Menkeu Purbaya Temukan Banyak WNI Simpan Dolar di Luar Negeri, Siapkan Jurus Ini

Tia Dwitiani Komalasari
20 September 2025, 10:40
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
Katadata/Rahayu Subekti
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tengah mematangkan skema berbasis pasar (market based) yang memberikan insentif menarik agar pemilik dana menempatkan simpanan dolar mereka di dalam negeri. Dia menemukan banyak warga negara Indonesia yang mengirim uangnya dalam jumlah besar ke luar negeri.

"Saya baru tau juga bahwa ternyata tiap bulan banyak juga orang-orang Indonesia mengirim uangnya ke beberapa negara di kawasan sini," ujarnya usai diterima Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, pada Jumat (19/9) dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden.

Menkeu Purbaya mengatakan insentif tersebut akan diterapkan denga skema berbasis pasar (market based). Artinya, langkah tersebut bukan dilakukan karena paksaan, namun karena ada insentif yang menarik.

Purbaya mengatakan, kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat cadangan devisa, menambah suplai dolar di perbankan nasional, serta mendukung pembiayaan proyek-proyek strategis pemerintah.

Dia mengatakan rencana ini diproyeksikan bisa berjalan sekitar satu bulan ke depan. Purbaya menekankan bahwa detail kebijakan masih difinalisasi, namun menilai rencana insentif ini sangat potensial untuk memperkuat stabilitas keuangan nasional sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.

“Tapi masih belum matang, masih kita matangkan lagi. Tapi kalau saya lihat rencananya cukup bagus sekali,” ujarnya.

Cadangan Devisa Turun karena Bayar Utang Luar Negeri

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2025 sebesar US$150,7 miliar, menurun dibandingkan akhir Juli 2025 yang mencapai US$152 miliar.

“Cadangan devisa tetap tinggi meskipun lebih rendah dari posisi bulan sebelumnya,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan tertulis, Senin (8/9).

Denny menjelaskan, penurunan cadangan devisa dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah. Langkah ini diambil BI sebagai respons atas ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.

Pada akhir Agustus 2025, posisi cadangan devisa setara dengan 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor plus pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

“Cadangan devisa ini berada di atas standar kecukupan internasional,” ujar Denny.

BI menilai cadangan devisa tersebut masih mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Ke depan, BI memandang posisi cadangan devisa memadai dengan dukungan prospek ekspor yang tetap terjaga, surplus neraca transaksi modal dan finansial, serta persepsi positif investor terhadap perekonomian domestik dan imbal hasil investasi.

“Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian dan mendukung pertumbuhan berkelanjutan,” kata Denny.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Antara

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...