Daftar Terkini Saham RI Penghuni Indeks MSCI, Ada BBCA, BRPT hingga MAPI

Karunia Putri
19 Oktober 2026, 08:29
Ilustrasi pembekuan saham Indonesia oleh lembaga penyedia indeks global MSCI.
BRI Danareksa Sekuritas
Ilustrasi pembekuan saham Indonesia oleh lembaga penyedia indeks global MSCI.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Lembaga pengelola indeks global MSCI menyatakan bakal kembali memberlakukan pembekuan atau freezing saham Indonesia hingga pemberitahuan lebih lanjut. Rencana itu juga termasuk pembekuan penambahan konstituen MSCI Indonesia Investable Market Index.

Menurut MSCI, pengumuman tersebut muncul akibat kekhawatiran yang berkelanjutan terkait aksesibilitas investasi dan tata kelola pasar saham Indonesia. Pengumuman itu disampaikan berbarengan dengan dimulainya konsultasi atas usulan perubahan klasifikasi Indeks MSCI Indonesia dari kategori pasar berkembang atau emerging market menjadi pasar mandiri atau standalone market pada Jumat (16/10) WIB.

MSCI akan mengumumkan keputusan final mengenai usulan tersebut paling lambat 30 Juni 2027. Selama periode konsultasi, MSCI juga dapat menyampaikan pembaruan mengenai tanggapan pelaku pasar.

Dalam Tinjauan Klasifikasi Pasar Juni 2026, MSCI menyatakan pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran signifikan terkait kelayakan investasi (investability) di pasar saham Indonesia. Kekhawatiran tersebut mencakup struktur kepemilikan saham yang dinilai masih tidak transparan serta dugaan aktivitas perdagangan yang terkoordinasi.

Sementara itu, MSCI mengakui bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengumumkan sejumlah reformasi untuk menjawab persoalan tersebut. Langkah-langkah itu meliputi peningkatan keterbukaan informasi pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1%; pengungkapan klasifikasi investor yang lebih terperinci; pelaporan konsentrasi kepemilikan saham tinggi atau high shareholding concentration (HSC), serta; peta jalan menuju persyaratan minimum free float sebesar 15%.

Namun, investor institusi menekankan perlunya penerapan kebijakan secara konsisten dan bukti bahwa reformasi tersebut memberikan dampak signifikan serta berkelanjutan.

Pada Juni lalu, MSCI menyatakan akan mempertimbangkan konsultasi perubahan klasifikasi pasar Indonesia jika kemajuan yang memadai belum terlihat dalam Tinjauan Indeks November 2026.

"Oleh karena itu, MSCI menilai bahwa mempertahankan Indonesia dalam kategori emerging market tidak lagi tepat dan memulai konsultasi atas usulan perubahan klasifikasi Indonesia menjadi standalone market," tulis MSCI dalam pengumumannya yang dikutip Senin (19/10).

MSCI juga menilai penurunan klasifikasi menjadi pasar berkembang atau frontier market tidak akan mencerminkan tingkat keparahan persoalan di pasar saham Indonesia secara tepat. Karena itu, MSCI memperkirakan akan melanjutkan usulan perubahan klasifikasi tersebut, kecuali konsultasi menemukan bukti jelas mengenai perbaikan signifikan dalam tata kelola dan fungsi pasar.

Selama pembekuan berlangsung, MSCI tidak akan menaikkan foreign inclusion factor (FIF) maupun jumlah saham atau number of shares (NOS); menambahkan saham ke dalam MSCI Indonesia IMI, serta; memindahkan saham ke segmen indeks berkapitalisasi lebih besar. Pembatasan itu berlaku untuk perubahan yang berasal dari tinjauan indeks maupun aksi korporasi.

MSCI juga akan tetap menghapus saham yang diidentifikasi otoritas Indonesia berdasarkan kerangka HSC dan menggunakan data keterbukaan pemegang saham dengan kepemilikan 1% untuk menyesuaikan estimasi free float.

