Cerita Influencer Keuangan Punya Sertifikasi OJK, Perluas Karier jadi Konsultan
Sertifikasi financial influencer dapat menjadi modal untuk membuka sumber pendapatan baru sekaligus memperluas peluang karier. Perencana Keuangan sekaligus financial influencer Rista Zwestika mengungkap manfaatnya.
Rista mengatakan, kompetensi dan kredibilitas yang semakin jelas dan kredibilitas terbentuk dapat membuka peluang di luar endorsement atau paid content.
Menurutnya, financial influencer dapat mengembangkan karier sebagai trainer, speaker, financial planner, konsultan, atau penulis. Peluangnya juga bisa membuat kelas dan produk edukasi hingga menjalin kerja sama dengan perusahaan maupun institusi keuangan.
“Justru ini penting untuk financial influencer: jangan hanya membangun audience, bangun juga expertise,” ujar Rista ketika dihubungi Katadata.co.id, Selasa (6/10).
Tak hanya itu, Rista mengatakan popularitas di media sosial dapat berubah dengan cepat. Namun, financial influencer dapat membangun aset profesional melalui kompetensi, reputasi, dan kepercayaan yang terjaga dalam jangka panjang.
Ia menyebut industri keuangan tidak hanya berbicara soal cara mendapatkan penghasilan dari konten. Financial influencer juga perlu menjaga kepercayaan masyarakat karena konten yang dibuat dapat memengaruhi keputusan seseorang dalam mengelola uang.
“Dan kepercayaan itu harus dijaga karena konten yang kita buat bisa ikut memengaruhi keputusan seseorang terhadap uang yang mereka kumpulkan bertahun-tahun,” kata Rista.
Selain itu, ia juga mengaku sertifikasi penting bagi financial influencer, terutama bagi mereka yang tidak lagi sekadar membuat konten, tetapi mulai memberikan edukasi, konsultasi, atau layanan profesional di bidang keuangan.
Menurutnya, sertifikasi tidak hanya menjadi gelar tambahan. Proses itu juga menjadi pembelajaran seseorang dengan standar kompetensi, metodologi, etika profesi, hingga pemahaman mengenai batas dalam memberikan rekomendasi.
Namun, ia menekankan sertifikasi tidak otomatis menjamin seluruh informasi yang disampaikan selalu benar. Financial influencer tetap perlu memperbarui pengetahuan, mengikuti perkembangan regulasi, dan menjaga integritas dalam menyampaikan informasi keuangan.
“Karena di dunia digital, orang bisa memiliki ratusan ribu bahkan jutaan followers. Tetapi jumlah followers bukan ukuran kompetensi finansial,” ujar Rista.
Apalagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperketat aturan tentang penyampai informasi sektor jasa keuangan atau financial influencer dalam POJK Nomor 6 Tahun 2026.
Lewat aturan baru ini, financial influencer tidak bisa sembarangan mempromosikan produk atau aset keuangan. Termasuk menjanjikan keuntungan pasti, hingga wajib memberikan disclaimer dan transparansi soal komisi dari produk yang dipromosikan.
POJK ini disusun untuk melindungi konsumen dan masyarakat sekaligus mencegah kerugian yang dapat timbul dari penyampaian informasi sektor jasa keuangan oleh financial influencer.
Rista pun menyebut financial influencer perlu memastikan informasi yang dibagikan kepada publik bersumber dari sumber kredibel dan mengacu pada regulasi yang masih berlaku. Konten keuangan juga sebaiknya tidak dibuat semata-mata karena sedang viral.
Menurutnya, hal tersebut penting terutama ketika influencer membahas investasi, pinjaman, asuransi, maupun produk keuangan tertentu.
Financial influencer juga perlu memahami batas antara edukasi, opini, dan rekomendasi. Ia menyebut konten yang dikemas sebagai edukasi jangan sampai justru menggiring audiens membeli produk tertentu tanpa memahami profil risiko dan konsekuensinya.
“Financial influencer punya tanggung jawab yang cukup besar karena keputusan finansial seseorang bisa dipengaruhi oleh informasi yang mereka konsumsi di media sosial,” kata Rista.
Ia mengatakan financial influencer perlu menerapkan prinsip sebelum membagikan konten keuangan, yakni mengecek sumber informasi, memahami produk yang dibahas, hingga menjelaskan risikonya. Influencer juga perlu transparan apabila memiliki kerja sama komersial dan tidak menjanjikan hasil yang belum pasti.
Menurutnya, edukasi keuangan perlu disampaikan secara bertanggung jawab karena dapat memengaruhi keputusan investasi.
“Karena ‘Di dunia keuangan, satu konten yang salah bukan cuma berisiko membuat orang kehilangan followers’, orang lain bisa kehilangan uangnya,” ucap Rista.

