Rupiah Berpotensi Lanjutkan Penguatan Didorong Penurunan Inflasi Konsumen AS
Nilai tukar rupiah diproyeksikan akan melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini. Pengamat pasar uang Ariston Tjendra mengatakan hal ini dipicu karena melemahnya inflasi konsumen Amerika Serikat (AS).
“Rupiah masih berpeluang menguat lagi hari ini seiring dengan data inflasi konsumen AS yang dirilis Jumat malam menunjukan hasil yang di bawah ekspektasi pasar,” kata Ariston kepada Katadata.co.id, Senin (27/10).
Inflasi konsumen AS secara tahunan pada September 2025 tercatat 3,0% sementara ekspektasi sebesar 3,1%. Ariston menilai, turunnya inflasi konsumen AS membuka peluang pemangkasan suku bunga acuan AS yang lebih besar.
Di sisi lain, Ariston menyebut kebijakan moneter dan fiskal Indonesia yang lebih longgar masih bisa memberikan tekanan ke rupiah.
“Potensi penguatan ke arah Rp 16.550 per dolar AS dengan potensi resisten di kisaran Rp 16.650 per dolar AS,” ujar Ariston.
Meski diproyeksikan menguat, berdasarkan data Bloomberg pagi ini, rupiah dibuka melemah pada level Rp 16.608 per dolar AS. Level ini turun 6 poin atau 0,04% dari penutupan sebelumnya.
Senada dengan Ariston, Analis Doo Financial Futures Lukman Leong juga memproyeksikan hal yang sama. “Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS di tengah optimisme akan perundingan perdagangan Cina-AS,” kata Lukman.
Lukman menjelaskan, data inflasi AS yang dirilis pada akhir pekan lalu menunjukan moderasi meningkatkan prospek pemangkasan suku bunga The Fed. Hal ini menurut Lukman juga ikut mendukung rupiah.
“Namun penguatan akan terbatas oleh antisipasi pertemuan FOMC dan Trump dengan Cina pekan ini. Rupiah akan berada di level Rp 16.550 per dolar AS hingga Rp 16.650 per dolar AS,” ujar Lukman.