Sementara itu, setidaknya ada 43 saham Indonesia yang masih tercatat sebagai konstituen di MSCI. Sebanyak sembilan saham tergabung dalam MSCI Global Standard Index, sedangkan 34 saham lainnya masuk ke MSCI Small Cap Index.

MSCI mengelompokkan pasar saham berdasarkan sejumlah kriteria antara lain kapitalisasi pasar, likuiditas dan aksesibilitas bagi investor asing. Klasifikasi tersebut menjadi acuan investor global untuk membandingkan pasar saham antarnegara dan menentukan alokasi investasinya.

Di antara saham yang masuk dalam indeks MSCI, terdapat dua emiten yang belum memenuhi ketentuan minimum free float 15% yang ditetapkan OJK. Satu di antaranya adalah emiten produsen cat milik konglomerat Hermanto Tanoko PT Avia Avian Tbk (AVIA).

Berdasarkan data per Senin (19/10), free float AVIA tercatat sebesar 13,29%. Perseroan perlu meningkatkan free float ke 15% dengan tenggat pemenuhan hingga 31 Maret 2027.

Sementara itu, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) yang masuk dama MSCI Small Cap Index tercatat mengalami penurunan free float cukup tajam. Free float MAPI turun dari 48,8% per 31 Maret 2026 menjadi 12,48% pada Senin (19/10).

Penurunan tersebut terjadi setelah rampungnya penawaran tender wajib (mandatory tender offer) oleh pengendali baru MAPI, Pacific Universal Investments Pte. Ltd. Perusahaan asal Singapura itu menjadi pengendali setelah mengakuisisi 51% saham MAPI dari PT Satya Mulia Gema Gemilang.

Berikut daftar lengkap saham-saham Indonesia yang masih tergabung sebagai konstituen di indeks MSCI:

Saham Indonesia di MSCI Global Standard Index

Saham Free Float per 31 Maret Free Float Saat Ini, Senin (19/10)
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)42,4%42,46%
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)46,2%42,49%
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)39,1%37,31%
PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM)46,7%40,02%
PT Astra International Tbk (ASII)43,9%42,95%
PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI)38,9%38,58%
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)47,2%51,22%
PT United Tractors Tbk (UNTR)34,9%32,43%
PT Barito Pacific Tbk (BRPT)26,7%26,96%

Saham Indonesia di MSCI Small Cap Index

SahamFree Float AprilFree Float Saat Ini Senin (19/10)
PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)48,2%48,49%
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)47,8%46,95%
PT Bumi Resources Tbk (BUMI)41,4%43,11%
PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG)43,7%40,12%
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO)28,3%26,63%
PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN)34,1%15,41%
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI)19,3%18,18%
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT)41%40,81%
PT Perusahaan Gas Negara (PGAS)42,5%42,61%
PT Petrosea Tbk (PTRO)27,7%27,61%
PT AKR Corporindo Tbk (AKRA)32,7%32,69%
PT Avia Avian Tbk (AVIA)13,3%13,29%
PT BFI Finance Tbk (BFIN)39,2%44,34%
PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY)17,9%18,56%
PT Ciputra Development Tbk (CTRA)42,8%42,77%
PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK)26,9%22,36%
PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL)30,1%29,35%
PT Gudang Garam Tbk (GGRM)17,1%16,45%
PT Vale Indonesia Tbk (INCO)20,4%20,39%
Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP)41,1%39,66%
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP)39,8%40,94%
PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG)33,4%29,34%
PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA)41%40,58%
PT Jasa Marga Tbk (JSMR)25,1%24,88%
PT Kalbe Farma Tbk (KLBF)38,3%38%
PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA)29,6%30,38%
PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI)48,8%12,48%
PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)40,1%21,89%
PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL)13,6%18,06%
PT Bukit Asam Tbk (PTBA)32,7%32,76%
PT Pakuwon Jati Tbk (PWON)30,9%30,89%
PT Rukun Raharja Tbk (RAJA)22,3%22,79%
PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR)32,6%27,36%
PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI)40%37,71%

(Sumber: MSCI/ penyajian data diolah penulis).

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...