Moody’s Beri Outlook Negatif Surat Utang Dolar Danantara (DIM) US$ 5 Miliar
Moody’s Ratings memberikan peringkat Baa2 dengan prospek negatif untuk surat utang senior tanpa jaminan berdenominasi dolar AS yang akan diterbitkan Danantara Investment Management (DIM). Surat utang itu menjadi bagian dari program surat utang jangka menengah (MTN) global DIM senilai US$ 5 miliar yang memiliki peringkat (P)Baa2.
Dalam laporannya pada Selasa (21/7), lembaga pemeringkat itu mengungkapkan alasan menyematkan peringkat DIM di level Baa2. Menurut mereka, hal itu disebabkan setara dengan peringkat sovereign Pemerintah Indonesia. Moody’s menilai kesamaan peringkat itu mencerminkan kuatnya hubungan kredit antara DIM dan pemerintah.
Hubungan ini tercermin dari struktur kepemilikan DIM, perannya dalam Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), hingga ekspektasi Moody’s terhadap kemungkinan dukungan luar biasa pemerintah secara tepat waktu apabila diperlukan.
Moody’s mengklasifikasikan DIM sebagai emiten terkait pemerintah atau government-related issuer (GRI) dan menggunakan pendekatan top-down dalam menetapkan peringkat. Moody’s tidak menetapkan penilaian kredit dasar atau baseline credit assessment (BCA) untuk DIM karena perusahaan masih berada pada tahap awal perkembangan, memiliki rekam jejak yang terbatas, dan belum memiliki operasi mandiri yang signifikan.
“Oleh karena itu, peringkat ini terutama didorong oleh keterkaitan dengan negara, bukan oleh kekuatan kredit mandiri,” tulis Moody’s dalam laporannya, dikutip pada Rabu (22/7).
Keterkaitan peringkat tersebut juga didukung oleh landasan hukum dan hubungan kepemilikan DIM dengan BPI Danantara. DIM didirikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025 sebagai bagian dari struktur kelembagaan Danantara. Dalam struktur tersebut, BPI Danantara berperan sebagai entitas induk yang bertanggung jawab mengelola dan mengoptimalkan aset dan investasi BUMN.
Danantara memiliki seluruh saham DIM. Selain itu, kerangka hukum mensyaratkan setiap divestasi DIM dilakukan melalui perubahan undang-undang, sehingga memperkuat hubungan kepemilikan tersebut.
Moody’s juga menilai pengawasan pemerintah dan keterkaitan tata kelola antara pemerintah, BPI Danantara, dan DIM meningkatkan kemungkinan adanya dukungan pemerintah secara tepat waktu jika diperlukan. Hal ini juga terlihat dari adanya sejumlah anggota manajemen senior dan dewan yang sama di BPI Danantara dan DIM. Menurut Moody’s, kondisi tersebut membantu memastikan keselarasan strategi dan pelaksanaan investasi kedua entitas.
“Prospek negatif pada peringkat DIM sejalan dengan prospek negatif pada peringkat sovereign Pemerintah Indonesia, yang mencerminkan keterkaitan kredit yang kuat antara keduanya,” tulis Moodys dalam laporannya.
Mencermati Likuiditas DIM
Selain itu, Moody’s menilai likuiditas DIM berada pada level yang sangat baik. Likuiditas di tingkat holding tersebut ditopang suntikan modal dari Danantara.
Selain itu, Moody’s juga menyebut DIM telah membangun sejumlah sumber pendanaan eksternal, termasuk melalui penerbitan obligasi perdana senilai US$ 1,5 miliar, Patriot Bonds senilai Rp 68,4 triliun, hingga fasilitas kredit revolving senilai US$ 10 miliar. Dari fasilitas tersebut, US$ 1 miliar telah dikomitmenkan.
Sebagian fasilitas kredit tersebut telah ditarik untuk mendanai penempatan modal pada dana swasta dan investasi terkait properti. DIM memperkirakan akan kembali menarik fasilitas tersebut seiring dengan berlanjutnya penempatan modal.
Di sisi lain, Moody’s menyebut DIM tidak memiliki kewajiban membayar dividen dan tidak memiliki utang yang jatuh tempo dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Kendati demikian, Moody’s menilai peluang kenaikan peringkat DIM saat ini terbatas seiring prospek negatif pada peringkat sovereign Pemerintah Indonesia. Dalam jangka panjang, peringkat DIM kemungkinan akan bergerak sejalan dengan peringkat sovereign itu.
Alhasil, kenaikan peringkat Pemerintah Indonesia dapat mendorong kenaikan peringkat DIM, selama hubungan perusahaan dengan pemerintah tetap tidak berubah. Sebaliknya, peringkat DIM dapat diturunkan apabila peringkat sovereign Pemerintah Indonesia diturunkan. Peringkat DIM juga dapat berada di bawah tekanan apabila hubungan perusahaan dengan pemerintah melemah.
“Termasuk perubahan pada mandat, kepemilikan, atau perannya dalam struktur Danantara yang mengurangi ekspektasi kami terhadap dukungan luar biasa dari pemerintah yang diberikan tepat waktu,” tulis Moody’s.
