BI Targetkan QRIS Bisa Digunakan di Cina Lewat Alipay dan We Chat Tahun Depan

Andi M. Arief
1 Oktober 2025, 18:06
Pembeli melakukan transaksi pembayaran menggunakan Kode Respons Cepat Standar (QRIS) di Kota Tangerang, Banten, Selasa (23/9/2025). Bank Indonesia (BI) mencatat hingga Agustus 2025 jumlah merchant pengguna QRIS telah menembus sebanyak 40 juta atau sebesar
ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/bar
Pembeli melakukan transaksi pembayaran menggunakan Kode Respons Cepat Standar (QRIS) di Kota Tangerang, Banten, Selasa (23/9/2025). Bank Indonesia (BI) mencatat hingga Agustus 2025 jumlah merchant pengguna QRIS telah menembus sebanyak 40 juta atau sebesar 113 persen dari target yang ditetapkan dengan mayoritas 93 persen digunakan oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bank Indonesia (BI) menargetkan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dapat digunakan untuk bertransaksi di merchant yang memakai QR code milik Alipay dan WeChat di Cina. Saat ini, regulator masih mencari solusi teknis agar QRIS dapat terhubung dengan sistem pembayaran yang sudah ada di Negeri Panda, dengan rencana implementasi penuh pada tahun depan.

Direktur Kebijakan Sistem Pembayaran BI, Ryan Rizaldy, menegaskan integrasi QRIS dengan dua sistem pembayaran terbesar di Cina itu tidak memerlukan standar baru.

“Alipay dan WeChat masih menggunakan standarnya masing-masing. Namun esensi kerja sama ini adalah agar pengguna QRIS di dalam negeri bisa bertransaksi saat berkunjung ke Cina,” kata Ryan dalam Diskusi Publik Sistem Pembayaran Lintas Batas ASEAN Berbasis QR, Rabu (1/10).

Ryan menambahkan, People’s Bank of China akan memungkinkan penggunaan QRIS pada Alipay dan WeChat tanpa penerbitan standar QR baru. Ia tidak menjelaskan secara detail mekanisme integrasinya, namun optimistis rencana ini dapat terealisasi.

Saat ini, penggunaan QRIS di Cina masih dalam tahap uji coba hingga akhir 2025. Uji coba ini penting agar QRIS bisa diterima luas oleh merchant di Negeri Panda.

Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut uji coba QRIS di Cina merupakan bagian dari upaya mendorong inklusi keuangan, keterjangkauan, dan pemanfaatan teknologi pembayaran nasional. Uji coba tersebut melibatkan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) bersama UnionPay International.

Menurut Perry, perluasan QRIS bukan hanya memperkuat hubungan ekonomi bilateral, tetapi juga mendukung pembentukan ekosistem keuangan digital yang tangguh, inklusif, dan berdaya saing di kawasan.

Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta menambahkan, BI bersama penyedia layanan switching nasional PT Rintis Sejahtera (Rintis), PT Alto Network (Alto), PT Artajasa Pembayaran Elektronis (Artajasa), dan PT Jalin Pembayaran Nusantara (Jalin) masih melanjutkan proses koneksi dengan UnionPay International.

“Switching kita dengan UPI terhubung ke dua ekosistem dominan di Cina yang menguasai 88% pangsa pengguna dan 80% pangsa merchant,” ujarnya.

BI juga mencatat transaksi ekonomi dan keuangan digital per Juli 2025 tetap kuat, ditopang sistem pembayaran yang aman, lancar, dan andal. Total transaksi digital pada periode itu tumbuh 45,30% yoy menjadi 4,44 miliar transaksi. Transaksi melalui QRIS bahkan melonjak lebih tinggi, yakni 162,77% yoy, seiring bertambahnya jumlah pengguna dan merchant secara masif.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...