IHSG Anjlok 1,97% pada Sesi I, Bursa Asia Kompak Melemah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah cukup dalam pada penutupan perdagangan sesi pertama Jumat (6/11). IHSG turun 1,97% atau 98,86 poin ke level 4.931,39, sejalan dengan koreksi yang terjadi di sejumlah bursa saham Asia.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyebut tekanan di pasar saham Asia terjadi setelah aksi jual melanda bursa Wall Street pada perdagangan sebelumnya. Koreksi tersebut merembet ke sejumlah bursa regional.
Indeks Nikkei 225 Jepang tercatat turun 6,28% atau 316,94 poin ke level 57,240. Sementara itu, indeks saham Korea Selatan melemah 5,70% atau 306,93 poin ke level 5.076,87.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka di level 4.955,83. Indeks bergerak di zona merah sepanjang perdagangan sesi pertama dan sempat menyentuh level terendah 4.925,10 sebelum ditutup di level 4.931,39.
Pelemahan terjadi pada mayoritas saham yang diperdagangkan. Sebanyak 496 saham terkoreksi, sedangkan 118 saham menguat, dan 96 saham lainnya tidak bergerak.
Nilai transaksi perdagangan hingga akhir sesi pertama mencapai Rp 3,43 triliun dengan volume sebanyak 9,64 miliar saham. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 570.974 kali, sementara kapitalisasi pasar mencapai Rp 8.620 triliun.
Investor asing mencatatkan jual bersih atau net foreign sell sebesar Rp 25,48 miliar. Nilai tersebut berasal dari transaksi beli asing sebesar Rp 3,62 triliun dan jual asing sebesar Rp 3,29 triliun.
Seluruh sektor saham di BEI berada di zona merah. Sektor barang baku (basic materials) mencatatkan pelemahan terdalam sebesar 4,05%, diikuti sektor infrastruktur yang turun 2,95% dan energi melemah 2,81%.
Tekanan juga terlihat pada sejumlah saham berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia. Saham Barito Pacific (BRPT) turun 6,6%; Amman Mineral Internasional (AMMN) terkoreksi 4,9%, dan; Chandra Asri Pacific (TPIA) melemah 4,7%. Saham Bank Central Asia (BBCA) juga turun 2,6%.
