Rupiah Dibuka Melemah ke Rp 15,335/US$ Tertekan Proyeksi Inflasi AS
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diprediksi melemah hari ini. Rupiah dibuka menurun 0,04% ke level 15,335 pada awal perdagangan hari (12/9).
Analis pasar uang Ariston Chendra menilai rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS seiring dengan kenaikan tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Pasar kemungkinan mengantisipasi kenaikan inflasi konsumen AS bulan Agustus yang akan dirilis besok. Analis sebelumnya berekspektasi inflasi akan mencapai 3,6%, naik dari sebelumnya 3,2% secara tahunan atau year-on year.
“Kemungkinan suku bunga tinggi akan dipertahankan untuk jangka waktu yang lebih lama menjadi lebih besar sehingga ini bisa mendorong pasar masuk ke dolar AS,” kata Ariston dalam risetnya
Selain itu, data penjualan ritel Indonesia bulan Juli yang tumbuh jauh di bawah pertumbuhan bulan sebelumnya berpotensi memberikan sentimen negatif. Rupiah diprediksi akan melemah ke level 15.350 dengan potensi support di kisaran 15.300.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan rupiah dibuka melemah akibat data ekonomi AS. Meski demikian, mata uang Asia lainnya, seperti Yen Jepang, Yuan Cina, Baht Thailand diprediksi menguat didukung sentimen domestik.
Yen Jepang terapresiasi setelah pernyataan Ueda yang berpotensi memangkas suku bunga acuan. Sementara yuan menguat setelah pemerintah Cina menyatakan akan intervensi penuh untuk menstabilkan mata uang mereka.
“Baht Thailand terapresiasi ketika pemerintah mengumumkan stimulus ke Thailand untuk mendukung pertumbuhan ekonomi,” kata Josua.
Meski demikian, melansir Bloomberg, sejumlah negara Asia juga menunjukkan pelemahan mata uang terhadap dolar AS. Yen Jepang turun 0,03%, peso Filipina turun 0,08%, ringgit Malaysia turun 0,05%, dan baht Thailand turun 0,14%.
