Danantara Ungkap Skenario Tempatkan WNA di Jajaran Bos BUMN Selain Garuda (GIAA)

Andi M. Arief
17 Oktober 2025, 05:55
Danantara
ANTARA FOTO/Fauzan/YU
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani memaparkan realisasi investasi triwulan II 2025 di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Jakarta, Selasa (29/7/2025)
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, Rosan P Roeslani berencana menempatkan warga negara asing dalam jajaran direksi perusahaan pelat merah. Menurutnya, langkah tersebut dapat meningkatkan kualitas perusahaan milik negara karena akan ada transfer teknologi dan pengetahuan.

Sebelumnya, Danantara baru saja mengangkat Neil Raymond Nilis sebagai Direktur Transformasi dan Balagopal Kunduvara sebagai Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko di PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). Rosan mengaku akan menganalisa perusahaan pelat merah lainnya yang membutuhkan peningkatan sumber daya manusia di tingkat manajemen.

"Kami akan menganalisa BUMN mana lagi yang membutuhkan ekspatriat di jajaran direksi agar benar-benar bisa melakukan transfer teknologi dan pengetahuan agar membawa BUMN berstandar internasional," kata Rosan di Hotel JS Luwansa, Kamis (16/10).

Rosan menilai masuknya WNA ke direksi BUMN dapat mengeliminasi hal-hal negatif di perusahaan milik negara, seperti korupsi. Karena itu, Rosan berargumen masuknya WNA ke tubuh BUMN akan membuat pengoperasian BUMN lebih optimal dan baik.

Jaga Investasi Garuda

Selain memasukkan WNA, Danantara mengganti Direktur Utama Garuda Indonesia menjadi Glenny H Kahuripan yang sebelumnya satu angkatan lulusan Akademi Militer pada 1973 dengan Presiden Prabowo Subianto. Rosan menjelaskan aksi korporasi tersebut murni untuk memastikan investasi negara di Garuda berbuah.

Rosan menghitung total anggaran negara yang baru masuk ke Garuda belum lama ini mencapai US$ 400 juta atau sekitar Rp 6,63 triliun. Menurutnya, Glenny dapat menjalankan kebijakan yang telah disiapkan pemerintah terkait penggunaan dana segar tersebut.

"Kunci penggunaan investasi negara di Garuda adalah implementasi. Menurut kami, pergantian Direktur Utama Garuda adalah bentuk penguatan manajemen saja. Kami sangat serius dalam memperkuat Garuda, tidak hanya dari sisi operasional, tapi juga dari sisi sumber daya manusia," katanya.

Dalam upaya memperbaiki kinerja maskapai milik negara ini, Danantara akan masuk lewat aksi korporasi berupa Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau private placement.. Danantara akan menggelontorkan dana senilai US$ 1,84 miliar atau setara Rp 30,31 triliun.  

Rencana besar ini menjadi bagian dari upaya restrukturisasi lanjutan Garuda Indonesia untuk memperbaiki posisi keuangan perusahaan yang masih mencatatkan ekuitas negatif. Seluruh saham baru itu akan diserap PT Danantara Asset Management.

Upaya perbaikan ini tak terlepas dari catatan kinerja keuangan GIAA yang terus merugi. Hingga 30 Juni 2025, posisi ekuitas Garuda masih negatif sekitar US$ 1,49 miliar. Total aset maskapai milik negara ini mencapai US$ 6,51 miliar, sedangkan liabilitas tercatat sebesar US$ 8,01 miliar.  

“Untuk itu diperlukan strategi dalam memperbaiki posisi keuangan khususnya untuk membantu masalah likuiditas perseroan melalui pelaksanaan transaksi dalam rangka keberlangsungan usaha perseroan yang lebih baik ke depan,” kata manajemen Garuda Indonesia dalam keterbukaan informasi dikutip Rabu (8/10).  

Adapun aksi private placement ini akan dilakukan Danantara melalui dua skema. Pertama, setoran modal tunai sebanyak-banyaknya US$ 1,44 miliar atau Rp 23,66 triliun. Kedua, konversi pinjaman pemegang saham menjadi saham baru senilai US$405 juta atau Rp 6,65 triliun.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...