaminkan.
Nurkholis menyoroti setelah transaksi, PT Jhonlin Baratama menguasai 30,25% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Pada periode tahun buku 2021–2025, BYAN rata-rata membagikan dividen sebesar US$ 960 juta per tahun, termasuk US$ 500 juta untuk tahun buku 2025.
Dengan porsi kepemilikan tersebut, Nurkholis mengatakan Jhonlin berpotensi menerima dividen rata-rata sekitar US$ 290 juta per tahun berdasarkan riwayat pembagian dividen BYAN. Nilai tersebut setara dengan imbal hasil dividen sekitar 20% terhadap asumsi fasilitas pembiayaan sebesar Rp 26,1 triliun atau sekitar US$ 1,45 miliar yang sepenuhnya bersumber dari utang. Ia menyebut angka ini jauh di atas asumsi biaya pinjaman sebesar 8%.
Tak hanya itu, Nurkholis menilai, dividen BYAN berpotensi menopang pelunasan pinjaman dengan tenor cicilan tujuh hingga delapan tahun. Beban bunga tahunan sekitar US$ 116 juta diperkirakan dapat ditutup 2,5 kali oleh rata-rata dividen BYAN selama lima tahun dan 1,3 kali oleh dividen tahun buku 2025.
“Sementara itu, cicilan tahunan sebesar US$ 252–US$ 279 juta dapat ditutup sekitar 1,04-1,15 kali sehingga pinjaman berpotensi lunas dalam sekitar 6,6 tahun,” kata Nurkholis dalam analisisnya, Rabu (14/10).
Kemampuan membayar utang tersebut juga ditopang oleh kinerja operasional BYAN. Pada semester pertama 2026, Nurkholis mencatat perusahaan membukukan laba bersih US$ 410 juta, tumbuh 17% secara tahunan, dengan kas mencapai US$ 934 juta.
Meski begitu, Mirae Asset menilai bantalan pembayaran utang Jhonlin masih terbatas karena bergantung pada sejumlah asumsi yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali perusahaan. Nurkholis menyoroti apabila menggunakan rata-rata dividen BYAN selama 2023–2025 sebesar US$ 667 juta per tahun, rasio Debt Service Coverage Ratio (DSCR) diperkirakan turun menjadi 0,72–0,80 kali.
Dalam skenario itu, ia mengatakan BYAN perlu membagikan dividen minimal sekitar US$ 830 juta per tahun agar DSCR berada di atas 1 kali, yang menunjukkan kemampuan arus kas untuk menutup kewajiban pembayaran utang.
Nurkholis mengatakan, risiko juga muncul dari kebijakan dividen BYAN. Jhonlin tidak menerima dividen untuk tahun buku 2025 dan tidak memiliki kendali penuh atas keputusan pembagian dividen, mengingat keluarga Low masih menguasai sekitar 32% saham BYAN.
Selain itu, risiko kredit juga berkaitan dengan kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO) yang dapat memengaruhi kinerja operasional dan kemampuan BYAN membagikan dividen.
“Serta kondisi force majeure dapat menambah ketidakpastian terhadap arus kas dan kemampuan pembayaran utang,” ujar Nurkholis.
Lebih jauh, Nurkholis juga menyoroti struktur pembiayaan berupa gadai saham BYAN, rekening penampungan dividen, dan cadangan pembayaran utang dapat membantu memitigasi risiko kredit. Namun, kemampuan membayar pinjaman tetap bergantung pada arus kas dan siklus bisnis batu bara.
Meski transaksi tersebut tidak seburuk yang dikhawatirkan, Mirae Asset tetap bersikap bearish terhadap saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Pandangan ini berdasarkan sejumlah tantangan fundamental.
Mulai dari rasio loan-to-deposit ratio (LDR) sebesar 94,4%, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) bank-only sebesar 17,5%, hingga kenaikan cost of credit (CoC) di tengah rasio loan loss reserve (LLR) sekitar 2,4%, level terendah sepanjang sejarah.
“Dengan demikian, investor perlu mencermati risiko pembagian dividen BYAN, struktur pembiayaan, dan fundamental BMRI di tengah volatilitas pasar saham,” tulis Nurkholis.
