Adu Kinerja Emiten Tambang MIND ID, ANTM, TINS dan INCO Mana Menarik Dikoleksi?

Image title
2 November 2026, 12:17
Danantara mempercepat hilirisasi nikel melalui MIND ID (ilustrasi).
Danantara
Danantara mempercepat hilirisasi nikel melalui MIND ID (ilustrasi).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Sejumlah emiten pertambangan dalam ekosistem holding BUMN pertambangan MIND ID mencatatkan kinerja keuangan positif hingga kuartal III 2026. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) membukukan laba bersih terbesar di antara emiten yang menyajikan laporan dalam rupiah, yakni mencapai Rp 9,66 triliun selama Januari-September 2026.

Berdasarkan laporan keuangan masing-masing perusahaan, capaian tersebut menempatkan ANTM di atas PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang membukukan laba bersih Rp 4,41 triliun dan PT Timah Tbk (TINS) sebesar Rp 4,12 triliun.

Sementara itu, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatatkan laba bersih sebesar US$147 juta hingga September 2026. Angka tersebut hampir tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$52 juta.

Dari sisi pertumbuhan laba, TINS mencatatkan peningkatan paling tinggi di antara ketiga emiten yang menyajikan laba dalam rupiah. Laba bersih perusahaan tambang timah tersebut melonjak 584% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari Rp 602,42 miliar menjadi Rp 4,12 triliun. Adapun laba bersih ANTM tumbuh 46% yoy dari Rp 6,61 triliun menjadi Rp 9,66 triliun.

Seiring dengan capaian kinerja perusahaan, saham emiten tambang milik MIND ID bergerak variatif di pasar modal. Saham ANTM tercatat turun 5,43% sepekan dan kini berada di Rp 2.610. Sementara itu saham TINS naik 1,73% pada perdagangan hari ini ke Rp 3.710 dan telah naik 19,29% sejak awal tahun year to date. 

Sementara itu saham INCO berada di level 3.400 pada perdagangan hari ini dan telah turun 35% sepanjang perdagangan 3 bulan terakhir. Adapun saham PTBA berada di Rp 3.170 dan telah naik 3,9% dalam sebulan terakhir dan melesat 37,23% sejak awal tahun atau year to date. 

Lalu bagaimana kinerja masing-masing emiten tambang dekapan MIND ID?

Kinerja Aneka Tambang (ANTM)

Kinerja ANTM hingga kuartal III 2026 ditopang oleh peningkatan penjualan emas. Komoditas tersebut berkontribusi sebesar 77% terhadap total penjualan perusahaan.

ANTM mencatatkan penjualan emas sebesar Rp 68,41 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Nilai tersebut meningkat 17% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 58,67 triliun.

Dari sisi volume, penjualan emas ANTM mencapai 25.217 kilogram atau setara 810.745 troy ounce. Sementara produksi emas dari tambang perusahaan tercatat sebesar 634 kilogram.

Peningkatan penjualan emas turut menopang pertumbuhan laba kotor ANTM sebesar 42% yoy menjadi Rp 15,56 triliun. Pada periode yang sama tahun lalu, laba kotor perusahaan tercatat sebesar Rp 10,98 triliun.

Laba usaha ANTM juga meningkat 53% yoy menjadi Rp 12,05 triliun dari sebelumnya Rp 7,89 triliun. Sementara EBITDA tumbuh 45% menjadi Rp 13,48 triliun dibandingkan Rp 9,33 triliun pada kuartal III 2025.

Dari sisi arus kas, ANTM membukukan arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp 5,06 triliun, meningkat 26% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 4,02 triliun.

Kinerja PT Timah (TINS)

Berbeda dengan ANTM yang ditopang penjualan emas, peningkatan kinerja TINS didorong oleh kenaikan volume penjualan dan harga jual rata-rata logam timah.

TINS membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 16,15 triliun hingga kuartal III 2026. Pendapatan tersebut melonjak 144% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 6,61 triliun.

Sejalan dengan peningkatan pendapatan, laba usaha TINS meningkat 594% yoy menjadi Rp 5,60 triliun dari Rp807,25 miliar. EBITDA juga melonjak 323% menjadi Rp 6,18 triliun dibandingkan Rp 1,46 triliun pada kuartal III 2025.

Dari sisi operasional, produksi bijih timah TINS mencapai 18.883 ton Sn, meningkat 55% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 12.190 ton Sn.

Produksi logam timah juga meningkat 49% yoy menjadi 16.190 metrik ton Sn dari sebelumnya 10.855 metrik ton Sn.

TINS membukukan arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp 4,09 triliun, berbalik positif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencatatkan arus kas keluar sebesar Rp 388,64 miliar.

Kinerja PT Bukit Asam (PTBA) 

Sementara itu, PTBA membukukan laba bersih Rp 4,41 triliun hingga kuartal III 2026 dengan pendapatan usaha mencapai Rp 35,20 triliun. Pendapatan tersebut meningkat 12% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kinerja PTBA ditopang oleh pengendalian beban pokok pendapatan yang hanya meningkat sekitar 1% secara tahunan menjadi Rp 27,94 triliun.

Pengendalian biaya tersebut berlangsung di tengah kenaikan harga bahan bakar yang mencapai 36% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

PTBA juga mencatatkan penurunan stripping ratio dari 5,98 kali menjadi 5,59 kali. Penurunan rasio pengupasan lapisan tanah penutup tersebut menjadi salah satu faktor yang membantu menekan biaya produksi batu bara.

Selain itu, laba PTBA turut ditopang peningkatan penghasilan keuangan sebesar 16% yoy menjadi Rp 183,50 miliar. Sementara biaya keuangan turun 45% menjadi Rp 136,52 miliar seiring berkurangnya beban bunga setelah perusahaan menyelesaikan fasilitas kredit modal kerja pada akhir 2025.

Kontribusi laba neto dari entitas asosiasi dan ventura bersama juga meningkat 75% secara tahunan menjadi Rp 581,31 miliar.

Meski demikian, kinerja operasional PTBA masih menghadapi tekanan. 

Produksi batu bara selama Januari-September 2026 tercatat sebesar 34,4 juta ton, turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 35,89 juta ton.

Volume penjualan juga turun sekitar 4% menjadi 32,23 juta ton dari sebelumnya 33,7 juta ton. Penurunan terutama terjadi pada pasar domestik, dengan penjualan turun dari 18,82 juta ton menjadi 16,61 juta ton. Sebaliknya, ekspor meningkat 5% menjadi 15,61 juta ton.

Kinerja Vale (INCO)

Adapun INCO mencatatkan pendapatan sebesar US$896 juta sepanjang sembilan bulan pertama 2026, meningkat 27% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada kuartal III 2026, produksi nikel dalam matte INCO mencapai 18.341 ton. Sementara pengiriman nikel matte mencapai 20.158 ton, meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 13.932 ton.

INCO mencatatkan EBITDA sebesar US$297 juta sepanjang sembilan bulan pertama 2026, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$166 juta.

Sementara laba bersih mencapai US$147 juta, hampir tiga kali lipat dibandingkan US$52 juta pada Januari-September 2025.

Perbaikan kinerja tersebut menunjukkan kontribusi diversifikasi sumber pendapatan perusahaan, terutama dari penjualan bijih nikel di tengah tantangan harga realisasi nikel matte yang turun menjadi US$14.053 per ton pada kuartal III 2026 dari US$14.765 per ton pada kuartal sebelumnya.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...