5 Strategi Memperkokoh Sektor Keuangan Ritel di Era Digital
Senior Vice President, Head of Asia Pacific dan Fime Consulting Hong Kong, James Daniels membagikan lima strategi utama untuk memperkokoh industri keuangan ritel. Menurut James, dunia pembayaran kini telah bertransformasi ke era digital.
Kondisi tersebut, menurut dia, mendatangkan tantangan baru seperti serangan siber, kegagalan sistem, hingga ketegangan geopolitik yang berpotensi mengganggu stabilitas sistem pembayaran global.
James mengatakan, penting bagi suatu negara untuk membangun ketahanan sistem keuangan melalui lima prioritas strategis dalam pembiayaan ritel, yang mencakup aspek teknologi, keamanan dan kesiapan masa depan.
“Kita perlu membahas tentang sejumlah tren yang memengaruhi industri pembayaran saat ini yang perlu kita semua waspadai. Karena sekali lagi, membangun ketahanan untuk saat ini saja tidak cukup,” kata James dalam acara PRIMA Executive Gathering 2025 di Bali, Kamis (23/10).
Dia menerangkan ada lima strategi yang bisa dilakukan untuk memperkuat sektor keuangan ritel. Pertama dengan membangun kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). adapun strategi ini sudah dilakukan oleh hampir seluruh negara.
Menurut James, kecerdasan buatan kini menjadi bagian integral dari industri keuangan dan pembayaran digital. AI digunakan untuk meningkatkan efisiensi transaksi dan mendukung sistem identitas digital yang lebih aman.
James menjelaskan, teknologi seperti agentic commerce akan segera mengubah cara manusia berinteraksi dengan sistem pembayaran. Di masa depan, agen atau sistem otomatis ini akan mengambil alih proses transaksi, sehingga faktor pengalaman pengguna mungkin tidak lagi menjadi fokus utama.
Kedua adalah ketangguhan. Ia menjelaskan, prioritas berikutnya adalah memastikan sistem keuangan tetap berfungsi dalam kondisi ekstrem, seperti bencana alam atau gangguan akibat ulah manusia.
James menjelaskan, isu ketahanan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Dalam konteks ekonomi global yang rentan terhadap bencana, serangan siber, dan gangguan geopolitik, setiap negara perlu memastikan sistem pembayarannya dapat terus berjalan bahkan ketika infrastruktur utama lumpuh.
Ketiga adalah identitas digital yang akan segera dilaksanakan. Identitas digital disebut sebagai fondasi utama bagi infrastruktur pasar keuangan modern. Sistem ini memungkinkan transaksi yang lebih aman, transparan, dan efisien, sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap sistem keuangan digital.
“Identitas digital memiliki kekuatan untuk mengubah industri kita dan mengubah kepercayaan terhadap industri kita,” ujarnya.
Keempat adalah tokenisasi dan web3. Langkah ini diyakini akan menjadi pendorong utama infrastruktur keuangan generasi berikutnya. Melalui aset digital seperti stablecoin dan Central Bank Digital Currency (CBDC), sistem keuangan akan bergerak menuju uang terprogram (programmable money) yang lebih efisien dan terdesentralisasi. Hal ini akan mengubah model pertukaran tradisional menjadi lebih cepat, aman, dan inklusif.
Kelima adalah komputasi spasial. James memprediksi, di masa depan, transaksi keuangan akan semakin bergeser ke dunia virtual seiring berkembangnya metaverse.
Perangkat seperti wearable technology dan augmended reality (AR) akan memungkinkan interaksi ekonomi antar avatar atau entitas digital. Dia mencontohkan di Hong Kong, penggunaan MetaGlass sudah mulai terlihat dan menjadi bagian dari ekosisitem perdagangan daring yang imersif.
