Bank Dunia: Indonesia Rugi Rp 56 Triliun Per Tahun Akibat Kemacetan

Agatha Olivia Victoria
3 Oktober 2019, 17:52
bank dunia, kemacetan
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Ilustrasi kemacetan. Bank Dunia memproyeksi kemacetan di Indonesia menimbulkan kerugian mencapai Rp 56 triliun per tahun.

Bank Dunia memproyeksi kemacetan yang terjadi di kota-kota besar Indonesia menimbulkan kerugian paling sedikit US$ 4 miliar atau sekitar Rp 56 triliun (asumsi kurs Rp 14 ribu per dolar AS). Nilai tersebut setara dengan 0,5% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. 

Senior Urban Economist World Bank Mark Roberts menyebutkan, banyak kawasan perkotaan menunjukkan tanda-tanda tekanan kepadatan karena ketidakmampuan dalam mengelola urbanisasi. Salah satunya, kemacetan lalu-lintas yang berdampak negatif terhadap kelayakan huni dan produktifitas masyarakat.

Advertisement

"Total biaya yang terbuang akibat kemacetan di Indonesia minimal US$4 miliar per tahun atau setara dengan 0,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional," kata Mark dalam peluncuran Laporan Bank Dunia bertajuk "Realizing Indonesia's Urban Potential" di Hotel Pullman, Jakarta, Kamis (3/10).

Asumsi kerugian tersebut dihitung dari waktu perjalanan dan konsumsi bahan bakar di 28 wilayah perkotaan. Sedangkan untuk daerah Jakarta saja, Bank Dunia memperkirakan total kerugian akibat kemacetan mencapai US$2,6 miliar atau setara dengan Rp 36 Triliun.

(Baca: Bank Dunia Ungkap Penyebab Indonesia Belum Naik Kelas)

Mark menjelaskan prasarana yang ada tidak memadai untuk menghubungkan wilayah pinggiran ke pusat kota. Ini karena kurangnya investasi untuk pembangunan infrastruktur transportasi. Ia menulai jaringan jalan dan kereta api Indonesia tak seluas di negara-negara lain.

Dalam beberapa dekade terakhir, Tiongkok telah membangun jaringan tol sepanjang 96.000 kilometer yang menghubungkan kota-kota terbesar di negara tersebut dan sedang membangun jaringan kereta api kecepatan tinggi terpanjkang di dunia. India juga telah membangun jaringan jalan tol Golden Quadrilateral sepanjang hampir 6.000 kilometer untuk menghubungkan Delhi, Kolkata, Mumbai dan Chennai.

Di sisi lain, biaya pengiriman kontainer di Indonesia juga masih terbilang mahal. Biaya pengiriman kontainer 6-meter di Indonesia dari Tanjung Priok ke Jayapura, Banjarmasin, dan Padang masing-masing US$1000, US$650, dan US$600. Biaya ini  lebih mahal jika dibandingkan dengan biaya pengiriman dari Tanjung Priok ke Guangzhou, Tiongkok sebesar US$400.

Halaman:
Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...
Advertisement