Rupiah Dekati Rp17.700 per Dolar AS, Akankah Tembus Rp18.000?

Image title
19 Mei 2026, 14:59
rupiah, dolar, nilai tukar rupiah
Katadata/Fauza Syahputra
Petugas menunjukkan pecahan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (18/5/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan dan telah bergerak menembus level Rp 17.700 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran pelaku pasar bahwa rupiah berpotensi menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS apabila tekanan eksternal dan domestik terus berlanjut.

Menurut data Bloomberg, rupiah pukul 14.17 WIB menembus Rp 17.728 per dolar AS, melemah 0,34% atau 60 poin. 

Menanggapi hal ini, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik yang sama-sama memberikan tekanan besar terhadap pasar keuangan Indonesia.

Dari sisi eksternal, Ibrahim menilai pasar masih diliputi ketidakpastian terkait konflik di Timur Tengah meski Presiden AS Donald Trump sempat menyampaikan peluang negosiasi baru antara Iran dan Amerika Serikat.

“Pasar masih apatis terhadap pernyataan Trump yang berubah-ubah,” ujar Ibrahim kepada Katadata.co.id, Selasa (19/5).

Ia mengatakan ketegangan geopolitik semakin meningkat setelah adanya serangan drone terhadap fasilitas tenaga nuklir di Uni Emirat Arab, serta terbongkarnya pangkalan militer Israel di Gurun Irak.

Lonjakan Harga Minyak Dunia dan Musim Dividen Turut Menekan Rupiah

Menurutnya, kondisi tersebut membuat dolar AS terus menguat bersamaan dengan lonjakan harga minyak mentah dunia yang kini masih bertahan di atas US$ 106 per barel.

Harga minyak yang tinggi juga berpotensi memicu inflasi global dan mendorong bank sentral AS mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan.

Di sisi domestik, Ibrahim menilai tingginya impor minyak Indonesia menjadi salah satu sumber tekanan utama terhadap rupiah. Indonesia disebut mengimpor sekitar 1,5 juta barel minyak per hari sehingga kebutuhan dolar AS meningkat tajam.

Sementara itu, asumsi dasar dalam APBN dinilai sudah jauh tertinggal dari kondisi aktual karena kurs rupiah dipatok Rp 16.500 per dolar AS dan harga minyak diasumsikan US$70 per barel.

“Kondisi ini membuat defisit anggaran semakin melebar dan kemungkinan mendekati 3%,” katanya.

Selain itu, tingginya kebutuhan dolar juga dipicu musim pembagian dividen perusahaan terbuka yang banyak menggunakan dolar AS, serta kewajiban pembayaran utang jatuh tempo pemerintah pada tahun ini.

Ibrahim menyebut pemerintah harus melakukan buyback dan mencari utang baru untuk membayar surat utang negara yang jatuh tempo kepada investor.

Ia juga menyoroti fenomena perpindahan dana masyarakat dari instrumen konvensional ke valuta asing yang dinilai semakin membebani rupiah.

Pernyataan Prabowo adalah Kritik untuk Pembantunya

Di tengah tekanan tersebut, Ibrahim turut menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut masyarakat desa tidak menggunakan dolar AS.

Menurutnya, pernyataan tersebut memicu kritik dari sejumlah pengamat karena dianggap tidak cukup menenangkan pasar.

“Kalau saya lihat Prabowo mengatakan seperti itu untuk mengkritik pembantu presiden, kemungkinan menteri keuangan yang selalu gampang memberikan statement-statement seperti seorang analis, bukan sebagai seorang pejabat,” katanya.

Ibrahim memperingatkan pelemahan rupiah saat ini mulai berdampak pada kenaikan harga barang impor seperti pangan, kedelai, gula, pupuk, plastik, dan minyak. Ia memperkirakan tekanan harga akan semakin terasa pada semester kedua tahun ini apabila rupiah terus melemah.

“Iya, (rupiah berpotensi tembus Rp 18.000). Kalau seandainya benar rupiah Rp 18 ribu per dolar AS, ini akan berdampak cukup luar biasa terhadap masyarakat kelas bawah,” ujarnya.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...