Saham Agunan Kredit Haji Isam Anjlok hingga Masuk HSC, Seberapa Aman BMRI?

Karunia Putri
21 Oktober 2026, 11:52
saham
Dokumentasi Bank Mandiri
Ilustrasi PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pergerakan saham milik bos Jhonlin Grup Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam disorot setelah saham PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) dan PT Jhonlin Agra Raya Tbk (JARR) menjadi agunan fasilitas kredit Isam di PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Tak hanya itu, kedua saham itu anjlok puluhan persen sejak awal tahun.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (21/10) pukul 09.52 WIB, saham PGUN anjlok 23,79% secara year to date (ytd) ke level Rp 7.450 per saham. Sementara itu, saham JARR terkoreksi lebih dalam, yakni rontok 31,27% ytd menjadi Rp 2.220 per saham.

Jika diselisik lebih jauh lagi, dalam tiga tahun terakhir, pergerakan kedua saham tersebut menunjukkan volatilitas yang tinggi. Saham JARR sempat bergerak di kisaran Rp 200–Rp 400 hingga Juli 2025. Harganya kemudian melonjak tajam hingga mencapai Rp 8.175 pada 13 Oktober 2026 kemudian berbalik turun ke level saat ini.

Pola serupa terlihat pada saham PGUN. Sejak 2023 hingga Juli 2025, saham ini bergerak di kisaran Rp 400–Rp 500. Namun, harganya kemudian melesat hingga mencapai rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high di level Rp 29.527 pada 13 Oktober 2026 kemudian langsung merosot tajam. 

Volatilitas kedua saham tersebut menjadi perhatian karena keduanya masuk menjadi agunan fasilitas kredit yang diberikan BMRI kepada Haji Isam. Kredit tersebut digunakan untuk menebus aksi akuisisi 30,25% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) milik Low Tuck Kwong.

Selain mengalami koreksi dan kovalitilas harga, saham JARR dan PGUN pun tidak menjadi konstituen indeks unggul manapun di BEI. PGUN justru masuk dalam kelompok saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) yang akan dikeluarkan dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). PGUN terkonsentrasi 99,95% oleh satu pihak.

Rentetan tersebut membuat risiko kredit Bank Mandiri menjadi sorotan. Pengamat perbankan Moch Amin Nurdin mengatakan, risiko bagi Bank Mandiri perlu dilihat dari dua aspek utama yaitu kemampuan debitur membayar kewajibannya dan kualitas aset yang dijaminkan.

Jika Jhonlin Group gagal memenuhi kewajiban pembayaran, Bank Mandiri berpotensi menghadapi peningkatan kredit bermasalah dan beban pencadangan. Kondisi tersebut juga dapat menekan laba dan permodalan bank apabila proses pemulihan kredit tidak berjalan optimal.

Menurut Amin, penggunaan saham PGUN dan JARR sebagai agunan turut membawa risiko volatilitas harga dan likuiditas. 

“Ketika harga saham turun, nilai agunan menyusut, sementara penjualan dalam jumlah besar dapat semakin menekan harga pasar,” kata Amin kepada Katadata, Selasa (20/10).

Dia menjelaskan, tidak masuknya suatu saham ke dalam indeks seperti LQ45 memang tidak otomatis membuat saham tersebut tidak layak dijadikan agunan. Namun, bank perlu menerapkan haircut atau pengurangan nilai agunan secara memadai serta memperhitungkan risiko ketika aset tersebut harus dilikuidasi.

Karena itu, bank perlu memastikan kemampuan bayar debitur tetap kuat, menilai agunan secara konservatif dan menyiapkan mitigasi jika terjadi gagal bayar.

Menurut Amin, risiko terbesar bukan semata-mata penurunan harga saham, melainkan kondisi ketika gagal bayar terjadi bersamaan dengan penyusutan nilai agunan dan kesulitan menjualnya di pasar.

Sementara itu, sebelumnya Senior Vice President Bank Mandiri Adhika Vista menjelaskan, fasilitas kredit kepada PT Jhonlin Baratama bukan ditujukan untuk aktivitas perdagangan saham. Kredit tersebut digunakan untuk mendukung belanja modal dan kebutuhan pembiayaan perusahaan serta grup usaha di industri batu bara dan bisnis penunjangnya.

Adhika mengatakan, penyaluran kredit dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan Jhonlin Baratama dan grup usahanya dalam memenuhi kewajiban pembayaran, baik dalam jangka pendek, menengah maupun panjang.

Keputusan pembiayaan juga mengacu pada tiga pilar penilaian kualitas kredit sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yakni prospek usaha, kinerja, dan kemampuan membayar. Penilaian tersebut mencakup kapasitas Jhonlin Baratama sebagai perusahaan operasional yang menghasilkan EBITDA serta perannya sebagai induk sejumlah anak usaha yang berpotensi memberikan dividen.

“Fasilitas pinjaman tersebut dijamin dengan fixed asset dan non-fixed asset, termasuk saham (termasuk saham JARR dan PGUN yang merupakan afiliasi dari PT Jhonlin Baratama) dan rekening perusahaan,” ungkap Adhika dalam keterbukaan informasi BEI, Jumat (16/10).

Dengan begitu, saham JARR dan PGUN bukan satu-satunya agunan dalam fasilitas kredit tersebut. Bank Mandiri juga menerima jaminan berupa aset tetap, aset tidak tetap, dan rekening perusahaan.

Adhika menyebut, penggunaan saham sebagai agunan tambahan mengacu pada Pasal 4 POJK Nomor 40 Tahun 2017 dan kebijakan internal bank. Dalam skema tersebut, saham berfungsi sebagai sumber pelunasan sekunder atau second way out dan dinilai secara konservatif.

Bank Mandiri juga mempertimbangkan realisasi bisnis ekosistem Jhonlin Group di berbagai industri, potensi pengembangan usaha ke depan, serta tingkat profitabilitas bank dalam menetapkan suku bunga kredit.

Adhika menegaskan, perseroan menerapkan prinsip kehati-hatian dalam setiap penyaluran kredit. Prinsip tersebut mencakup analisis kelayakan usaha, kemampuan debitur membayar kewajiban, kecukupan agunan, serta penerapan manajemen risiko secara menyeluruh.

Haji Isam Gadaikan 100% Saham PGUN dan JARR

PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) sebelumnya mengumumkan penggadaian saham milik pemegang saham pengendalinya, PT Eshan Agro Sentosa, kepada Bank Mandiri pada 30 September 2026. Informasi mengenai aksi korporasi tersebut disampaikan melalui keterbukaan informasi BEI pada 7 Oktober 2026.

Dalam dokumen tersebut, PT Eshan Agro Sentosa menggadaikan 7.997.556.204 saham JARR atau 100% dari total saham yang dimilikinya.

“Penandatanganan akta gadai saham milik PT Eshan Agro Sentosa, yang merupakan pengendali dari perseroan, dalam rangka bagian dari pengikatan jaminan atas fasilitas kredit yang diperoleh perseroan dari Bank Mandiri,” ungkap Direktur Utama JARR Indra Irawan dalam dokumen tersebut.

Selain JARR, PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) juga melaporkan penggadaian seluruh saham milik tiga pemegang sahamnya pada 30 September 2026.

Ketiga pemegang saham tersebut adalah PT Araya Agro Lestari yang menjaminkan 2,20 miliar saham, PT Citra Agro Raya sebanyak 2,19 miliar saham, serta PT Baramega Citra Mulia Persada sebanyak 900 juta saham.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...