Investor Borong Dolar AS saat Harga Minyak Tembus US$ 110 per Barel Imbas Perang

Agustiyanti
9 Maret 2026, 09:45
dolar, harga minyak, investor
Katadata/Fauza Syahputra
Ilustrasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Investor memborong dolar AS yang dinilai sebagai aset aman atau safe-have di tengah lonjakan harga minyak dan anjloknya pasar saham akibat kekhawatiran dampak perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang semakin memanas. Harga minyak dunia menembus US$ 110 per barel pada perdagangan pagi ini, Senin (9/3). 

Mengutip Reuters, dolar AS naik 0,9% menjadi US$1,1518 terhadap euro, level tertinggi sejak November. Poundsterling yang sensitif terhadap risiko serta dolar Australia dan Selandia Baru turun sekitar 1% terhadap dolar AS, sedangkan harga minyak mentah Brent dan AS melonjak 20% atau lebih pada titik tertingginya.

"Minyak tetap menjadi saluran transmisi ke ekspektasi inflasi, suku bunga, dan pasar mata uang, dengan kebangkitan dolar AS menggemakan krisis energi 2022," kata kepala strategi makro pasar di BNY  Bob Savage. 

Dolar, yang mencatatkan kenaikan mingguan paling tajam dalam 15 bulan terakhir setelah pecahnya perang minggu lalu, menjadi aset safe-haven yang paling konsisten. Sedangkan harga emas melemah di tengah penjualan luas pada aset apa pun yang baru-baru ini mengalami kenaikan tajam.

"Dolar diuntungkan dari status gandanya sebagai safe-haven dan pengekspor energi," kata Joe Capurso, Kepala Valuta Asing, Internasional dan Geoekonomi di Commonwealth Bank di Sydney.

Ia melihat  perang Iran-AS akan meningkat sebelum mereda. Iran termotivasi untuk membalas AS guna mendapatkan pengaruh dalam negosiasi di masa depan dalam mengakhiri perang. Sedangkan AS dan Israel termotivasi untuk menurunkan kemampuan ofensif Iran.

Dolar bahkan naik 0,8% terhadap sesama safe-haven, franc Swiss. Nilai tukar yen naik hampir 0,5% menjadi 158,63 yen dan 1,2% menjadi 1.498,30 won.

"Asia menanggung dampak paling besar dari peningkatan tajam harga minyak dan hanya ada sedikit tempat untuk berlindung," kata Vishnu Varathan, kepala riset makro untuk Asia di luar Jepang di Mizuho di Singapura.

Iran baru saja menunjuk Mojtaba Khamenei pada Senin (9/3) untuk menggantikan ayahnya, membuka babak baru sebagai Pemimpin Tertingi. Penunjukan ini menandakan bahwa kelompok garis keras tetap memegang kendali di Teheran seminggu setelah perang dimulai.

Konflik tersebut telah menyebabkan penghentian sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam global, karena Teheran menargetkan kapal-kapal di Selat Hormuz yang vital antara pantai Qatar dan Oman. Iran juga menyerang infrastruktur energi di seluruh wilayah tersebut.

Menteri energi Qatar Saad Sherida al-Kaabimengatakan kepada Financial Times pada hari Jumat bahwa ia memperkirakan semua produsen energi Teluk akan menghentikan ekspor dalam beberapa minggu. Kondisi ini dapat mendorong harga minyak hingga US$150 per barel.

Harga energi yang tinggi bertindak seperti pajak dan juga dapat memicu inflasi, membuat investor khawatir bahwa bank sentral mungkin enggan untuk memangkas suku bunga.

Data pekerjaan AS yang secara mengejutkan lemah pada hari Jumat sempat menghentikan kenaikan dolar, dan meningkatkan ekspektasi untuk pemotongan suku bunga AS, tetapi hal itu agak memudar pada Senin pagi dan futures saham AS juga anjlok, dengan futures S&P 500 turun 1,6%.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...