Dibuka Menguat, Rupiah Rentan Melemah karena Corona & Konflik AS-Rusia

Agatha Olivia Victoria
22 April 2021, 10:05
Dibuka Menguat, Rupiah Rentan Melemah karena Corona & Konflik AS-Rusia
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/pras.
Karyawan menghitung uang rupiah di Bank Mandiri Syariah, Jakarta, Senin (18/5/2020).

Nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,12% ke level Rp 14.512 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pasar spot pagi ini (22/4). Namun, analis menilai rupiah rentan melemah pada hari ini karena beberapa faktor, salah satunya kenaikan kasus positif corona.

Selain rupiah, mayoritas mata uang Asia menguat pagi ini. Dikutip dari Bloomberg, yen Jepang naik 0,02%, dolar Hong Kong 0,04%, dolar Singapura 0,13%, dolar Taiwan 0,15%, won Korea Selatan 0,24%, peso Filipina 0,07%, yuan Tiongkok 0,08%, ringgit Malaysia 0,14%, dan baht Thailand 0,06%. Hanya rupee India yang melemah 0,77%.

Analis Pasar Uang Ariston Tjendra mengatakan, sentimen aset berisiko terlihat membaik hari ini. Indeks saham Eropa dan AS ditutup menguat pada perdagangan kemarin. Pagi ini, indeks saham Jepang dan korea juga terlihat menguat.

"Sentimen positif ini juga ditopang oleh turunnya imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di kisaran 1,53% pagi ini," ujar Ariston kepada Katadata.co.id, Kamis (22/4).

Dia menilai, rupiah berpotensi menguat dengan kedua sentimen tersebut. Potensi penguatan ke arah Rp 14.500 dan resisten di Rp 14.550 per dolar AS.

Akan tetapi, Ariston menilai bahwa pasar masih mewaspadai lonjakan kasus baru Covid-19. Ini bisa memberikan sentimen negatif ke pasar.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji pun memperkirakan, rupiah akan berbalik melemah hari ini. "Sentimennya karena adanya ketegangan antara AS dengan Rusia," ujar Nafan kepada Katadata.co.id.

Hubungan kedua negara kian memanas karena 10 diplomat AS diusir setelah Presiden Rusia Vladimir Putin berpidato. Ini untuk membalas perilaku pemerintahan AS yang sempat mengusir diplomat Rusia pada pekan lalu, karena dicurigai sebagai intelijen.

Selain itu, Rusia berselisih dengan Ukraina. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menandatangi Undang-undang (UU) pada Rabu (21/4) untuk mempersiapkan pasukan cadangan dalam menghadapi Rusia.

Sependapat dengan Ariston, Nafan menilai bahwa kenaikan kasus positif corona turut menjadi sentimen negatif. Dikutip dari Worldometers, kasus Covid-19 di dunia mencapai 144,43 juta. Angka kematian 3,07 juta dan kesembuhan 122,61 juta.

Dari dalam negeri, Nafan mengatakan bahwa mutasi Covid-19 berupa varian B117 dan B1525 telah ditemukan. Ini membuat pasar khawatir untuk menanamkan modalnya di Tanah Air.

Varian B117 dan B1525 menyebabkan mutasi  virus corona E484K. Temuan pertama mutasi varian itu terdeteksi di Jakarta pada awal bulan ini. Temuan didapat dari beberapa pemeriksaan sampel dari salah satu rumah sakit di Jakarta Barat.

Pasien dengan varian mutasi E484K di Indonesia dinyatakan telah sembuh. Dari hasil pelacakan, tak ada satupun yang dinyatakan positif corona dari kontak erat dengan pasien tersebut.

Selain itu, "data ekonomi domestik yang memberikan dampak positif tinggi juga minim (pengaruhnya ke rupiah)," ujar Nafan.

Secara teknikal, ia melihat adanya pola upward bar pada grafik harian. Ini mengindikasikan potensi depresiasi rupiah terhadap dolar AS. Dengan begitu, potensi pergerakan ada di antara Rp 14.480-14.570 per dolar AS.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Agatha Olivia Victoria

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...