SBN Tak Selalu Cocok untuk Investor Pemula, Ini Alasannya
Surat Berharga Negara (SBN) ritel tidak selalu menjadi instrumen investasi yang cocok bagi investor pemula. Kesesuaiannya bergantung pada usia, tujuan investasi, serta kemampuan finansial masing-masing investor.
Perencana keuangan, Bareyn Mochaddin mengatakan, SBN lebih cocok bagi investor yang mengutamakan keamanan dana dan menginginkan pendapatan rutin dibandingkan mereka yang mengejar pertumbuhan nilai investasi.
Ia mencontohkan, SBN dapat menjadi pilihan bagi pegawai yang akan memasuki masa pensiun dan menerima uang pesangon. Instrumen tersebut dinilai dapat menjaga keamanan dana sekaligus memberikan penghasilan bulanan melalui pembayaran kupon.
“Kenapa ini cocok bagi seorang pegawai yang mau pensiun di tahun depan? Pertama, SBN ini investasi rendah risiko sehingga bisa memberikan 'keamanan' untuk dana pensiunnya. Kedua, bisa memberikan income bulanan tanpa kerumitan,” kata Bareyn, saat dihubungi, Jumat (30/10).
Sebaliknya, SBN dinilai kurang sesuai bagi pekerja yang baru memulai karier atau first jobber, terutama mereka yang memiliki kemampuan investasi terbatas dan ingin meningkatkan nilai aset dalam jangka panjang.
Bareyn mencontohkan, pekerja yang hanya mampu menyisihkan Rp 500.000 per bulan. Bagi investor dengan kondisi tersebut, investasi rutin pada reksa dana atau logam mulia kemungkinan lebih sesuai apabila tujuan utamanya adalah mengejar kenaikan nilai investasi.
“Bagi investor seperti ini, maka investasi rutin dengan membeli reksa dana, atau logam mulia kemungkinan besar lebih cocok,” ujarnya.
Menurut dia, salah satu keterbatasan SBN adalah potensi keuntungannya yang sudah ditentukan sejak awal. Investor akan menerima imbal hasil sesuai ketentuan kupon yang ditawarkan dan tidak memperoleh keuntungan tambahan dari kenaikan harga aset seperti yang berpotensi terjadi pada emas atau reksa dana.
Kendati demikian, potensi keuntungan investasi emas dan reksa dana yang lebih besar juga diikuti risiko kerugian yang lebih tinggi. Karena itu, investor perlu menyesuaikan pilihan instrumen dengan tujuan dan profil risikonya.
Selain potensi keuntungan yang terbatas, investor juga perlu memperhatikan risiko likuiditas SBN. Sebab, tidak semua jenis SBN dapat dicairkan sewaktu-waktu ketika investor membutuhkan dana mendesak.
Bareyn menjelaskan, investor SBN nontradable harus menunggu hingga jatuh tempo untuk mendapatkan kembali seluruh pokok investasinya. Kondisi ini berbeda dengan emas yang relatif lebih mudah dijual ketika pemiliknya membutuhkan uang.
Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak menempatkan seluruh dana yang dimiliki pada instrumen investasi yang sulit dicairkan. Investor perlu memiliki aset likuid, dana darurat, serta asuransi untuk mengantisipasi kebutuhan mendadak.
Bayern mengingatkan, meskipun SBN menawarkan keamanan dan pendapatan rutin, instrumen tersebut tidak otomatis menjadi pilihan terbaik bagi semua investor pemula. Keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan tujuan keuangan, jangka waktu investasi, dan kebutuhan likuiditas masing-masing.
