Rupiah Anjlok Tertekan Sentimen Kenaikan Indeks Manufaktur AS
Nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,11% ke level Rp 14.272 per dolar AS pada pasar spot pagi ini, Selasa (2/3). Rupiah anjlok akibat penguatan dolar AS seiring sentimen kenaikan indeks manufaktur Negeri Paman Sam.
Mengutip Bloomberg, rupiah bergerak melemah ke posisi Rp 14.275 per dolar AS. Mayoritas mata uang Asia melemah pagi ini. Yen Jepang turun 0,11%, dolar Singapura 0,2%, won Korea Selatan dan peso Filipina masing-masing melemah 0,02%, rupee India 0,11%, yuan Tiongkok 0,03%, dan baht Thailand 0,16%. Hanya dolar Taiwan dan ringgit Malaysia yang menguat 0,12% dan 0,02%. Sementara dolar Hong Kong stagnan.
Analis Monex Investindo Futures Faisyal mengatakan pelemahan rupiah dipicu penguatan dolar AS. "Optimisme kenaikan dolar datang dari indeks manufaktur AS semalam," ujar Faisyal kepada Katadata.co.id, Selasa (2/3).
Reuters melaporkan, aktivitas manufaktur Negeri Paman Sam meningkat ke level tertinggi tiga tahun pada Februari 2021. Perkembangan itu dilaporkan oleh Institute for Supply Management (ISM) pada Senin (1/3) waktu setempat.
ISM mengatakan bahwa indeks aktivitas pabrik nasional rebound ke level 60,8 pada bulan lalu dari 58,7 pada Januari 2021. Itu merupakan level tertinggi sejak Februari 2018. Angka di atas 50 menunjukkan ekspansi di bidang manufaktur yang menyumbang 11,9% dari ekonomi AS.
Ekspansi manufaktur didorong oleh permintaan yang kuat untuk barang-barang seperti elektronik dan furnitur. Sebanyak 23,2% angkatan kerja bekerja dari rumah karena virus Covid-19.
Dengan adanya data tersebut, Faisyal menilai bahwa pandangan pasar semakin kuat kalau ekonomi AS mulai berada di jalan pemulihan. "Ini terus memicu pasar memburu mata uang negara tersebut," ujar dia.
Saat berita ini ditulis, indeks dolar AS naik 0,1% ke level 91.13. Adapun dia memperkirakan rupiah berpotensi bergerak di antara Rp 14.170-14.300 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menyampaikan bahwa dolar AS cenderung menguat terhadap beberapa mata uang negara maju lainnya, seperti pound Inggris dan euro tetapi melemah terhadap mata uang berbasis komoditas seperti dolar Australia. Kemarin, Senat AS setuju untuk membahas aturan stimulus pada pekan ini, setelah DPR sepakat meloloskan aturan tersebut pada hari Sabtu (27/2).
"Optimisme terkait stimulus dan data aktivitas manufaktur mendorong sentimen di pasar saham global," kata Josua kepada Katadata.co.id.
Penguatan dolar AS pun, lanjut dia, menyebabkan rupiah melemah meskipun tidak sedalam pelemahan pada hari Jumat (26/2). Dengan demikian,mata uang Garuda kemungkinan akan bergerak di rentang Rp 14.200-14.350 per dolar AS hari ini.
