Pelemahan Rupiah Disebut Tekan Investasi Portofolio RI

Image title
26 Mei 2026, 18:32
rupiah, investasi, portofolio
Katadata/Fauza Syahputra
Petugas menunjukkan pecahan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (18/5/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Ekonom Yusuf Rendy Manilet dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah sepanjang 2026 dinilai memberikan tekanan signifikan terhadap arus investasi portofolio di Indonesia.  

“Ketika rupiah bergerak di atas Rp 17.000 bahkan sempat mendekati Rp 17.600 pada Mei 2026, imbal hasil investor asing dalam denominasi dolar Amerika Serikat (AS) otomatis tergerus. Akibatnya, mereka menjadi lebih berhati-hati memegang aset rupiah,” ujar Yusuf kepada Katadata.co.id, Selasa (26/5).

Menurutnya, kondisi tersebut memicu investor asing melepas Surat Berharga Negara (SBN) maupun saham domestik. Dana hasil penjualan kemudian dikonversi kembali ke dolar AS, yang pada akhirnya memperbesar tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

“Hubungan antara pelemahan rupiah dan arus keluar modal itu saling memperkuat. Semakin banyak dana keluar, tekanan ke rupiah makin besar, dan pelemahan kurs berikutnya kembali mendorong investor keluar,” katanya.

Yusuf menilai arus investasi portofolio memang sangat sensitif terhadap volatilitas nilai tukar dan sentimen risiko global. Tingginya suku bunga global serta ketegangan geopolitik membuat investor cenderung memilih aset safe haven berbasis dolar AS dibanding instrumen di negara berkembang.

Meski demikian, situasi berbeda terlihat pada investasi langsung. Yusuf menyebut realisasi investasi pada kuartal I 2026 tetap tumbuh solid di tengah tekanan kurs. Total investasi tercatat mencapai sekitar Rp 498,8 triliun, terdiri atas Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 250 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 248,8 triliun.

“Pelemahan rupiah tidak otomatis membuat investor strategis membatalkan ekspansi,” ujarnya.

Menurutnya, investor langsung umumnya memiliki orientasi jangka panjang sehingga tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan pergerakan kurs harian.

Bahkan dalam beberapa kasus, depresiasi rupiah justru dipandang sebagai peluang karena membuat biaya produksi, upah tenaga kerja, dan valuasi aset di Indonesia menjadi lebih murah dalam denominasi dolar.

“Bagi investor yang ingin membangun basis produksi jangka panjang, rupiah yang lebih lemah bisa dipandang sebagai peluang, bukan semata ancaman,” kata Yusuf.

Kondisi Fundamental di Balik Pergerakan Nilai Tukar

Yusuf mengatakan faktor utama yang memengaruhi keputusan investasi bukan hanya level kurs, melainkan kondisi fundamental yang berada di balik pergerakan nilai tukar tersebut.

Ia menyoroti tiga faktor utama yang menentukan persepsi investor. Pertama, kondisi eksternal seperti kebijakan suku bunga tinggi The Fed dan ketidakpastian geopolitik global. Kedua, persepsi risiko terhadap ekonomi Indonesia, termasuk terkait arah fiskal dan kredibilitas kebijakan ekonomi.

Dalam hal ini, penurunan outlook kredit oleh lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s dan Fitch Ratings dinilai menjadi perhatian investor karena dianggap mencerminkan risiko fiskal dan keberlanjutan utang pemerintah.

Faktor ketiga adalah konsistensi dan komunikasi kebijakan pemerintah. Menurut Yusuf, investor masih dapat menerima pelemahan kurs sepanjang kebijakan ekonomi dinilai jelas dan dapat diprediksi.

“Investor bisa menerima kurs yang lemah, tetapi mereka sulit menerima ketidakpastian aturan. Predictability justru lebih menentukan dibanding level kurs itu sendiri,” tuturnya.

Karena itu, stabilitas politik, kepastian regulasi, dan konsistensi kebijakan dinilai tetap menjadi modal utama Indonesia dalam menjaga daya tarik investasi langsung di tengah tekanan eksternal.

Yusuf mengingatkan, risiko terbesar muncul apabila pelemahan rupiah berkembang menjadi krisis kepercayaan terhadap fundamental ekonomi nasional.

Jika depresiasi rupiah dipersepsikan sebagai cerminan lemahnya fundamental, ketidakjelasan kebijakan, atau memburuknya risiko fiskal, maka dampaknya dapat meluas dari pasar keuangan ke sektor riil.

“Pada titik itu, baik investasi portofolio maupun FDI sama-sama bisa menahan diri,” ujarnya.

Ia menambahkan, tantangan utama pemerintah saat ini bukan sekadar menjaga rupiah pada level tertentu, melainkan mempertahankan kredibilitas kebijakan dan keyakinan investor bahwa pelemahan kurs masih berada dalam batas yang terkendali.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...