Sambangi Cina, Danantara Jajaki Peluang Investasi Pelabuhan hingga PLTS
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia mengantongi sederet peluang investasi dari sejumlah perusahaan asal Cina. Kesempatan itu didapat seusai Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, melakukan kunjungan kerja ke Negeri Tirai Bambu pada pekan lalu.
Rosan mengatakan, sejumlah perusahaan Cina menunjukkan minat untuk berinvestasi di Indonesia, mulai dari sektor pelabuhan, tekstil, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), hingga hilirisasi mineral. Kendati demikian, dia tidak menjelaskan lebih jauh apakah sudah ada realisasi penjajakan dengan perusahaan-perusahaan tersebut atau belum.
“Jadi yang saya temuin itu cukup banyak sih ya, dari bidang yang tertarik investasi di seaport, dermaga, pelabuhan, kemudian juga tekstil,” kata Rosan ketika ditemui seusai acara Technology Innovation Investment Forum di Hotel Fairmont, Jakarta, Senin (26/10).
Menurut dia, kunjungannya ke Cina dilakukan untuk bertemu dengan sejumlah perusahaan yang telah memiliki afiliasi di Indonesia maupun calon investor lainnya. Pertemuan tersebut bertujuan menghimpun masukan sekaligus menyempurnakan rencana investasi Danantara.
Rosan menyebut terdapat sembilan perusahaan yang sudah ia temui. Salah satunya bergerak di sektor tekstil. Selain itu, terdapat dua perusahaan yang menunjukkan minat terhadap investasi di sektor PLTS. Danantara juga bertemu dengan calon investor yang tertarik pada sektor hilirisasi, khususnya pengolahan mineral.
Dia menilai minat investor Cina terhadap Indonesia masih terjaga. Karena itu, Danantara akan terus menjalin komunikasi dengan para calon investor untuk menindaklanjuti peluang investasi yang telah dijajaki. “Minat investasi tetap terjaga, tetap baik dan kami akan rutin bicara dengan mereka,” ujar Rosan.
Kendati demikian, dia belum memerinci nilai investasi potensial dari pertemuan tersebut, termasuk perusahaan yang telah menyatakan komitmen untuk merealisasikan investasinya di Indonesia.
Dikutip dari Instagram pribadinya, @rosanroeslani, Rosan membagikan momen pertemuannya dengan para petinggi perusahaan di Cina. Dari industri maritim, dia bertemu perusahaan industri maritim di Zhejiang, Cina, yaitu Xiangshan Pugang Dockyard.
Dalam pertemuan itu, Danantara dan Xiangshan membahas peluang investasi untuk memperkuat industri galangan kapal Indonesia, mulai dari pembangunan hingga perbaikan dan pemeliharaan kapal, termasuk kapal penangkap ikan. Pertemuan itu diharapkan dapat meningkatkan industri maritim nasional dan berujung pada penambahan kapasitas, serta mendukung produktivitas sektor perikanan dan menciptakan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia.
Masih di sektor maritim, Rosan juga bertemu dengan grup perikanan terintegrasi di Cina yaitu Xin Fa Holdings. Fokus dari pertemuan ini adalah mencari peluang investasi di sektor kelautan dan perikanan. Dia mengatakan diskusi bersama Xin Fa Holdings difokuskan fokus pada potensi pengembangan industri pengolahan hasil laut dan penguatan rantai pasok perikanan untuk meningkatkan nilai tambah sektor maritim Indonesia.
Selain itu, Rosan juga menemui pemimpin perusahaan Tsingshan Holding Group Xiang Guangda. Tsingshan Holding Group adalah entitas bisnis swasta raksasa asal Cina yang bergerak di bidang industri metalurgi, khususnya produksi baja tahan karat (stainless steel), nikel dan aluminium. Dalam pertemuan itu, Rosan membahas pengembangan industri nikel dan baja tahan karat (stainless steel) di Indonesia, dengan fokus pada pendalaman hilirisasi serta peluang pengembangan industri lanjutan.
Dengan basis industri Tsingshan di Morowali dan Weda Bay, pengembangan lebih lanjut berpotensi memperkuat kapasitas industri nasional sekaligus meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Untuk industri tekstil, dia menemui pemasok H&M and Partners di Shanghai. Menurutnya, industri tekstil Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan nilai tambah melalui pengembangan industri dari hulu hingga hilir. Dalam pertemuan dengan H&M, mereka membahas peluang kerja sama untuk memperdalam struktur industri dan meningkatkan kapasitas manufaktur dalam negeri.
Adapun langkah tersebut menurutnya membuka peluang bagi Indonesia untuk bergerak dari basis produksi menuju industri bernilai tambah tinggi yang lebih kompetitif di pasar global.
Sementara itu di industri kendaraan listrik, Danantara bertemu dengan Geely Holding Group. Danantara bersama Geely membahas percepatan realisasi investasi untuk fasilitas perakitan kendaraan listrik dan pusat riset otomotif di Indonesia.
“Kerja sama ini dapat memperkuat ekosistem transportasi hijau di pasar domestik, meningkatkan penyerapan tenaga kerja lokal, serta mendorong Indonesia menjadi hub produksi kendaraan listrik regional,” tulis Rosan dalam Instagram pribadinya dikutip Senin (26/10).
