Bursa AS Melonjak usai Demokrat Menang Telak di Pemilu Sela AS

Karunia Putri
5 November 2026, 06:27
Bursa AS menguat usai Partai Demokrat menang pemilu sela.
NYSE
Bursa AS menguat usai Partai Demokrat menang pemilu sela.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup naik pada perdagangan Rabu (4/11). Kenaikan terjadi usai partai Demokrat menang telak dalam pemilu sela AS (midterm elections). Sikap Presiden Donald Trump yang menyatakan bersedia menerima hasil pemilu meredakan ketidakpastian politik yang membayangi Wall Street.

Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 1.569,40 poin atau 3,03% ke level 53.356,12. Sementara itu, indeks S&P 500 tumbuh 1,58% ke level 7.688,62. Adapun Nasdaq Composite melonjak 1,44% menjadi 25.736,51.

Partai Demokrat berhasil meraih mayoritas kursi di Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives) dan Senat. Demokrat juga memenangkan sejumlah pemilihan gubernur penting, termasuk di Texas.

Hasil tersebut memberikan Demokrat kekuatan untuk mengawasi sekaligus mengimbangi kebijakan pemerintahan Trump melalui Kongres.

Chief Investment Officer One Point BFG Wealth Partners Peter Boockvar menilai hasil pemilu tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap pemerintah AS untuk mengakhiri perang dengan Iran.

Menurut dia, masyarakat AS telah menyampaikan ketidakpuasan terhadap inflasi dan kenaikan harga bensin, di tengah berbagai persoalan ekonomi lainnya. Kondisi ini berpotensi mendorong pemerintah untuk mencari jalan keluar dari konflik tersebut.

Dia mengatakan, tekanan untuk mengakhiri perang akan semakin besar. Rakyat Amerika jelas telah menyampaikan ketidakpuasan mereka terhadap inflasi dan harga bensin, di antara berbagai persoalan lainnya.

“Mungkin saja hasil pemilu ini mendorong upaya untuk mengakhiri perang tersebut. Kita lihat saja perkembangannya,” kata Boockvar dikutip dari CNBC Kamis (5/11).

Selama ini, Trump menjalankan kebijakan pemangkasan pajak yang menguntungkan dunia usaha. Namun, pemerintahannya juga memberlakukan tarif impor dan melanjutkan perang dengan Iran yang turut menambah tekanan inflasi.

Sentimen positif pasar semakin kuat setelah harga minyak mentah AS anjlok lebih dari 8%. Penurunan itu terjadi setelah Wakil Presiden AS JD Vance menyebut perang dengan Iran sebagai salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kekalahan Partai Republik dalam pemilu pada Selasa (3/11). Harga minyak mentah Brent juga terkoreksi lebih dari 8%.

Chief Market Strategist Freedom Capital Markets Jay Woods menilai sikap Trump yang menerima hasil pemilu turut mendorong penguatan pasar saham.

“Penguatan ini sebagian dipicu oleh sikap dan respons awal presiden terhadap hasil pemilu. Ketidakpastian memang masih membayangi, tetapi satu hal yang pasti, pemerintahan akan menghadapi kebuntuan politik (gridlock). Secara historis, kondisi ini justru baik bagi pasar,” ujar Woods.

Saham-saham sektor ekonomi yang berpotensi diuntungkan oleh stabilitas politik memimpin penguatan pasar. Saham Walmart naik 3%, sedangkan Bank of America menguat sekitar 4%.

Pergerakan ini menunjukkan investor mulai mengalihkan perhatian ke saham-saham di luar sektor teknologi.

Sebelum pemilu, investor sempat mengkhawatirkan kemenangan besar Demokrat akan menekan sejumlah sektor, terutama saham perusahaan yang berkaitan dengan pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Kekhawatiran tersebut muncul karena Demokrat dinilai berpotensi mendorong pembatasan lebih ketat terhadap pembangunan pusat data (data center) di berbagai wilayah AS.

Sentimen tersebut semakin kuat setelah Gina Hinojosa memenangkan pemilihan gubernur Texas. Hinojosa sebelumnya berjanji memberlakukan moratorium pembangunan pusat data di negara bagian yang menjadi salah satu pusat industri teknologi tersebut.

Sejumlah saham teknologi pun tertekan pada perdagangan Rabu. Saham CoreWeave melemah, begitu pula saham SpaceX milik Elon Musk yang berkantor pusat di Texas. Sementara itu, saham Nvidia turun 3%.

Di sisi lain, penguatan Wall Street juga ditopang oleh catatan historis bahwa pasar saham cenderung berkinerja baik ketika pemerintahan AS terbagi antara dua partai.

Dalam kondisi tersebut, tidak ada satu partai yang memiliki kekuasaan penuh untuk meloloskan kebijakan atau regulasi yang berpotensi mengganggu prospek dunia usaha.

Andrew Slimmon dari Morgan Stanley Investment Management mengatakan pasar saham cenderung menyukai kebuntuan politik dibandingkan pemerintahan yang didominasi satu partai.

“Pasar menyukai kebuntuan politik. Mereka tidak menyukai satu partai yang memiliki terlalu banyak kekuasaan,” ujarnya.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...