Faisal Basri: Harga Beras Penyebab Utama Angka Kemiskinan
KATADATA ? Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri menilai kenaikan harga BBM bersubsidi bukan penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan, melainkan harga beras.
Menurut dia, kenaikan harga BBM bersubsidi hanya akan berdampak sementara terhadap seluruh segmen masyarakat. Sementara harga beras justru mempengaruhi pendapatan masyarakat miskin dalam waktu panjang.
?Katanya yang paling menderita karena kenaikan BBM adalah orang miskin. Tetapi jika dicek, garis kemiskinan itu ditentukan sepertiganya oleh harga beras,? ujar Faisal saat wawancara dengan Katadata.
Jika dihitung sejak November 2008 hingga Juli 2014, harga beras sudah naik 75 persen dari Rp 6.441 per kilogram (kg) menjadi Rp 11.321 per kg. Namun kenaikan harga itu tidak serta merta membuat petani menjadi sejahtera.
Persoalannya, petani hanya memperoleh pendapatan 40 persen dari harga beras eceran tersebut. ?Selebihnya diterima oleh pemilik penggilingan dan distributor,? kata dia.
Di sisi lain, pada periode yang sama harga BBM bersubsidi hanya naik 8,3 persen dari Rp 6.000 menjadi Rp 6.500 per liter. Sementara orang miskin di pedesaan hanya mengeluarkan 2,5 persen dari pengeluarannya untuk membeli BBM.
Hal ini, kata Faisal, menunjukkan bahwa beras menjadi faktor utama yang menyebabkan garis kemiskinan meningkat. Bahkan, pengeluaran untuk BBM masih kalah dari rokok yang mencapai 8,6 persen.
Menurut dia, cara yang lebih tepat untuk mengurangi kemiskinan adalah dengan menstabilkan harga beras. Adapun mempertahankan harga BBM bersubsidi justru hanya dinikmati oleh kelas menengah ke atas.
?Pemerintah juga harus meningkatkan apa yang diterima petani dengan membenahi kondisi pasca-panen,? tuturnya.
Di samping itu, dengan kenaikan harga BBM sebesar Rp 3.000 per liter, pemerintah akan menghemat APBN sebesar Rp 138 triliun. Dana itu bisa digunakan untuk membangun sektor pertanian dan membenahi angkutan publik.
Adapun waktu yang pas untuk menaikkan harga BBM jika melihat tren inflasi yang terus melandai adalah pada September. Namun pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono sudah menyatakan tidak akan menaikkan harga BBM di ujung pemerintahannya.
Dengan demikian, mau tidak mau pemerintahan Joko Widodo harus cepat menaikkan harga BBM sesudah dilantik pada 20 Oktober mendatang. Menurut Faisal, November merupakan momentum yang tepat untuk menaikkan harga BBM.
(Baca: Faisal Basri: November Momentum Tepat Naikkan Harga BBM)
