Wall Street Berguguran, Dow Jones Anjlok 2,14% Tertekan Saham Teknologi dan AI
Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup turun pada perdagangan Jumat (16/10). Pelemahan terjadi setelah investor menggeser portofolio investasinya dari saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI).
Indeks S&P 500 turun 1,09% dan ditutup di level 7.659,44. Sementara itu, Nasdaq Composite merosot 2,14% ke posisi 26.140,03. Kedua indeks tersebut berakhir di bawah rata-rata pergerakan 50 hari (50 day moving average). Adapun Dow Jones Industrial Average terkoreksi 175,28 poin atau 0,34% ke level 52.002,41.
Indeks S&P 500 turun sekitar 2% sepanjang pekan kemarin. Sementara itu, Nasdaq merosot lebih dari 4% menjadi penurunan mingguan terdalam sejak Juni. Sebaliknya Dow Jones menguat 0,7% dalam sepekan.
Investor semakin khawatir perusahaan teknologi meminjam terlalu banyak dana untuk membangun infrastruktur AI. Saham perusahaan penyedia layanan komputasi awan generasi baru (neocloud) seperti CoreWeave anjlok hampir 12%. Total utang CoreWeave telah meningkat menjadi lebih dari US$ 51 miliar.
Penurunan tersebut membuat saham CoreWeave merosot 25% sepanjang pekan ini. “Pertanyaannya adalah, apakah ini masalah sistemik?” kata kepala investasi Angeles, Michael Rosen, dikutip dari CNBC, Senin (19/10).
Menurutnya, peningkatan penerbitan utang perlu terus dicermati. Investor patut mengkhawatirkannya apabila utang terus meningkat hingga mencapai tingkat yang berlebihan. Namun, Rosen menilai kondisi pasar saat ini masih jauh dari situasi tersebut.
Sementara itu, untuk saham-saham cip, VanEck Semiconductor ETF (SMH) turun 3%, dipimpin oleh penurunan saham Micron Technology, Advanced Micro Devices dan Sandisk. Saham sektor semikonduktor tertekan sepanjang pekan ini di tengah kekhawatiran mengenai persaingan dari Cina.
SMH merosot 10% sepanjang pekan berjalan. Penurunan tersebut menjadi yang terbesar dalam sepekan sejak April 2025.
Aksi jual saham oleh investor membuat indeks volatilitas Cboe (VIX) yang dikenal sebagai indikator ketakutan investor di Wall Street menembus level 22 untuk pertama kalinya dalam empat bulan. Jika VIX di sekitar 20–30, artinya kekhawatiran meningkat dan investor memperkirakan fluktuasi pasar yang lebih besar.
Sementara itu, harga minyak naik di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran serta antara Rusia dan Ukraina. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 3,51% menjadi US$ 101,41 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah Brent menguat 3,72% ke level US$ 109,86 per barel.
Ketua The Fed, Kevin Warsh, diketahui sempat berbicara dalam acara Dana Moneter Internasional (IMF) di Bangkok, Thailand, pada Jumat lalu. Meski tidak memberikan komentar mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun, para pelaku pasar menafsirkan pernyataannya sebagai sinyal bahwa bank sentral AS akan mempertahankan kebijakan moneternya pada akhir bulan ini.
Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME Group, peluang The Fed mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan 27–28 Oktober mencapai 82%.
