Wamenkeu Juda Agung Sebut Tiga Tanda Krisis Ekonomi Tak Terjadi di Indonesia

Image title
25 Mei 2026, 13:37
Juda Agung, krisis ekonomi, Indonesia
Katadata/Fauza Syahputra
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyampaikan paparan pada Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah di Balai Kartini, Jakarta, Senin (25/5/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyindir sejumlah pihak yang terus menggiring opini bahwa ekonomi Indonesia menuju krisis seperti 1997-1998.

Dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED), Juda menyebut banyak kalangan “baik” di media maupun media sosial yang mengangkat narasi Indonesia sedang berada di ambang krisis ekonomi. Namun menurutnya, kondisi fundamental ekonomi nasional saat ini jauh berbeda dibanding masa krisis moneter 1998.

“Tadi Pak Misbakhun sempat menyinggung bahwa banyak kalangan 'baik' di media termasuk media sosial mengatakan ekonomi kita menuju krisis seperti 1997-1998. Kalau melihat angka-angka tadi, (Indonesia) jauh dari situasi krisis,” ujar Juda, Senin (25/5).

Juda mengatakan terdapat tiga sumber utama yang biasanya menjadi pemicu krisis ekonomi di berbagai negara. Namun,  ketiga indikator tersebut saat ini tidak terlihat di Indonesia.

Sumber pertama adalah krisis fiskal atau debt crisis seperti yang pernah dialami negara-negara Amerika Latin pada era 1980-an. Saat itu, defisit fiskal membengkak dan pemerintah kehilangan kepercayaan investor sehingga surat utang negara tidak lagi diminati pasar.

Ngeluarin bonds enggak ada yang beli, jadi terjadilah krisis fiskal di Latin America,” katanya.

Menurut Juda, kondisi Indonesia saat ini masih jauh dari situasi tersebut karena defisit APBN tetap dijaga di bawah 3% dan pembiayaan pemerintah masih dipercaya investor domestik maupun asing.

Ia menilai kepercayaan pasar tercermin dari tingkat imbal hasil atau yield surat utang negara yang masih relatif stabil di kisaran 6,5% hingga 6,7%.

“Kalau investor tidak percaya pada fiskal kita maka yield-nya akan melonjak,” ujar dia. 

Juda mengatakan, hingga saat ini tidak ada tanda-tanda krisis yang bersumber dari sektor fiskal.

Sumber kedua, kata Juda. adalah krisis neraca pembayaran seperti yang terjadi pada Indonesia saat krisis 1997-1998. Pada periode itu, banyak perusahaan menarik utang luar negeri dalam jumlah besar dan akhirnya kolaps ketika rupiah melemah tajam.

“Maka utang banyak perusahaan yang kolaps karena tidak bisa lagi membayar utang luar negeri,” katanya.

Saat ini, Juda menilai kondisi neraca pembayaran Indonesia masih relatif sehat dan seimbang sehingga belum menunjukkan sinyal krisis eksternal. “Dari krisis neraca pembayaran tidak ada tanda-tanda itu,” ujarnya.

Sumber ketiga adalah krisis yang berasal dari sistem keuangan akibat pecahnya gelembung aset atau bubble, seperti yang terjadi pada krisis keuangan global 2008 di Amerika Serikat.

Menurut Juda, kondisi tersebut biasanya ditandai dengan ekspansi kredit besar-besaran dan kenaikan harga aset yang tidak sehat, terutama di sektor properti, hingga akhirnya memicu keruntuhan sistem keuangan. Namun, ia memastikan tanda-tanda gelembung di sektor keuangan Indonesia juga belum terlihat.

“Tanda-tanda itu juga tidak ada di kita,” kata Juda.

Berdasarkan data yang dipantau pemerintah hingga saat ini, Indonesia belum menunjukkan gejala menuju krisis ekonomi seperti yang banyak dikhawatirkan publik. 

“Jadi tiga sumber krisis itu tidak ada di dalam data-data yang kita amati sampai dengan hari ini,” ujarnya.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...