Nilai Tukar Rupiah Masih Tertahan, Dibuka Rp 18,043 per US$

Ade Rosman
20 Oktober 2026, 09:35
Rupiah
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.
Petugas menunjukkan pecahan mata uang Rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat tipis pada Selasa (20/10) pagi. Melansir data spot Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp 18.043 per US$.

Angka tersebut menguat 3 poin, atau sekitar 0,02% dari penutupan sebelumnya, ketika rupiah berada di angka 18.046 per US$.

Analis Doo Financial, Lukman Leong menuturkan, rupiah masih dalam tekanan dari sentimen negatif di seputar pasar ekuitas yang masih terbebani outflow asing.  “Langkah pemerintah yang di antaranya mengeluarkan saham HSC (konsentrasi kepemilikan tinggi) dari IHSG diharapkan bisa memberikan sedikit dukungan pada pasar,” kata Lukman saat dihubungi, Selasa (20/10).

Di sisi lain, ia menyebut situasi geopolitik yang masih belum pasti masih dapat berpengaruh terhadap harga minyak dunia. Faktor tersebut juga akan berdampak pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

“Faktor eksternal eskalasi Timur Tengah dan perang Ukraina-Rusia yang menyebabkan harga minyak mentah yang masih terus naik akan kembali memberikan tekanan pada rupiah,” katanya. 

Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, sebelumnya mengungkapkan sejumlah faktor yang membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tertekan hingga menembus lebih dari Rp 18.000 per US$. Menurut Destry, kondisi global masih diwarnai volatilitas tinggi, termasuk akibat inflasi AS yang masih berada di atas target dan prospek suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama atau higher for longer.  

Tantangan bagi rupiah lainnya yakni perkembangan kebijakan suku bunga bank sentral AS Federal Reserve (The Fed). “Sehingga itu menjadi salah satu tantangan buat rupiah kita,” kata Destry dalam konferensi pers usai rapat terbatas ekonomi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (19/10).

Destry mengeklaim, BI dapat mengantisipasi sejumlah kondisi yang menekan nilai tukar rupiah tersebut. Ia pun mengaku diminta Presiden Prabowo Subianto untuk mengupayakan stabilitas mata uang garuda. 

“Tapi so far, dua hari ini rupiah, bisa kami jaga stabilitasnya, sehingga terjadi memang sedikit perlambatan. Dan itu juga sesuai dengan beberapa negara di (emerging markets),” katanya.

Lebih jauh ia menuturkan, langkah BI untuk menjaga stabilitas rupiah yaitu dengan memanfaatkan berbagai instrumen kebijakan. Mulai dari intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi spot dan non-deliverable forward (NDF), hingga insentif biaya lindung nilai atau hedging. 

Destry menyebut, insentif hedging yang dikucurkan sejak akhir Juni 2026 telah mendatangkan aliran dana melalui instrumen swap dan domestic non-deliverable forward (DNDF) senilai sekitar US$ 8 miliar hingga US$ 9 miliar. 

“Intinya, Bank Indonesia akan selalu tetap berjaga di pasar,” ujarnya.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...