Manuver Bos BSI (BRIS) Kejar Free Float 15%, Incar Posisi di Indeks LQ45?
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) saat ii tengah mengejar porsi kepemilikan saham beredar atau free float sebesar 15% mengejar ketentuan baru Bursa Efek Indonesia (BEI). Adapun hingga saat Oktober 2026 ini, porsi free float BRIS masih berada di angka 9,91%.
Direktur Utama Bank BSI, Anggoro Eko Cahyo mengatakan salah satu aksi perusahaan yakni melalui rights issue atau Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) dengan menerbitkan 6,8 miliar saham baru Seri B senilai Rp 500 per saham.
Namun perusahaan belum menetapkan harga pelaksanaan right issue. Dengan jumlah maksimal tersebut, nilai nominal saham baru yang diterbitkan mencapai Rp3,4 triliun. Adapun harga saham BRIS pada perdagangan hari ini berada di kisaran Rp 1.485.
Anggoro menyebut BSI mengatakan aksi korporasi ini untuk memperkuat permodalan sekaligus meningkatkan kapasitas pembiayaan.
“Kan kami tahu bahwa dari sisi pertumbuhan loan growth BSI tetap tinggi, 16%. DPK kami tetap tinggi, kalau kami mau maintain loan growth 16% terus, kami butuh funding yang sehat,” kata Anggoro kala ditemui usai konferensi pers BSI International Expo Kedua di Jakarta, Kamis (15/10).
Tak hanya itu, ia mengatakan dana segar dari aksi tersebut diharapkan bisa digunakan untuk memperkuat pendanaan perseroan di tengah pertumbuhan kredit yang masih tinggi. Selain itu, BSI juga membidik peningkatan porsi saham publik atau free float menjadi 15% agar bisa memenuhi persyaratan dan membuka peluang masuk indeks LQ45.
“Kan kami baru 9,9% ya, harapannya nanti bisa sesuai dengan free float-nya, juga kita masuk ke sejajar dengan LQ45 nanti,” ucap Anggoro.
Sebelumnya BEI mendepak BRIS dari indeks LQ45 dan IDX80 berdasarkan hasil rebalancing atau evaluasi yang berlaku efektif mulai 3 November 2025 lalu. Lewat right issue ini BRIS menyebut permodalan tersebut untuk mendukung bisnis perseroan pada 2027 diproyeksikan meningkat menjadi Rp 64,41 triliun dari Rp 51,07 triliun pada 2026.
Sejalan dengan itu, rasio kecukupan modal atau CAR diproyeksikan naik menjadi 23,31% dari 20,38%. Penguatan modal tersebut diharapkan dapat menopang ekspansi bisnis dan pertumbuhan pembiayaan secara berkelanjutan.
Sekaligus mendukung upaya perseroan meningkatkan kelompok bank berdasarkan modal inti sesuai ketentuan yang berlaku. Dalam jangka pendek, peningkatan modal berpotensi memengaruhi rasio profitabilitas. Namun, manajemen BSI memperkirakan profitabilitas dapat pulih secara bertahap seiring dengan penyaluran dana ke aset produktif.
Sementara itu, pemegang saham yang tidak melaksanakan HMETD berpotensi terdilusi kepemilikan maksimal 12,85%.
“Perseroan akan menggunakan seluruh dana hasil PMHMETD II, setelah dikurangi seluruh biaya dan pengeluaran yang berkaitan dengan emisi saham baru, untuk penyaluran pembiayaan dalam rangka mendukung pertumbuhan usaha BRIS,” tulis manajemen.
