Menyibak Arah Investasi Danantara, Sektor Kunci hingga Demutualisasi BEI

Karunia Putri
15 Oktober 2026, 12:22
Menteri Keuangan Suahasil Nazara (ketiga dari kanan) saat menyampaikan paparan dalam acara roundtable Danantara: Reform, Transparency and Capital: Indonesia’s Financial Sector and the Role of Danantara di Bangkok, Thailand, Selasa (13/10).
Dok. Danantara
Menteri Keuangan Suahasil Nazara (ketiga dari kanan) saat menyampaikan paparan dalam acara roundtable Danantara: Reform, Transparency and Capital: Indonesia’s Financial Sector and the Role of Danantara di Bangkok, Thailand, Selasa (13/10).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Danantara mengumpulkan empat dan lembaga di sektor keuangan Indonesia di sela-sela acara tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) yang tahun ini diselenggarakan di Bangkok, Thailand. Dalam forum meja bundar itu, Danantara, Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Bank Indonesia (BI) berembuk untuk membahas arah reformasi sektor keuangan negeri.

Forum tersebut juga dihadiri investor global dan lembaga pemeringkat, seperti Moody’s Ratings, S&P Global Ratings, Fitch Ratings, JP Morgan serta penyedia indeks global MSCI. Tujuannya untuk memperkuat kepercayaan investor dan meningkatkan transparansi pasar Indonesia. Pertemuan ini juga menjadi ruang bagi Pemerintah RI untuk menyampaikan arah kebijakan sekaligus menerima masukan dari para pelaku pasar global.

Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir mengatakan, investor menyambut positif kehadiran sejumlah institusi Indonesia dalam satu forum untuk membahas arah kebijakan ekonomi dan reformasi sektor keuangan secara terpadu.

Menurut Pandu, investor menilai komunikasi antarlembaga tersebut penting. Bahkan Pandu menyebut para investor mulai menanyakan peluang investasi bersama di Indonesia pada tahun depan, alih-alih hanya membahas persoalan teknis terkait kebijakan fiskal.

“Poin utamanya memang sangat happy bahwa antara empat institusi negara ini (Kemenkeu, OJK, BI, dan Danantara), semua saling mengisi dan semua berbicaranya bahu-membahu dia bilang kita udah nunggu 2 tahun buat ini dan ini sangat penting ini bagus sekali, ini dilakukan sekarang dan ini bisa menjadi step forward buat tahun 2027,” kata Pandu ketika diwawancara Katadata usai Roundtable Reform, Transparency and Capital: Indonesia’s Financial Sector and the Role of Danantara  di Bangkok, Thailand, Selasa (13/10).

Selain menyampaikan kebijakan, pemerintah juga dapat menerima masukan langsung mengenai hal-hal yang menjadi perhatian investor. Pandu mengatakan, investor juga menyoroti tindak lanjut dan keberlanjutan reformasi yang telah dibahas. Karena itu, pemerintah perlu membuktikan bahwa berbagai komitmen tersebut dapat diwujudkan melalui langkah konkret.

“Kami bilang, give us time, give us a chance to prove,” ujar Pandu.

Menurut Pandu, komunikasi antarlembaga menjadi semakin penting untuk menghadapi tantangan ekonomi pada 2027. Dia menyebut, pemerintah berencana melanjutkan pertemuan serupa secara berkala, termasuk dengan kelompok investor yang lebih terbatas agar diskusi dapat berlangsung lebih mendalam.

Persiapan Danantara Jadi Pemegang Saham BEI Pascademutualisasi

Salah satu agenda reformasi yang dibahas adalah demutualisasi BEI. Pandu menilai, perubahan struktur kepemilikan dan tata kelola bursa tersebut dapat membantu menciptakan persaingan yang lebih setara antara pasar modal Indonesia dan negara-negara lain di kawasan, juga untuk mencaapi target pertumbuhane konomi 8% yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto

Ia mengatakan, proses demutualisasi telah melalui sejumlah tahapan kebijakan, mulai dari pembahasan di tingkat pemerintah hingga penerbitan regulasi. Menurut dia, langkah tersebut menunjukkan adanya kemajuan dalam pelaksanaan reformasi pasar modal Indonesia.

