BBCA Perpanjang Buyback Saham di Tengah Gejolak Harga, Bagaimana Skenarionya?
Emiten perbankan swasta raksas PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memperpanjang periode pembelian kembali saham atau buyback hingga Jumat (23/10). Sebelumnya, BBCA menjadwalkan pelaksanaan buyback berakhir pada hari ini, Rabu (21/10).
Perpanjangan ini dilakukan di tengah gejolak harga saham BBCA dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), saham BBCA stagnan di level Rp 5.200 pada Rabu (21/10).
Pada perdagangan sebelumnya, Selasa (20/10), saham BBCA melonjak 7,88%. Namun, sehari sebelumnya, saham bank milik Grup Djarum tersebut anjlok 6,86% hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB). Tekanan lebih dalam terjadi pada Jumat (16/10) ketika saham BBCA merosot 14,81% yang juga menyentuh ARB.
Manajemen BBCA menyatakan program buyback yang berlangsung pada 19–23 Oktober 2026 merupakan bagian dari program yang telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 pada 12 Maret 2026.
Periode pelaksanaan buyback kali ini diperpanjang dari jadwal sebelumnya yang berakhir pada 21 Oktober 2026. Aksi korporasi tersebut juga melanjutkan realisasi program pembelian kembali saham yang telah dilakukan BBCA pada April dan Juni 2026.
“Buyback juga menjadi wujud keyakinan BCA atas fundamental bisnis Perseroan, sekaligus untuk mendukung stabilisasi pasar modal Indonesia,” tulis manajemen BBCA dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (21/10).
Manajemen menyatakan perseroan senantiasa menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik atau Good Corporate Governance (GCG) serta mematuhi seluruh peraturan yang berlaku.
Berdasarkan keputusan RUPST Tahun Buku 2025, program buyback memiliki jangka waktu 12 bulan yakni sejak 12 Maret 2026 hingga 11 Maret 2027. Periode tersebut dapat diakhiri lebih cepat oleh perseroan dengan tetap memperhatikan ketentuan perundang-undangan.
BBCA menyatakan pelaksanaan buyback tidak berdampak material terhadap kinerja keuangan maupun kegiatan usaha perseroan. Manajemen juga akan terus mencermati dinamika pasar dalam menjalankan program pembelian kembali saham tersebut.
