Menilik Kinerja ADHI, PTPP, WSKT Kuartal III Menjelang Merger BUMN Karya

Karunia Putri
26 Oktober 2026, 11:08
BUMN Karya
ANTARA FOTO/Hasrul Said/wsj.
Badan Pengaturan (BP) BUMN mempercepat pembangunan Sekolah Rakyat untuk pemerataan akses pendidikan di berbagai daerah melibatkan tujuh BUMN Karya dan 67.542 tenaga kerja, serta ditargetkan rampung pada 20 Juni 2026.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Sejumlah emiten pelat merah sektor konstruksi atau BUMN Karya telah melaporkan kinerja keuangan hingga September 2026. Meskipun beberapa perusahaan mencatatkan pertumbuhan laba, arus kas operasional mereka masih tertekan.

Kondisi itu menjadi perhatian investor di tengah rencana pemerintah merestrukturisasi BUMN Karya melalui aksi merger.

PT Adhi Karya Tbk (ADHI) membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 15,34 miliar hingga kuartal ketiga 2026. Angka tersebut melonjak 247,05% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 4,42 miliar.

Pendapatan ADHI tercatat turun dari Rp 5,65 triliun menjadi Rp 5,37 triliun secara tahunan atau year on year (YoY). Yang menopang laba ADHI tumbuh karena adanya penurunan sejumlah beban. Beban penjualan ADHI turun dari Rp 8,9 miliar menjadi Rp 6,75 miliar. Sementara itu, beban pajak penghasilan tidak final tercatat sebesar Rp 4,93 miliar, dibandingkan dengan Rp 9,07 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, arus kas bersih dari aktivitas operasi ADHI berbalik negatif. Perseroan mencatatkan arus kas operasional minus Rp 475,12 miliar, berbanding terbalik dengan posisi positif Rp 328,75 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Kinerja berbeda ditunjukkan PT PP Tbk (PTPP). Perseroan membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 259,96 miliar hingga September 2026. Angka itu melonjak 4.583% YoY dibandingkan dengan laba bersih pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 5,55 miliar.

Kendati demikian, kenaikan laba tersebut tidak diikuti pertumbuhan pendapatan. PTPP mencatatkan pendapatan Rp 9,37 triliun, turun dibandingkan dengan Rp 10,73 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Salah satu faktor yang menopang kinerja laba PTPP adalah peningkatan keuntungan dari selisih kurs akibat penjabaran laporan keuangan. Pos tersebut naik dari Rp 25,94 miliar menjadi Rp 57,88 miliar secara tahunan.

Sama seperti ADHI, arus kas operasional PTPP juga memburuk. Arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi tercatat minus Rp 2,62 triliun, lebih besar dibandingkan dengan minus Rp 656,37 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) masih membukukan rugi bersih sebesar Rp 2,87 triliun hingga September 2026. Meski masih merugi, angka tersebut menyusut dibandingkan dengan rugi bersih Rp 3,17 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Pendapatan WSKT meningkat menjadi Rp 8,12 triliun dari Rp 5,28 triliun secara tahunan. Perseroan juga mencatatkan penurunan beban non-contributing plant menjadi Rp 6,56 miliar dari Rp 19,08 miliar.

Arus kas operasional Waskita Karya masih negatif, yakni minus Rp 1,14 triliun. Namun, angka tersebut membaik dibandingkan dengan minus Rp 1,35 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Adapun PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) belum menyampaikan laporan kinerja keuangan kuartal ketiga 2026 hingga berita ini ditulis pada Senin (26/10).

Di tengah kondisi keuangan tersebut, pemerintah melalui Badan Pengaturan BUMN bersama Danantara Indonesia berencana menuntaskan restrukturisasi BUMN Karya melalui merger pada akhir tahun ini. Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN, Dony Oskaria, menargetkan penggabungan empat perusahaan BUMN Karya rampung paling lambat akhir November 2026.

Empat perusahaan tersebut akan digabungkan dalam dua pasangan, yakni PT Nindya Karya (Persero) dengan PT Brantas Abipraya (Persero), serta ADHI dengan PTPP. “Ini kita harapkan nanti paling telat itu di akhir November sudah selesai,” ujar Dony di Jakarta, Kamis (8/10) lalu.

Setelah merger, proses penyehatan perusahaan akan dilanjutkan melalui divestasi aset yang tidak berkaitan dengan bisnis inti atau non-core assets. Seluruh hasil divestasi akan dialokasikan untuk mengurangi sisa utang operasional sebelum perusahaan menjalani restrukturisasi utang tahap akhir sesuai dengan kapasitas pembayaran masing-masing.

Dony mengatakan, restrukturisasi dilakukan secara menyeluruh agar perbaikan keuangan perusahaan tidak sekadar bersifat sementara. “Jadi, satu per satu perusahaan itu kita selesaikan secara baik karena saya tidak mau setelah hari ini cuma dipoles-poles, kemudian nanti menjadi problem lagi. Nah, perbaikan itu harus fundamental, harus benar-benar,” kata Dony.

Adapun perusahaan dengan persoalan keuangan yang lebih kompleks, seperti WSKT dan WIKA, membutuhkan penanganan yang lebih mendalam. Pada WIKA, misalnya, beban utang perusahaan mencapai sekitar Rp 34 triliun dan tidak diimbangi kecukupan aset yang dapat menjadi penjamin utang (underlying assets).

Danantara masih mengkaji opsi penyehatan WSKT, termasuk mengevaluasi potensi optimalisasi portofolio aset jalan tol melalui PT Waskita Toll Road.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...