Dalam konteks itu, Danantara berpeluang memberikan pendanaan kepada BEI setelah demutualisasi. Danantara akan menjadi salah satu pemegang saham BEI. Namun, penggunaannya akan disesuaikan dengan rencana bisnis manajemen bursa.

“Langkah yang positif, dan itu nantinya tentu akan membawa market deepening untuk growth 8% bisa tercapai salah satunya yang dibutuhkan adalah market deepening,” kata Pandu.

Perihal masuknya Danantara di bursa, ia menegaskan, pengaturan mengenai struktur kepemilikan saham dan batas kepemilikan investor tetap menjadi kewenangan OJK sebagai regulator. Sementara itu, Danantara akan menjalankan perannya sebagai pemegang saham bersama pemegang saham lainnya.

Menurut Pandu, para pemegang saham perlu memiliki visi yang sejalan dengan manajemen BEI untuk meningkatkan daya saing bursa. Setelah demutualisasi, bursa juga perlu memiliki orientasi bisnis yang kuat agar mampu bersaing dengan bursa di negara lain.

Pandu menambahkan, keterlibatan investor dalam kepemilikan bursa bukanlah hal baru di pasar global. Ia mencontohkan sejumlah bursa di kawasan Asia yang telah menjalankan demutualisasi dan membuka peluang kepemilikan bagi investor.

Dalam demutualisasi, Danantara berperan sebagai katalis investasi, termasuk dengan mendorong masuknya modal ke pasar keuangan domestik.

Fokus Investasi Dalam Negeri, Valuasi Dinilai Menarik

Forum itu juga membahas arah investasi Danantara ke depan. Pandu bilang, Danantara akan lebih berfokus pada proyek-proyek domestik, terutama sektor energi terbarukan, hilirisasi dan infrastruktur digital. Pandu mengatakan, minat investor global terhadap Indonesia turut menjadi pertimbangan dalam menyusun strategi investasi ke depan.

Ia pun menilai valuasi saham perusahaan Indonesia saat ini sangat menarik. Menurut Pandu, rasio harga saham terhadap proyeksi laba atau forward price-to-earnings pasar berada di sekitar 9 kali, yang ia nilai sebagai salah satu level terendah dalam sekitar 20 tahun terakhir.

Selain valuasi, ia menyoroti fundamental perusahaan domestik yang dinilai masih cukup kuat. Menurut dia, sejumlah perusahaan di sektor perbankan, energi, dan konsumer masih mencatatkan return on equity (ROE) di atas 15%, disertai pertumbuhan pendapatan dan laba bersih.

“Kami sih mungkin cukup optimistis ya karena pertama kami dibantu juga dengan valuasi yang menurut kami sangat menarik,” kata Pandu.

Pandu menilai, tantangan yang dihadapi pasar Indonesia saat ini tidak semata-mata berkaitan dengan fundamental perusahaan, tetapi juga persepsi investor. Karena itu, koordinasi antarlembaga dan keberlanjutan reformasi diharapkan dapat memperkuat kepercayaan investor.

Untuk sektor energi, Danantara akan menjajaki kerja sama dengan pihak swasta, termasuk pada proyek energi terbarukan dan pengolahan sampah menjadi energi atau waste to energy (WtE).

Danantara juga melihat peluang investasi pada infrastruktur digital, termasuk pusat data atau data center. Selain itu, investasi dapat mencakup pengembangan teknologi pendukung energi bersih, efisiensi energi, pengolahan air, hingga pembangunan pabrik yang berkaitan dengan industri energi terbarukan, seperti panel surya.

Menurut Pandu, investasi di sektor-sektor tersebut berpotensi menarik modal tambahan dari pihak lain. Dengan demikian, pendanaan Danantara tidak hanya digunakan untuk membiayai proyek, tetapi juga menjadi pemicu terbentuknya investasi yang lebih besar.

