Tips Pengelolaan Keuangan untuk Ibu Rumah Tangga, Menkeu dalam Keluarga
Ibu rumah tangga tak hanya sebatas pengurus dapur, tetapi juga penjaga stabilitas keuangan keluarga layaknya menteri keuangan dalam sebuah negara. Karena itu, penting bagi ibu rumah tangga untuk memiliki pemahaman terkait pengelolaan keuangan.
Meski demikian, hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan adanya perbedaan tingkat literasi keuangan berdasarkan gender.
Indeks literasi keuangan laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan, yakni masing-masing 67,32% dan 65,58%. Sementara indeks inklusi keuangan laki-laki dan perempuan terpaut tipis, masing-masing 80,73% dan 80,28%.
Adapun secara keseluruhan, indeks literasi keuangan mencapai 66,46% dan indeks inklusi keuangan 80,51%. Angka ini meningkat dibanding SNLIK 2024 yang mencatat indeks literasi keuangan 65,43% dan inklusi keuangan 75,02%.
OJK pun membagikan sejumlah tips praktis mengelola keuangan rumah tangga, khususnya untuk ibu rumah tangga. Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan OJK, Horan V.M. Tarihoran, menyarankan agar 10% pendapatan dialokasikan untuk biaya sosial seperti zakat, infak, sedekah, kondangan, dan menjenguk orang sakit. Sedangkan sebanyak 20% pendapatan digunakan untuk tabungan, termasuk investasi dan proteksi.
“Yang kedua, langsung siapkan masa depan kita. Itu yang namanya masa depan untuk tabungan, investasi, dan dana darurat,” ujar Horan, dikutip dari kanal YouTube OJK pada Kamis (16/10).
Sementara itu, 30% pendapatan diperuntukkan bagi cicilan utang, dengan catatan agar tidak berutang kepada rentenir. Sisanya, 40% digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, dengan menekankan pentingnya membedakan antara kebutuhan dan keinginan serta mencatat setiap pengeluaran.
“Kalau mau sukses pintar mengelola keuangan, sejahtera itu nggak penting berapa besar penghasilannya, tapi yang lebih penting adalah bagaimana ibu-ibu bisa menyisihkan yang didapat itu untuk kemudian ditabung dan diinvestasikan,” kata Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Friderica Widyasari Dewi, dalam kesempatan yang sama.
Pengelolaan keuangan keluarga memang bukan hanya tanggung jawab istri atau ibu rumah tangga. Suami juga memiliki peran krusial dalam mengatur keuangan keluarga. Belum ada rumus pasti untuk mengatur keuangan rumah tangga. Namun sejumlah langkah sederhana bisa membantu agar keuangan keluarga tetap sehat.
Berikut penjelasannya, dikutip dari situs Qoala.app:
Melakukan Pencatatan Pendapatan Pasangan
Langkah pertama adalah mencatat seluruh pemasukan Anda dan pasangan setiap bulan. Pemasukan ini tak hanya berasal dari gaji bulanan, tetapi juga insentif lembur hingga hasil investasi. Dengan mencatat pemasukan, pengelolaan keuangan menjadi lebih terarah dan mudah dialokasikan ke kebutuhan utama.Membuat Prioritas Anggaran Belanja Keluarga
Buat daftar prioritas pengeluaran bulanan untuk membantu mengatur keuangan secara efektif. Pengeluaran utama biasanya mencakup biaya makan, tagihan listrik dan air, transportasi kerja, pendidikan anak, serta cicilan rumah atau kendaraan.Menetapkan Anggaran Belanja Terperinci dan Detail
Banyak keluarga boros karena tak membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Cara terbaik mengatasinya adalah menyusun anggaran belanja bulanan secara rinci dan disiplin mengikutinya. Hindari menggunakan uang melebihi alokasi yang sudah direncanakan.Antisipasi Kondisi Terburuk, Siapkan Dana Darurat
Dana darurat wajib dimiliki agar keluarga siap menghadapi situasi tak terduga seperti sakit atau kehilangan pekerjaan. Sisihkan 10–30% pendapatan bulanan untuk dana darurat, dan gunakan hanya dalam keadaan mendesak.Membuat Alokasi Khusus Dana Tabungan dan Investasi
Selain dana darurat, alokasikan sebagian pendapatan untuk tabungan, asuransi, dan investasi. Kebiasaan ini membantu keluarga membangun keamanan finansial jangka panjang dan menghindari tekanan keuangan di masa depan.
Dengan kedisiplinan mengatur pengeluaran, menabung, dan berinvestasi, ibu rumah tangga bukan hanya menjaga stabilitas keuangan keluarga, tetapi juga berperan aktif dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Dalam skala kecil, setiap rumah tangga yang melek finansial adalah pondasi bagi perekonomian yang tangguh.
