Adu Kinerja hingga Prospek Emiten Saratoga – Boy Thohir MDKA, MBMA, EMAS
Tiga emiten genggaman Grup Saratoga dan Garibaldi Thohir atau Boy Thohir, yakni PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) telah melaporkan kinerja kuartal pertama 2026.
Sebagai induk usaha, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) membukukan pendapatan konsolidasi sebesar US$ 620,3 juta pada kuartal I 2026, naik 24% dibandingkan US$ 502,2 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
EBITDA meningkat 182% secara tahunan menjadi US$ 249,9 juta dari US$ 88,6 juta pada kuartal I 2025, sementara laba bersih konsolidasian mencapai US$ 120,2 juta, melonjak dari US$ 2,6 juta pada kuartal I 2025.
Adapun laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar US$ 57,5 juta, berbalik dari rugi bersih sebesar US$ 3,7 juta pada kuartal I 2025.
Presiden Direktur Merdeka Copper Gold, Albert Saputro, mengatakan segmen emas menjadi penyumbang terbesar terhadap EBITDA perseroan pada kuartal I 2026 dengan kontribusi sebesar US$ 89 juta.
Selanjutnya, kontribusi berasal dari Nickel Pig Iron (NPI) sebesar US$ 67 juta, limonit US$ 48 juta, High-Grade Nickel Matte (HGNM) sebesar US$ 25 juta, serta tembaga sebesar US$ 19 juta.
Ia mengatakan, produksi emas MDKA pada kuartal I 2026 mencapai 26.652 ounce, meningkat 5% secara tahunan. Kenaikan tersebut terutama ditopang oleh kontribusi produksi perdana dari Tambang Emas Pani yang dioperasikan oleh PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS).
Sementara itu, Tambang Emas Tujuh Bukit membukukan harga jual rata-rata sebesar US$ 4.841 per ounce, dengan biaya kas US$ 685 per ounce, termasuk royalti dan kredit perak. Dengan demikian, tambang tersebut menghasilkan margin tunai sebesar US$ 4.156 per ounce.
“Proyek Tembaga Tujuh Bukit saat ini berada dalam tahap feasibility study, dengan penyelesaian ditargetkan pada semester II 2026,” kata Albert dalam keterangannya, dikutip Selasa (30/6).
Kinerja MBMA
Di samping itu PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) membukukan pendapatan sebesar US$ 455,1 juta pada kuartal I 2026, meningkat 24% dibandingkan US$ 366,1 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan volume penjualan bijih nikel, membaiknya harga jual, serta penguatan margin Nickel Pig Iron (NPI).
Dari sisi profitabilitas, EBITDA MBMA melonjak 361% secara tahunan menjadi US$ 143 juta dari US$ 31 juta pada kuartal I 2025. Sementara itu, laba bersih konsolidasian naik menjadi US$ 82 juta dibandingkan US$ 6 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Adapun laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk (NPATMI) tercatat sebesar US$ 29,9 juta, berbalik dari rugi bersih sebesar US$ 3,5 juta pada kuartal I 2025.
Presiden Direktur Merdeka Battery Materials, Teddy Nuryanto Oetomo, mengatakan aktivitas penambangan nikel masih menjadi motor utama kinerja perseroan sepanjang kuartal I 2026.
Volume bijih nikel yang ditambang melonjak 143% secara tahunan menjadi 7,7 juta wet metric tonnes (wmt), didorong oleh peningkatan produksi limonit dan saprolit.
Penjualan limonit meningkat 126% menjadi 4,8 juta wmt untuk mendukung operasi High Pressure Acid Leaching (HPAL), sedangkan pengiriman saprolit naik 42% menjadi 1,9 juta wmt seiring optimalisasi pasokan dari tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) ke fasilitas peleburan perseroan.
Margin bijih nikel juga tetap terjaga, dengan margin tunai saprolit sebesar US$ 4,0 per wmt dan limonit US$ 10,1 per wmt.
Pada segmen Nickel Pig Iron (NPI), fasilitas Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) MBMA mengolah 2,2 juta wmt bijih saprolit dan menghasilkan 19.990 ton nikel dalam bentuk NPI, termasuk Low-Grade Nickel Matte (LGNM).
Produksi dan penjualan NPI meningkat 23% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan margin tunai mencapai US$ 3.982 per ton nikel berkat kenaikan harga jual dan berkurangnya penggunaan saprolit dari pihak ketiga.