Ia mencontohkan, pada proyek WtE, setiap Rp 1 modal yang disuntikkan Danantara berpotensi menarik tambahan investasi sekitar Rp 6 hingga Rp 7 dari pihak lain. Sementara itu, pada proyek energi terbarukan dan infrastruktur digital, rasio investasi tambahan yang ditargetkan dapat mencapai US$ 10 sampai US$ 15 untuk setiap US$ 1 yang ditanamkan.

Pola itu diharapkan menghasilkan efek berganda bagi perekonomian nasional, mulai dari peningkatan investasi hingga penciptaan lapangan kerja.

Bagaimana dengan Arah Investasi Luar Negeri?

Meski akan memperbesar porsi investasi domestik, Danantara tetap membuka peluang investasi di luar negeri. Sebab belakangan Danantara mengumumkan telah berinvestasi di beberapa aset luar negeri seperti Blok Migas HighPeak di Amerika Serikat. 

Dalam berinvestasi di luar negeri, Pandu mengatakan investasi tersebut harus memberikan nilai tambah bagi Indonesia, baik melalui transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia maupun peningkatan kemampuan industri nasional.

Ia mencontohkan kerja sama dengan JBS yang tidak hanya ditujukan untuk memperoleh keuntungan investasi, tetapi juga mendukung ketahanan pangan Indonesia, termasuk mengurangi ketergantungan pada impor protein.

Menurut Pandu, keterlibatan Danantara dalam investasi global memungkinkan Indonesia memiliki peran lebih besar dalam menentukan arah pengembangan bisnis, termasuk memperoleh akses terhadap teknologi, talenta, dan pengalaman operasional perusahaan mitra.

Ke depan, pendekatan serupa berpotensi diterapkan pada sejumlah sektor lain, seperti energi terbarukan, minyak dan gas, kilang minyak, serta jasa keuangan.

Pandu mengatakan, Danantara akan tetap memprioritaskan sektor-sektor yang dinilai dapat memberikan manfaat strategis bagi Indonesia. Dengan pendekatan tersebut, investasi luar negeri diharapkan tidak berhenti pada keuntungan finansial, tetapi juga mendukung pengembangan kapasitas ekonomi nasional.

Proyek WtE Jadi Prioritas Terdekat

Dalam jangka pendek, Danantara akan mempercepat pengembangan proyek pengolahan sampah menjadi energi. Pandu mengatakan, sejumlah proyek telah memasuki tahap persiapan dan pembangunan, sementara proyek lainnya ditargetkan mulai dikerjakan secara bertahap.

Ia menyebut, salah satu proyek WtE di Bali telah mencapai progres pembangunan sekitar 20%. Danantara juga menargetkan penyelesaian 11 proyek sebelum akhir tahun ini, dengan pembangunan proyek-proyek berikutnya dijadwalkan dimulai menjelang akhir tahun.

Sejumlah proyek yang pembangunannya dimulai pada periode tersebut diperkirakan dapat diselesaikan pada kuartal pertama 2028. Sementara itu, Danantara menargetkan beberapa proyek lainnya dapat mencapai tahap penyelesaian pada akhir 2027.

Pandu mengatakan, pengembangan proyek-proyek tersebut membutuhkan dukungan pembiayaan yang besar. Namun, investasi pada infrastruktur energi dan pengolahan sampah juga berpotensi memberikan dampak berganda melalui pembangunan daerah dan penciptaan lapangan kerja.

Selain WtE, Danantara akan menyiapkan investasi lanjutan pada energi terbarukan dan infrastruktur digital, termasuk kemungkinan kerja sama dengan pihak swasta.

Untuk kuartal pertama dan kedua 2027, Danantara memperkirakan peluang investasi pada sektor-sektor tersebut masih terbuka. Pandu belum merinci seluruh proyek yang akan direalisasikan, tetapi menegaskan bahwa pengembangan investasi domestik dan peningkatan daya saing pasar keuangan akan menjadi bagian penting dari agenda Danantara ke depan.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...