Rencana BTN: Luncurkan Obligasi Rp 2 T Bulan Ini hingga Siapkan Tabungan Emas
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) menyiapkan sejumlah strategi untuk memperkuat pendanaan dan mengembangkan layanan digital. BBTN berencana menerbitkan obligasi berdenominasi rupiah senilai sekitar Rp 2 triliun pada September 2026 serta menyiapkan layanan tabungan emas digital.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan penerbitan obligasi tersebut masih menunggu kondisi pasar. Namun, perseroan menargetkan aksi korporasi itu dapat dilakukan dalam waktu dekat.
“Besarannya, kami masih lihat pasar. Tapi dalam waktu dekat kami akan umumkan bonds. Bulan ini. Targetnya sih Rp 2 t,” kata Nixon ditemui di Menara 2 BTN, Jakarta, Senin (31/8).
Nixon memastikan obligasi tersebut akan diterbitkan dalam denominasi rupiah, bukan global bonds. Menurut dia, penerbitan surat utang dalam rupiah lebih sesuai dengan kebutuhan pendanaan perseroan.
“Global bonds memang kami tidak perlu, karena kurs kan kayak begini (melemah). Kami butuhnya buat rupiah,” ujarnya.
Siapkan Tabungan Emas Digital di Bale
Selain menerbitkan obligasi, BTN juga tengah menyiapkan layanan tabungan emas digital melalui aplikasi mobile banking Bale by BTN. Nixon mengatakan layanan tersebut masih dalam proses perizinan di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI). Karena itu, perseroan belum dapat memastikan waktu peluncuran layanan tersebut.
“Masih proses perizinan. Nanti dicek ketentuannya, teknologinya, keamanannya, kesiapan infrastrukturnya. Jadi it will take time,” kata Nixon.
Pada tahap awal, layanan tersebut akan difokuskan pada fitur cicil emas. BTN berencana menambah fitur dan produk secara bertahap setelah layanan tersebut memperoleh izin dan siap digunakan.
Nixon berharap proses perizinan dapat selesai sebelum akhir 2026 sehingga layanan tabungan emas digital BTN dapat segera diluncurkan.
Kinerja Keuangan BBTN Semester I 2026
BBTN membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 2,4 triliun pada paruh pertama 2026. Angka tersebut melonjak 40,8% (YoY) dibandingkan dengan laba bersih perseroan pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,7 triliun.
Pertumbuhan laba ditopang peningkatan penyaluran kredit dan pembiayaan konsolidasi yang mencapai Rp 418,11 triliun per Juni 2026. Nilai tersebut tumbuh 11,2% YoY dibandingkan dengan Rp 376,11 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan kredit terutama berasal dari segmen nonperumahan yang melonjak 46,1% secara tahunan menjadi Rp 85,22 triliun dari sebelumnya Rp 58,34 triliun. Sementara itu, kredit perumahan tumbuh 4,8% YoY menjadi Rp 332,88 triliun dari Rp 317,77 triliun.
Kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi masih menjadi penopang utama kredit perumahan BTN. Penyaluran KPR subsidi tumbuh 8,1% YoY menjadi Rp 196,96 triliun dari Rp 182,17 triliun. Selain itu, Kredit Program Perumahan (KPP) yang disalurkan BTN telah mencapai Rp 4,1 triliun per Juni 2026 sejak diluncurkan pada akhir Oktober 2025.
“Kami optimistis hingga akhir tahun nanti, kinerja BTN tetap on track melanjutkan catatan positif di paruh pertama tahun ini,” ujar Nixon dalam keterangan tertulis, Kamis (16/7).
