Rupiah Dibuka Melemah, Sentuh Rp 17.947 per Dolar AS 

Ade Rosman
13 Oktober 2026, 09:31
Rupiah
Katadata/Fauza Syahputra
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing Dolarasia Money Changer, Tebet, Jakarta Selatan, Senin (13/7/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada pagi ini. Melansir data Bloomberg, kurs mata uang nasional dibuka di level Rp 17.947 per dolar AS pada Selasa (13/10) pagi.

Angka tersebut menunjukkan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebesar 34 poin atau sekitar 0,19% dari penutupan sebelumnya. Kemarin, kurs rupiah berada di level Rp 17.913 per dolar AS.

Analis Doo Financial, Lukman Leong menuturkan, pelemahan rupiah kali ini diperkirakan terjadi karena didorong oleh naiknya kembali harga minyak mentah. “Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang memicu  harga minyak mentah dunia kembali naik,” kata Lukman saat dihubungi, Selasa (13/10). 

Sementara itu, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah yang seiring dengan penguatan dolar AS ini diakibatkan sejumlah faktor. Dari sisi global, memanasnya kondisi di Selat Hormuz menjadi salah satu faktornya.

“Sejumlah serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz telah dilaporkan sepanjang bulan ini, yang berpotensi menghambat pemulihan ekspor minyak mentah Timur Tengah yang sempat terlihat pada Bulan September,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya, dikutip pada Selasa (13/10). 

Sementara dari sisi domestik, pasar dinilai terus menunggu pengumuman MSCI seputar ancaman degradasi status RI ke frontier market. Di samping itu, ada pula potensi pembekuan (freeze) yang terus berlanjut dan menghantui pasar saham Indonesia. 

“Jika solusi dapat diterapkan dengan cepat, perlakuan khusus (MSCI terhadap pasar RI) bakal tuntas dalam waktu sekitar satu tahun. Namun, jika penyelesaiannya berjalan lambat atau tidak tercapai maka pembekuan dapat berlangsung selama bertahun-tahun atau bahkan berkembang menjadi penurunan klasifikasi (downgrade),” kata dia.

Di sisi lain, Kantor Berita Anadolu melansir bahwa Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyebut komunikasi dengan AS masih berlangsung melalui perantara Pakistan dan Qatar. Baqaei mengatakan, memanasnya situasi di Selat Hormuz lantaran konsekuensi langsung dari serangan AS dan Israel sejak 28 Februari.

"Kami sedang meninjau usulan pihak Amerika untuk negosiasi. Prasyarat Iran harus dipenuhi dalam setiap negosiasi," kata Baqaei, dilansir dari Anadolu.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...