Usai Bertemu Prabowo, BI Umumkan 7 Langkah Intervensi Stabilisasi Nilai Rupiah
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyampaikan tujuh langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang kini telah menembus Rp 17.425 per dolar AS. Langkah-langkah ini telah mendapat persetujuan dari Presiden Prabowo Subianto.
Perry menyampaikan hal tersebut setelah mengikuti rapat terbatas Anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dengan presiden di Istana Merdeka Jakarta pada Selasa (5/5).
Perry menyebut, kondisi rupiah saat ini sebenarnya berada dalam posisi lebih lemah dibandingkan nilai yang seharusnya (undervalue) jika dibandingkan dengan fundamental ekonomi Indonesia saat ini.
Ia menyatakan situasi pertumbuhan ekonomi 5,61% pada triwulan pertama tahun level menjadi penopang utama penguatan rupiah ke depan. Selain itu, inflasi yang tetap terkendali, pertumbuhan kredit yang tinggi, serta cadangan devisa yang memadai turut menjadi faktor pendukung.
"Ini adalah fundamental yang menunjukkan mestinya rupiah itu akan stabil dan cenderung menguat," kata Perry dalam konferensi pers setelah pertemuan dengan Prabowo.
Perry mengatakan tekanan terhadap nilai tukar rupiah saat ini terjadi karena faktor global seperti tingginya harga minyak, kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS), serta penguatan dolar AS. Situasi ini memicu arus keluar modal dari negara berkembang.
Perry juga mengatakan faktor musiman pada April hingga Juni turut meningkatkan permintaan dolar, terutama untuk repatriasi dividen, pembayaran utang, dan kebutuhan haji. Rupiah ke depan akan stabil dan cenderung menguat," kata Purbaya.
Selain Perry, Anggota KSSK yang terpantau hadir dalam konferensi pers kali ini yakni Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Frederica Widyasari Dewi, dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu. Turut serta Menteri Koordinator Bidang Perekoniman Airlangga Hartarto. Guna mengatasi pelemahan nilai tukar rupiah, BI menyiapkan tujuh langkah stabilisasi.
Tujuh Langkah BI Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah
1. Intervensi Valas di Pasar Domestik dan Luar Negeri
Perry mengatakan pihak BI akan melakukan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi spot dan instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di dalam negeri. Selain itu, intervensi juga dilakukan lewat Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri seperti Hong Kong, Singapura, London, dan New York.
"Kami terus akan melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah baik di dalam negeri maupun dari luar negeri. Cadangan devisa kami lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah," kata Perry.
2. BI Bidik Dana lewat SRBI
BI mendorong peningkatan aliran modal masuk (inflow) melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Hal ini diharapkan dapat menutup arus keluar (outflow) dari Surat Berharga Negara (SBN) dan pasar saham.
3. BI Lanjutkan Pembelian SBN
BI melanjutkan pembelian SBN di pasar sekunder. Menurut Perry, realisasi pembelian SBN hingga tahun ini telah mencapai Rp123,1 triliun. "Kami sudah membeli SBN dari pasar sekunder year to date Rp 123,1 triliun dan kami akan melakukan koordinasi termasuk dengan Pak Menteri Keuangan bisa melakukan masalah buyback," kata Perry.
4. BI Longgarkan Likuidita Perbankan
Perry mengatakan pihak BI bersama Kementerian Keuangan akan menjaga likuiditas perbankan dan pasar uang tetap longgar. Ia menilai hal ini tercermin dari pertumbuhan uang primer yang mencapai 14,1%.
5. BI Batasi Pembelian Dolar AS
BI juga memperketat pembatasan pembelian dolar. Batas pembelian yang sebelumnya US$ 100 ribu per orang per bulan akan kembali dipangkas menjadi US$ 25 ribu. "Pembelian dolar sampai dengan atau di atas US$ 25 ribu itu harus pakai underlying. Ya itu yang yang kami akan perkuat," ujar Perry. Selain itu, BI juga mendorong penggunaan mata Yuan dalam transaksi domestik guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
6. BI Tambah Pasokan Dolar lewat Pasar NDF Luar Negeri
Keenam, BI memperkuat intervensi di pasar offshore NDF dengan memperbolehkan bank domestik berpartisipasi dalam transaksi tersebut untuk meningkatkan suplai valas. "Kami juga membolehkan bank-bank domestik untuk ikut jualan offshore NDF di luar negeri sehingga pasokannya lebih lebih banyak, sehingga itu akan memperkuat stabilisasi dari nilai tukar rupiah," kata Perry.
7. BI Perketat Pengawasan Pembelian Dolar
Perry juga mengatakan pihaknya turut meningkatkan pengawasan terhadap bank dan korporasi yang memiliki aktivitas pembelian dolar tinggi. Hal ini bertujuan agar stabilitas sistem keuangan tetap terjaga. "Bank-bank korporasi yang aktivitas pembelian dolarnya tinggi kami kirim pengawas ke OJK untuk memastikan bagaimana stabilitas sistem keuangan terjaga," ujar Perry.
