Kadin Proyeksi Nilai Perdagangan RI - AS Tembus Rp 1,3 Kuadriliun usai Negosiasi

Mela Syaharani
12 Mei 2025, 17:55
Kadin
Katadata/Fauza Syahputra
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Anindya Novyan Bakrie menyampaikan paparan saat acara jumpa pers bersama wartawan di Jakarta, Jumat (9/5/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Anindya Novyan Bakrie memproyeksi nilai perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat (AS) dapat mencapai US$ 80 miliar, atau Rp 1,32 kuadriliun setelah proses negosiasi tarif resiprokal. Menurut Anin, terdapat banyak peluang dagang antara Indonesia dan AS saat berkunjung ke Negeri Paman Sam dan bertemu banyak pengusaha di sana. 

“Prediksi kami di Kadin, kalau antara ekspor dan impor (Indonesia -AS) itu US$ 39-40 miliar. Dalam waktu 2-3 tahun kalau kita pandai, itu bisa menjadi dari US$ 40-80 miliar, dan dalam 4 tahun, bisa jadi US$ 120 miliar kalau kita menyiasatinya benar,” ujar Anin dalam siaran pers, Senin (12/5).

Lebih jauh Anindya mengatakan Kadin optimistis dengan prediksi nilai perdagangan tersebut karena surplus perdagangan Indonesia terhadap AS yang sekitar US$ 18 miliar rencananya akan diseimbangkan. Hal ini terkait negosiasi tarif yang dibuka oleh AS dengan permintaan nilai ekspor dan impor Indonesia-AS menjadi setara.

Ia mengatakan, usai negosiasi neraca perdagangan akan berubah karena total perdagangan kedua negara diprediksi naik menjadi US$ 58 miliar. “Sisanya US$ 20 miliar akan datang dari dua belah pihak saling ekspor-impor. Kita akan ekspor lebih banyak lagi karena AS tidak menerima (impor) dari beberapa negara, seperti Cina,” ujar Anin. 

Selanjutnya ia mengatakan peluang dagang Indonesia untuk AS juga terbuka bagi sektor tekstil dan produk tekstil (TPT), seperti alas kaki. Secara bertahap, Indonesia bisa menambah ekspor senilai US$ 10 miliar, dengan begitu nilai perdagangan antara Indonesia dan AS bisa bertambah lagi menjadi US$ 60-70 miliar. 

Sebaliknya, AS memiliki peluang ekspor dalam bentuk komoditas pangan, seperti kedelai, gandum, susu, dan daging ke Indonesia. Oleh sebab itu, proyeksi nilai perdagangan mencapai US$ 80 miliar sangat mungkin terealisasi. 

Dia menyebut, nilai perdagangan itu dapat meningkat hingga US$ 120 miliar atau nyaris setara dengan nilai perdagangan antara Indonesia dan Cina yang mencapai US$ 130 miliar. “Sekali lagi, ini penuh dengan catatan karena Kadin bukan yang bernegosiasi dengan pemerintah. Tetapi secara potensi ada, karena dibutuhkan dan kedua belah pihak ingin berdagang lebih,” ujar Anin lagi. 

Anindya menekankan pentingnya dukungan dari sektor swasta dan pemerintah untuk merealisasikan potensi perdagangan tersebut. Menurutnya, penyelarasan kebijakan, fasilitas perdagangan, serta kemudahan logistik akan menjadi kunci agar prediksi nilai perdagangan yang ambisius ini bisa tercapai dalam jangka menengah.

Ia juga mengingatkan bahwa peluang peningkatan perdagangan tidak hanya dilihat dari sisi nilai, tetapi juga kualitas hubungan bilateral yang lebih seimbang dan saling menguntungkan. Terlebih, Indonesia dan Amerika Serikat telah menggelar negosiasi perdagangan yang mencakup tarif resiprokal dan keseimbangan neraca ekspor-impor.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...