Survei KIC: Kelas Menengah di RI Masih Jauh dari Kebebasan Finansial

Agustiyanti
18 Februari 2025, 09:30
kelas menengah, KIC, kebebasan finansial
ANTARA FOTO/Fauzan/tom.
Ilustrasi. Survei KIC menunjukkan, dua dari tiga anggota kelas menengah Indonesia belum memiliki rumah atau tempat tinggal sendiri.

Ringkasan

  • Kelas menengah Indonesia masih jauh dari kebebasan finansial, mayoritas belum memiliki rumah dan menghadapi tantangan biaya pendidikan dan kesehatan.
  • Meski 70% kelas menengah telah melakukan perencanaan keuangan, keterbatasan pendapatan dan kenaikan biaya hidup menghambat upaya menabung dan investasi.
  • Mayoritas pengeluaran kelas menengah dialokasikan untuk kebutuhan pokok, sementara pengeluaran untuk investasi menurun, menunjukkan tekanan ekonomi dan penurunan daya beli.
! Ringkasan ini dihasilkan dengan menggunakan AI
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI
 

Survei yang digelar Katadata Insight Center menunjukkan, kelas menengah masih jauh dari kebebasan finansial. Hal ini terindikasi dari hasil survei terhadap kondisi kelas menengah terkait tempat tinggal, pendidikan, dan layanan kesehatan. 

Berdasarkan survei yang bertajuk "Kelas Menengah Indonesia di Tengah Ketidakpastian Ekonomi", hampir 70% kelas menengah sudah melakukan perencanaan keuangan. Satu dari dua responden sudah memisahkan uang untuk tagihan dan keperluan sehari-hari.

Lebih dari 40% responden bahkan mencatat pengeluaran mereka. Laporan KIC pun menekankan, kebiasaan-kebiasaan ini merupakan indikator penting dari perilaku finansial yang sehat dan menunjukkan upaya yang kuat untuk menjaga keamanan finansial. 

Namun, fakta lain menunjukkan bahwa kelas menengah masih jauh dari kebebasan finansial. Dua dari tiga anggota kelas menengah Indonesia belum memiliki rumah atau tempat tinggal sendiri. Saat ini, sebagian besar dari mereka masih tinggal bersama orang tua atau menyewa.

Dalam aspek pendidikan, persepsi kelas menengah Indonesia terhadap biaya pendidikan tergolong rendah, meskipun sedikit lebih baik dibandingkan persepsi terhadap pemerataan pendidikan. Indikator biaya pendidikan memperoleh skor 5,74 dari total skor 10, yang mengindikasikan bahwa biaya pendidikan masih menjadi beban signifikan bagi mereka. 

Persepsi kelas menengah Indonesia terhadap biaya kesehatan juga terbilang buruk. Biaya kesehatan hanya memperoleh skor 5,85 dari total skor 10, jauh lebih rendah dari skor rata-rata keseluruhan indikator yang mencapai 6,67. Hal ini, menurut laporan KIC, menggambarkan, biaya kesehatan juga merupakan salah satu tantangan besar yang dihadapi kelas menengah Indonesia.

Kekhawatiran kelas menengah terhadap masa pensiun juga didominasi oleh isu-isu finansia,, disamping kekhawatiran terkait penurunan kondisi kesehatan seiring bertambahnya usia, Dari enam kekhawatiran utama masa pensiun, empat di antaranya berkaitan langsung dengan masalah finansial, yaitu kurangnya pendapatan, peningkatan biaya pengobatan, inflasi dan kenaikan biaya hidup,  serta kurangnya tabungan. 

Kondisi ini, menurut KIC, menunjukkan bahwa persiapan finansial untuk masa pensiun masih menjadi tantangan signifikan bagi kelas menengah. 

Survei juga menunjukkan 19,3% penduduk kelas menengah sudah menyisihkan pendapatannya untuk tabungan. Namun, mayoritas masih mempersiapkan tabungan untuk kebutuhan darurat. 

Keterbatasan kelas menengah untuk menyisihkan dana guna menabung atau berinvestasi membuat ekonomi mereka sulit berkembang. Porsi pendapatan mereka untuk menabung semakin tertekan oleh kenaikan biaya hidup yang tak setinggi kenaikan pendapatan.

Berdasarkan survei, kelas menengah masih mengalokasikan mayoritas atau 60% pendapatannya untuk kebutuhan pokok dan pembayaran cicilan. Hal ini seiring dengan porsi pengeluaran kelas menengah untuk kebutuhan pokok terus meningkat setiap tahunnya, terutama untuk pengeluaran makanan dan kebutuhan rumah tangga.

Data Survei Sosial Ekonomi Nasional menunjukkan pengeluaran kelas menengah untuk makanan naik dari 20,22% pada 2014 menjadi 22,3% pada 2023. Pengeluaran untuk kebutuhan rumah tangga melonjak dari 11,4% menjadi 16,2%, sedangkan pengeluaran untuk barang tahan lama turun dari 4,8% menjadi 2,9%. 

Pengeluaran kebutuhan nonprimer atau yang bersifat investasi merupakan salah satu indikasi daya beli dan kesejahteraan ekonomi. Penurunan pengeluaran kategori ini mencerminkan adanya tekanan ekonomi yang menyebabkan daya beli kelas menengah menurun.

Survei dilakukan KIC terhadap 472 responden dilakukan secara online dengan metode non-probability sampling. Populasi terdiri dari penduduk Indonesia berusia 17-59 tahun yang tersebar di 10 kota besar, yakni Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Medan, Denpasara, Makassar, Banjarmasin, dan Jayapura. 

Mayoritas responden yang berpartisipasi dalam survei ini adalah laki-laki atau sebesar 60%. Sebagian besar atau 45,8% berusia antara 28 hingga 43 tahun, yang tergolong dalam generasi Milenial. Sebanyak 53% responden sudah menikah.

Selain itu, mayoritas responden atau 76,1% berasal dari kelompok pendapatan 2 juta hingga Rp 4 juta  dan memiliki tingkat pendidikan setara Sarjana sebanyak 43% responden serta SMA  sebanyak 40%. Mayoritas responden bekerja di sektor formal, terutama sebagai karyawan swasta  sebanyak 38,1%. Adapun margin of error survei sebesar 4,6%. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...