Sementara itu, produksi High-Grade Nickel Matte (HGNM) naik 9% menjadi 10.361 ton, meski volume penjualan turun 19% akibat faktor waktu pengiriman.
Di bisnis hilir, PT ESG New Energy Material memproduksi 5.194 ton nikel dalam bentuk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), didukung peningkatan efisiensi pasokan bijih setelah rampungnya Feed Preparation Plant SCM dan jalur pipa slurry menuju IMIP.
Teddy mengatakan, MBMA juga terus mempercepat pengembangan proyek hilir melalui PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC). Hingga akhir kuartal I 2026, pembangunan pabrik HPAL dan Feed Preparation Plant masing-masing telah mencapai 95% dan 94%.
Proyek HPAL SLNC telah menyelesaikan proses commissioning pada akhir kuartal II 2026 dan kini menunggu penerbitan Izin Usaha Industri (IUI), dengan produksi komersial dijadwalkan meningkat secara bertahap sepanjang semester II 2026.
Sepanjang 2026, MBMA menargetkan pengiriman bijih saprolit sebesar 8 juta-10 juta wmt dan penjualan bijih limonit 20 juta-25 juta wmt. Perseroan juga membidik produksi NPI sebesar 70.000-80.000 ton nikel serta produksi HGNM sebanyak 44.000-48.000 ton.
“Produksi MHP dari operasi HPAL ESG ditargetkan mencapai 27.000 hingga 30.000 ton,” kata Teddy.
Bagaimana dengan Merdeka Gold (EMAS)?
PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) membukukan pendapatan US$ 2,6 juta pada kuartal I 2026, seiring dimulainya produksi komersial Tambang Emas Pani. Pendapatan tersebut berasal dari penjualan emas perdana yang dilakukan pada Maret 2026.
EMAS mencatatkan EBITDA negatif sebesar US$ 1 juta dan rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 10,9 juta.
Presiden Direktur Merdeka Gold Resources, Boyke P. Abidin, mengatakan kuartal I 2026 menjadi tonggak penting bagi perseroan setelah Tambang Emas Pani berhasil melakukan first gold pour pada Februari 2026 dan menyelesaikan penjualan emas perdana pada Maret 2026.
Sepanjang kuartal I 2026, Tambang Emas Pani memproduksi 1.818 ounce emas dan 3.500 ounce perak, serta membukukan penjualan perdana sebanyak 516 ounce emas.
Boyke mengatakan, kinerja awal Tambang Emas Pani turut didukung oleh tingginya harga emas. Selama kuartal I 2026, harga jual rata-rata emas mencapai US$ 5.123 per ounce.
Sementara itu, biaya tunai tercatat sebesar US$ 969 per ounce di luar royalti atau US$ 1.202 per ounce termasuk royalti, sehingga menghasilkan margin tunai sebesar US$ 3.921 per ounce pada fase awal ramp-up. Adapun all-in sustaining cost (AISC) tercatat sebesar US$ 4.463 per ounce di luar royalti atau US$ 4.696 per ounce termasuk royalti.
“EMAS memperkirakan biaya per unit akan berangsur normal seiring peningkatan volume produksi Tambang Emas Pani,” jara Boyke.
Boyke juga mengatakan Tambang Emas Pani menargetkan produksi 100.000–115.000 ounce emas sepanjang 2026, sesuai Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang telah disetujui.
Perseroan menargetkan biaya tunai di kisaran US$ 900–US$ 1.100 per ounce, sedangkan AISC diproyeksikan berada pada rentang US$ 1.300–US$ 1.450 per ounce, di luar royalti dan kredit perak. Adapun produksi perak sebagai produk sampingan diperkirakan mencapai 100.000–200.000 ounce pada tahun ini.
Setelah berakhirnya kuartal I 2026, EMAS juga mengumumkan estimasi sumber daya mineral perdana di prospek Kolokoa sebesar 42 juta ton dengan kadar emas 0,33 gram per ton, yang mengandung sekitar 445.000 ounce emas.
Penambahan tersebut meningkatkan total inventaris sumber daya mineral Tambang Emas Pani dari 7 juta ounce menjadi sekitar 7,4 juta ounce emas atau bertambah sekitar 6%.
Selain itu, pada 26 Juni 2026, EMAS resmi menyelesaikan pencatatan sekunder di Main Board The Stock Exchange of Hong Kong Limited (HKEX) melalui skema Hong Kong Depositary Receipts (HDR) dengan kode saham 6228.
