Sri Mulyani Kaji Penerbitan Dim Sum Bond dan Kangaroo Bond, Apa Itu?
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati tengah mengkaji kemungkinan penerbitan Dim Sum Bond dan Kangaroo Bond pada tahun ini. Hal ini disampaikan oleh Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono dalam Konferensi Pers APBN KiTa di Jakarta, Jumat (23/5).
“Pemerintah sedang mempertimbangkan untuk menerbitkan global bonds dalam mata uang Renminbi, yaitu Dim Sum Bond, dan dalam dolar Australia yaitu Kangaroo Bond,” ujar Thomas yang akrab disapa Tommy.
Sebelumnya, pemerintah telah sukses menerbitkan Samurai Bond senilai JPY 103,2 miliar atau setara sekitar US$ 725 juta, dengan harga yang diklaim sangat kompetitif.
Obligasi tersebut diterbitkan dalam lima tenor, yakni tenor 3 tahun dengan kupon 1,56%, tenor 5 tahun 1,87%, tenor 7 tahun 2,05%, tenor 10 tahun 2,35%, dan tenor 20 tahun 3,26%.
Ia menambahkan, khusus untuk tenor 20 tahun diterbitkan dalam format Blue Bonds, yakni instrumen yang mengadopsi prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) dan berfokus pada proyek-proyek kelautan serta sumber daya air.
“Blue Bonds itu adalah bond issuance yang menganut aturan main ESG, sustainable, dalam hal ini lebih ke hal-hal yang maritim dan segala macam yang berhubungan dengan maritim dan air,” katanya.
Dim Sum Bond adalah obligasi yang diterbitkan di luar Cina namun berdenominasi dalam mata uang yuan atau renminbi. Instrumen ini biasanya diterbitkan di Hong Kong dan ditujukan untuk menarik investor internasional yang ingin berinvestasi dalam mata uang Cina.
Sementara Kangaroo Bond adalah obligasi yang diterbitkan di pasar keuangan Australia oleh entitas asing. Obligasi ini berdenominasi dalam dolar Australia dan menjadi salah satu cara bagi penerbit global untuk mengakses basis investor di Australia.
Dim Sum Bond dan Kangaroo Bond menjadi instrumen utang global yang memungkinkan pemerintah mendapat pembiayaan dalam mata uang asing, yaitu yuan dan dolar Australia. Penerbitan obligasi ini menjadi bagian dari strategi diversifikasi sumber pembiayaan untuk mendukung kebutuhan anggaran negara.
Kemenkeu juga melihat sentimen pasar keuangan domestik mulai membaik. Dalam lelang Surat Utang Negara (SUN) terakhir pada 20 Mei 2025, total incoming bid mencapai Rp 108 triliun, tertinggi sejak Agustus 2021.
