Suku Bunga Tinggi Jadi Peluang Investasi, Waspadai Beban Cicilan

Ade Rosman
Oleh Ade Rosman
8 Oktober 2026, 10:30
suku bunga, utang
Katadata/Fauza Syahputra
Ilustrasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Tren suku bunga tinggi membuka peluang bagi masyarakat untuk mendapatkan imbal hasil investasi lebih menarik. Namun, di sisi lain potensi ‘pembengkakan’ biaya cicilan utang mengintai arus kas harian. 

Executive Vice President International Association of Registered Financial Consultants (IARFC) Indonesia Bareyn Mochaddin mengingatkan masyarakat untuk memastikan kondisi keuangan aman sebelum mengejar keuntungan dari investasi.

“Dampak suku bunga naik itu dua sisi, betul ada potensi investasi, tetapi cicilan juga akan naik,” kata Bareyn, kepada Katadata.co.id, dikutip Kamis (8/10). 

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak hanya tergiur oleh potensi imbal hasil investasi yang tinggi tanpa membenahi fondasi kas pribadi. Menurutnya, kondisi arus kas dan dana darurat harus menjadi prioritas.

“Sehingga, langkah pertama bukan langsung berinvestasi, tetapi memastikan cash flow bulanan surplus dan dana darurat aman. Istilahnya, ‘aman dulu baru berkembang’,” kata dia.

Menurut Bareyn, kondisi keuangan dapat dikatakan aman jika arus kas bulanan bernilai positif, tidak memiliki beban utang konsumtif, serta sudah mengalokasikan dana darurat dan proteksi asuransi yang memadai.

“Setelah itu, baru kita cari cara untuk memanfaatkan kenaikan suku bunga tinggi dengan (misalnya) mencari imbal hasil tinggi di produk seperti obligasi dan/atau membeli saham yang tertekan (turun) karena suku bunga naik,” katanya.

Bareyn menjelaskan, pemilihan instrumen investasi tetap harus disesuaikan dengan tujuan keuangan dan profil risiko masing-masing investor. Menurutnya, instrumen dengan imbal hasil menarik belum tentu menjadi pilihan terbaik bagi setiap orang.

“Kadang yang menarik bukan yang terbaik, karena yang terbaik adalah yang paling tepat membantu kita untuk mencapai tujuan keuangan di masa depan,” kata dia.

Bareyn menilai SBN yang baru diluncurkan cukup menarik dari sisi imbal hasil. Dia menyebut instrumen tersebut memiliki kupon tertinggi sejak 2020.

“(Ini bukan rekomendasi investasi) SBN yang baru diluncurkan cukup menarik dengan kupon tertinggi sejak 2020,” katanya.

Bareyn menuturkan, porsi SBN dapat diperbesar untuk investor yang lebih berhati-hati. Sementara investor dengan profil agresif dapat mempertimbangkan porsi saham yang lebih besar.

“Di saat era suku bunga tinggi, bagi investor yang lebih berhati-hati, mungkin bisa memperbesar porsi SBN, sedangkan yang cukup agresif bisa memperbesar porsi saham. Yang penting dijaga adalah keseimbangan, emas sebaiknya tetap dimiliki,” katanya.

Di sisi lain, ia mengingatkan agar investor tidak mengambil keputusan secara terburu-buru ketika pasar saham mengalami tekanan. Lantaran tidak semua saham terdampak dengan cara yang sama oleh kenaikan suku bunga.

Bareyn menjelaskan, sejumlah saham seperti sektor properti berpotensi tertekan ketika suku bunga tinggi. Namun, investor tidak dapat mengetahui kapan harga saham telah mencapai titik terendah.

Karena itu, keputusan untuk menjual maupun membeli saham perlu didasarkan pada analisis terhadap aset yang dimiliki. Investor yang melihat peluang juga dapat melakukan pembelian secara bertahap.

Sementara bagi investor pemula dengan kemampuan investasi di kisaran Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per bulan, Bareyn menilai hal yang paling penting menjadi priritas adalah membangun kebiasaan investasi.

“Bisa mulai dari logam mulia atau reksa dana pasar uang yang bisa dibeli mulai Rp 100 ribuan,” katanya.

Namun, ia memberi catatan bahwa investasi tersebut tetap harus dilakukan setelah kondisi keuangan pribadi aman. 

Bareyn juga mengingatkan sejumlah kesalahan yang perlu dihindari masyarakat saat suku bunga tinggi. Di antaranya yakni menempatkan seluruh dana di deposito, tergiur investasi bodong yang menjanjikan keuntungan besar, panik menjual saham atau reksa dana ketika harga turun, hingga menggunakan utang untuk berinvestasi.

Selain itu, dia juga mengingatkan pentingnya diversifikasi agar masyarakat tidak menempatkan seluruh dana pada satu jenis investasi.

“Menggunakan utang untuk berinvestasi karena melihat peluang cuan, padahal itu tidak disarankan dan bunga pinjaman sedang mahal. Dan terakhir, menaruh semua dana di satu jenis investasi saja,” kata Bareyn.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...