Maybank Targetkan Pembiayaan Berkelanjutan US$73 Miliar hingga 2030

Image title
30 Juni 2026, 10:54
Maybank, pembiayaan berkelanjutan, green financing
Katadata
Maybank menargetkan mobilisasi pembiayaan berkelanjutan sebesar US$ 73 miliar hingga 2030 atau setara sekitar Rp 1.278 triliun (asumsi kurs Rp 17.500 per dolar AS).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Maybank menargetkan mobilisasi pembiayaan berkelanjutan sebesar US$ 73 miliar hingga 2030 atau setara sekitar Rp 1.278 triliun (asumsi kurs Rp 17.500 per dolar AS). Target tersebut meningkat setelah perseroan berhasil melampaui komitmen pembiayaan berkelanjutan sebelumnya.

Presiden Komisaris Maybank Indonesia Dato Sri Khairussaleh mengatakan komitmen tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam mendukung transisi menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan sekaligus menciptakan nilai jangka panjang di kawasan ASEAN.

"Pada tahun 2030, Maybank berkomitmen memobilisasi US$ 73 miliar pembiayaan berkelanjutan di seluruh kawasan. Target ini mencerminkan keyakinan kami bahwa keberlanjutan bukanlah agenda yang terpisah, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari cara kami menciptakan nilai jangka panjang dengan mendukung kemajuan ekonomi, memperkuat ketahanan bisnis, serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat di seluruh ASEAN," ujar Khairussaleh dalam acara Maybank Indonesia Sustainable Finance Forum 2026, Selasa (30/6).

Menurutnya, hingga 2025 Maybank Group telah berhasil memobilisasi sekitar US$ 43 miliar pembiayaan berkelanjutan, melampaui target yang sebelumnya telah ditetapkan. Capaian tersebut dinilai menunjukkan semakin kuatnya momentum pembiayaan berkelanjutan di kawasan.

Dukung Sektor-sektor dalam Proses Transisi

Khairussaleh menegaskan fokus Maybank tidak hanya membiayai proyek-proyek yang telah ramah lingkungan, tetapi juga mendukung sektor-sektor yang masih berada dalam proses transisi, termasuk industri dengan tingkat emisi tinggi (hard-to-abate).

"Kami bekerja sama dengan para nasabah di sektor-sektor beremisi tinggi dan sulit dikurangi emisinya untuk membantu mereka meningkatkan efisiensi, mengadopsi teknologi yang lebih bersih, serta menyusun jalur transisi yang kredibel. Melanjutkan momentum tersebut melalui strategi baru kami, ROA30, kami meningkatkan target kami lebih tinggi lagi," katanya.

Selain aspek lingkungan dan tata kelola, Maybank juga memperkuat komitmennya pada dimensi sosial dalam kerangka environmental, social, and governance (ESG). Perusahaan menempatkan dampak sosial sebagai salah satu pembeda utama dalam strategi bisnisnya.

Sepanjang 2025, berbagai program dampak sosial Maybank disebut telah meningkatkan kualitas hidup sekitar 1,5 juta orang. Di periode yang sama, perusahaan juga memobilisasi sekitar US$ 7 miliar atau Rp 122,5 triliun investasi berdampak sosial melalui pembiayaan sosial dan program pemberdayaan masyarakat.

Khairussaleh mengatakan komitmen tersebut turut diperkuat oleh pengakuan internasional di bidang ESG, Maybank memperoleh peringkat AAA dari MSCI ESG.

Lebih lanjut, Khairussaleh menilai perubahan iklim kini telah menjadi faktor yang secara langsung memengaruhi dunia usaha. Menurutnya, perusahaan yang mampu beradaptasi lebih cepat terhadap transisi rendah karbon akan memiliki peluang lebih besar untuk menarik investasi dan menciptakan pertumbuhan baru.

"Perusahaan yang lebih cepat beradaptasi akan berada pada posisi yang lebih baik untuk menangkap peluang pertumbuhan baru dan menarik investasi. Sebaliknya, mereka yang terlambat dapat menghadapi risiko yang lebih besar, mulai dari aset terlantar (stranded assets), keterbatasan pembiayaan, tekanan reputasi, hingga berkurangnya akses pasar," ujarnya.

Ia menambahkan, keberhasilan transisi tidak hanya membutuhkan komitmen pelaku usaha, tetapi juga kepastian arah kebijakan dari pemerintah dan regulator melalui peta jalan nasional, taksonomi, insentif, serta persyaratan keterbukaan informasi yang dapat memberikan kepastian bagi investor dan dunia usaha dalam mengambil keputusan investasi jangka panjang.

Perusahaan yang lebih cepat beradaptasi akan berada pada posisi yang lebih baik untuk menangkap peluang pertumbuhan baru dan menarik investasi. Sebaliknya, mereka yang terlambat dapat menghadapi risiko yang lebih besar, mulai dari aset terlantar (stranded assets), keterbatasan pembiayaan, tekanan reputasi, hingga berkurangnya akses pasar.

“Menghadapi tantangan ini membutuhkan lebih dari sekadar ambisi. Dibutuhkan arah yang jelas, dan karena itulah sinyal kebijakan menjadi sangat penting,” katanya.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...