PTBA Kaji Rencana Buyback Saham di Tengah Fluktuasi Pasar Modal
PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) tengah mengkaji potensi pembelian kembali saham (buyback). Emiten pertambangan batu bara BUMN itu menyatakan, rencana tersebut muncul di tengah dinamika dan fluktuasi pasar saham domestik maupun global.
Perseroan menyebut kajian itu dilakukan sebagai bentuk komitmen dalam menjaga stabilitas nilai perusahaan. Di samping itu, opsi itu juga bertujuan untuk memberikan perlindungan dan nilai tambah yang berkelanjutan bagi seluruh pemegang saham (shareholders) dan pemangku kepentingan (stakeholders).
Corporate Secretary Division Head PTBA Eko Prayitno mengatakan, perusahaan memahami pentingnya merespons dinamika pasar secara bijak.
“Saat ini, Manajemen PTBA tengah mengkaji berbagai opsi strategis, termasuk potensi buyback saham, untuk memastikan setiap keputusan yang diambil senantiasa berlandaskan pada prinsip kehati-hatian yang terukur, tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG), serta kerangka regulasi yang berlaku," ungkap Eko dalam siaran pers, dikutip pada Sabtu (24/10).
Dia mengatakan, perseroan akan terus mencermati perkembangan kondisi makro ekonomi, tren industri energi, serta dinamika pasar modal secara seksama.
Eko menyampaikan setiap pertimbangan yang diambil akan memperhatikan aspek likuiditas, kebutuhan modal kerja, serta pemenuhan rencana pengembangan bisnis jangka panjang perseroan. Menurut dia, fokus utama PTBA tetap pada menjaga kinerja operasional yang solid, efisiensi biaya, serta keberlanjutan agenda transformasi dan terwujudnya kedaulatan sektor energi nasional.
"Apabila dari hasil kajian mendalam tersebut manajemen memutuskan untuk mengeksekusi rencana buyback saham atau tindakan korporasi strategis lainnya, PTBA akan segera menyampaikan keterbukaan informasi sesuai dengan ketentuan yang diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI)," ujarnya.
Kinerja Keuangan PTBA
Pada Semester I 2026, PTBA membukukan pendapatan sebesar Rp 22,03 triliun, naik 8% secara tahunan atau year-on-year (YoY). Laba bersih Perseroan mencapai Rp 2,65 triliun, tumbuh signifikan sebesar 218% YoY.
Perusahaan menyebut kinerja tersebut didukung oleh pemulihan operasional pada kuartal II, penguatan penjualan ekspor, serta perbaikan harga jual rata-rata batu bara.
Dari sisi operasional, PTBA mencatat produksi batu bara sebesar 19,45 juta ton dengan total volume penjualan mencapai 21,10 juta ton. Porsi penjualan ekspor tercatat sebesar 10,33 juta ton atau meningkat 5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, pemenuhan kebutuhan energi pasar domestik demi menjaga ketahanan energi nasional, tetap menjadi prioritas utama. Realisasi penjualan PTBA sebesar 10,77 juta ton atau menyerap sekitar 51% dari total penjualan Perseroan hingga periode semester I 2026.
