Produksi Batu Bara Dipangkas hingga 70%, Bagaimana Nasib AADI, BUMI, dan INDY?

Nur Hana Putri Nabila
5 Februari 2026, 07:59
batu bara, saham, tambang
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa.
Foto udara sejumlah kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Mahakam, Samarinda, Kalimantan Timur, Selasa (20/1/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan memangkas hingga 70% jumlah produksi batu bara menjadi sekitar 600 juta ton pada tahun ini. Sejumlah emiten dinilai berpotensi diuntungkan karena tidak terdampak pemangkasan.

BRI Danareksa Sekuritas menyebut emiten yang diuntungkan dari kebijakan itu yakni perusahaan yang terafiliasi dengan konglomerat Garibaldi Thohir atau Boy Thohir, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Kemudian emiten Grup Bakrie–Salim PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Indika Energy Tbk (INDY) yang terafiliasi dengan Arsjad Rasjid.

BRI Danareksa Sekuritas mengatakan, untuk AADI, produksi utama dinilai tetap aman di kisaran ±65,2 juta ton sehingga dampak pemangkasan tidak signifikan.

Sementara itu, BUMI dinilai memiliki posisi kuat karena produksi KPC dan Arutmin tidak terkena pemangkasan, dengan estimasi total produksi sekitar ±74 juta ton. Skala produksi yang besar membuat BUMI berpotensi diuntungkan saat pasokan batu bara kian ketat.

Adapun INDY, melalui Kideco, berada di zona aman dengan estimasi produksi sekitar ±30 juta ton. “Pemenang adalah emiten dengan kuota aman dan volume besar, karena bisa menjual di harga lebih baik saat suplai nasional diketatkan,” tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam analisisnya, dikutip Kamis (5/2). 

Di sisi lain, BRI Danareksa Sekuritas juga menyoroti sejumlah emiten yang berpotensi dirugikan akibat pemangkasan produksi batu bara.

PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) diperkirakan mengalami penurunan produksi dari sekitar 6 juta ton menjadi 3,3 juta ton atau turun sekitar 45%.

Lalu PT Bayan Resources Tbk (BYAN) berpotensi terkena pemangkasan lebih dalam, dengan produksi yang diperkirakan turun dari sekitar 80 juta ton menjadi 38 juta ton atau merosot sekitar 53%.

Sementara itu, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) juga termasuk emiten yang mengalami pemangkasan signifikan, bahkan diperkirakan lebih dari 50%. “Kenaikan harga belum tentu menutup kehilangan volume, terutama jika pemangkasan dalam,” tulis BRI Danareksa. 

Sebelumnya Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan hal ini bertujuan untuk menjaga harga komoditas. Apalagi indonesia pada 2025 telah memproduksi 790 juta ton batu bara dengan komposisi 65% untuk ekspor dan 32% dialokasikan kebutuhan domestik.

Jumlah batu bara yang diperdagangkan di seluruh dunia berjumlah 1,3 miliar ton.  Dari jumlah tersebut Indonesia menyuplai 43% atau 514 juta ton. Bahlil mengatakan akibatnya terjadi ketidakseimbangan permintaan dan penawaran sehingga harga batu bara turun. 

“Produksi kami turunkan agar harga bagus dan tambang bisa diwariskan kepada generasi selanjutnya. Mengelola sumber daya alam tidak harus semuanya habis saat ini,” kata Bahlil dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (8/1).

Tren Produksi Batu Bara Sepanjang 2015–2025 

Dalam 10 tahun terakhir, tren produksi batu bara tergolong fluktuatif dengan kecenderungan meningkat usai pandemi Covid-19. Pada periode 2016-2017 jumlah produksi batu bara Indonesia masih berkisar 400 juta ton. Mayoritas dari jumlah tersebut dialokasikan untuk ekspor dibandingkan pemenuhan dalam negeri atau DMO. 

Berikut rincian produksi batu bara Indonesia: 

  • 2015: 461 juta ton 
  • 2016: 456 juta ton 
  • 2017: 461,25 juta 
  • 2018: 557,98 juta ton 
  • 2019: 616,15 juta ton 
  • 2020: 564 juta ton   
  • 2021: 641 juta ton 
  • 2022: 687 juta ton 
  • 2023: 775 juta ton 
  • 2024: 836 juta ton 
  • 2025: 790 juta ton

Adapun tren harga batu bara acuan (HBA) Indonesia sepanjang 2025 tergolong fluktuatif, namun cenderung menurun. Direktur Eksekutif Asosiasi Penambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Gita Mahyarani mengatakan kondisi serupa juga kemungkinan akan terjadi pada 2026.  

“Kami rasa harga batu bara tidak akan bergerak jauh karena belum terlihat adanya faktor pendorong pergerakan batu bara secara signifikan,” kata Gita pada pertengahan Desember 2025. kan harga batu bara akan stagnan tahun depan. 

“Bisa bertahan saja sudah cukup bagus. Kecuali ada konflik atau situasi global yang memanas bisa jadi sentimen naiknya permintaan dan harga,” ujar Bisman kepada Katadata.co.id.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...