Asing Masih Ogah Masuk Pasar Obligasi RI Meski BI Sudah Naikkan Suku Bunga Lagi
Aksi jual di pasar obligasi Indonesia justru semakin dalam setelah bank sentral menaikkan suku bunga di luar siklus untuk menjaga stabilitas rupiah.
Mengutip Bloomberg, imbal hasil obligasi 10 tahun Indonesia melonjak 23 basis poin menjadi 7,51%, tertinggi sejak November 2022, sedangkan imbal hasil obligasi lima tahun sebelumnya naik ke level terakhir yang terlihat pada Mei 2020.
Investor melakukan aksi jual di pasar obligasi seiring kekhawatiran terhadap agenda ekonomi yang sangat diintervensi dan rencana pengeluaran Presiden Prabowo Subianto.
Nilai tukar rupiah ditutup menguat 0,71% di level 18.058 per dolar AS usai kenaikan suku bunga BI, setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah sepanjang masa. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga ditutup melesat 7,57% ke level 5.746.
Namun, pasar obligasi tetap terjebak dalam tren penurunan karena investor asing kehilangan kepercayaan pada otoritas ekonomi di negara ini.
“Kenaikan suku bunga memberi sinyal kepada investor bahwa Indonesia sedang berupaya untuk menekan aksi jual mata uang, tetapi itu tidak akan cukup untuk mengatasi kekhawatiran atas pengelolaan ekonomi,” kata Eugenia Victorino, kepala strategi Asia di Skandinaviska Enskilda Banken di Singapura seperti dikutip dari Bloomberg.
Dia mengatakan, ada masalah yang lebih dalam yang harus diselesaikan secara meyakinkan sebelum melihat pemulihan pasar yang berarti.
Para Pengelola Dana Tetap Waspada
Lonjakan imbal hasil obligasi Indonesia ke level tertinggi multi-tahun gagal menarik manajer dana global yang tetap pesimis. Ninety One, Robeco Group, dan Aberdeen tetap berada di luar pasar, menggarisbawahi memudarnya daya tarik negara ini sebagai tujuan investasi pasar negara berkembang yang utama.
“Indonesia bukanlah tempat yang ingin kami alokasikan modal dari sisi jangka panjang,” kata Thys Louw, manajer portofolio di tim pendapatan tetap pasar negara berkembang Ninety One di London.
Bank sentral mengatakan bahwa mereka bekerja sama dengan pemerintah untuk meningkatkan imbal hasil obligasi negara seiring dengan peningkatan upaya para pembuat kebijakan untuk menarik masuknya dana. Bank Indonesia, yang telah membeli obligasi di pasar sekunder sebagai bagian dari intervensi mata uangnya, tidak hadir.
Penurunan pasar semakin intensif minggu lalu seiring dengan perluasan pengawasan terhadap bank sentral oleh para pembuat kebijakan, diluncurkannya penyelidikan korupsi, dan diumumkannya aturan baru yang mengatur ekspor komoditas.
“Perlu ada sedikit penurunan lebih lanjut sebelum kita melihat obligasi Indonesia dengan cara yang lebih konstruktif,” kata Philip McNicholas, ahli strategi kedaulatan Asia di Robeco di Singapura.
