Rupiah Kembali Tertekan, Hari Ini Dibuka di Level Rp 18.137 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada Selasa (27/10). Melansir data spot Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp 18.137 per US$, melemah 2 poin atau sekitar 0,03% dari penutupan sebelumnya yakni Rp 18.145 per US$.
Analis Doo Financial, Lukman Leong mengatakan, pelemahan rupiah ini dipengaruhi oleh situasi geopolitik yang belum memudar.
“Di tengah beragam laporan dari Timur Tengah, mulai dari potensi serangan AS terhadap Iran dalam beberapa hari ke depan hingga upaya diplomatik untuk mencapai perdamaian di kawasan,” kata Lukman, saat dihubungi pada Selasa (27/10).
Selain itu, ia menyebut arus keluar dana asing di pasar saham domestik juga masih menjadi faktor yang membebani mata uang Garuda.
Lukman memperkirakan, nilai tukar rupiah masih akan berfluktuasi pada hari ini. Ia memproyeksikan rupiah berada di kisaran Rp 18.100 hingga Rp 18.200 per US$.
Di sisi lain, Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, sebelumnya memastikan bank sentral selalu memantau pergerakan nilai tukar rupiah yang tengah menghadapi volatilitas akibat situasi global.
“Ya, kami tetap ada di pasar. Ya, ini tergantung supply-demand hari ini. Ya, pokoknya tetap kami monitor pergerakannya,” kata Destry kepada wartawan di Jakarta, Senin (26/10).
Destry menilai, nilai tukar rupiah yang menembus Rp 18.100 per US$ merupakan pergerakan biasa. “Volatility biasa, ya. Tapi kita kan ada terus monitor, ya. Kami lihat root-cause-nya juga,” kata dia.
Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada pekan lalu mengungkapkan sejumlah faktor yang membuat nilai tukar rupiah melemah dan menembus lebih dari Rp 18.000 per dolar AS. Salah satunya, kondisi global masih diwarnai volatilitas tinggi, termasuk akibat inflasi Amerika Serikat (AS) yang masih berada di atas target dan prospek suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama atau higher for longer.
Tantangan bagi rupiah lainnya, yakni perkembangan kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). “Sehingga itu menjadi salah satu tantangan buat rupiah kita,” kata Destry dalam konferensi pers seusai rapat terbatas ekonomi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (19/10).
Destry mengeklaim BI dapat mengantisipasi sejumlah kondisi yang menekan nilai tukar rupiah tersebut. Ia pun mengaku diminta Presiden Prabowo Subianto untuk mengupayakan stabilitas mata uang nasional.
“Tapi so far, dua hari ini rupiah, bisa kami jaga stabilitasnya, sehingga terjadi memang sedikit perlambatan. Dan itu juga sesuai dengan beberapa negara (emerging markets),” katanya.
Lebih jauh ia menuturkan, langkah BI untuk menjaga stabilitas rupiah yaitu dengan memanfaatkan berbagai instrumen kebijakan, mulai dari intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi spot dan non-deliverable forward (NDF), hingga insentif biaya lindung nilai atau hedging.
Destry menyebut, insentif hedging yang dikucurkan sejak akhir Juni 2026 telah mendatangkan aliran dana melalui instrumen swap dan domestic non-deliverable forward (DNDF) senilai sekitar US$ 8 miliar hingga US$ 9 miliar.
“Intinya, Bank Indonesia akan selalu tetap berjaga di pasar,” kata Destry.
