Benarkah MBG Bikin Inflasi Pangan? Ini Penjelasan dari BI
Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S Budiman meminta banyak pihak untuk berhati-hati mengaitkan program makan bergizi gratis alias MBG dengan kenaikan harga pangan. Salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto ini sebelumnya sering disebut memicu inflasi pangan karena adanya lonjakan permintaan bahan makanan.
Aida mengatakan beberapa bulan ini memang terjadi kenaikan volatile food. “Ini disumbang terutama oleh cabai merah, telur ayam ras, dan daging ayam ras,” kata Aida dalam konferensi pers RDG Bulanan BI November 2025, Rabu (19/11).
Namun, Aida mengatakan ada sejumlah faktor yang menyebabkan kenaikan harga pangan tersebut. Pertama yakni basis inflasi volatile food yang rendah pada tahun lalu.
“Year on year-nya pada Agustus (2024) hanya 3,04%. Di bulan September 1,43% dan di Oktober 0,89%. Jadi tidak heran kalau tiba-tiba menjadi 6,59% pada bulan ini,” ujar Aida.
Faktor kedua yakni saat ini bukan musim tanam hortikultura dan gangguan cuaca. Lalu ketiga yakni adanya kenaikan input pangan pakan ternak sehingga membuat harga telur naik.
BPS Klaim MBG Dorong Lonjakan Inflasi Pangan
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada Oktober 2025 mencapai 2,86% secara tahunan. Beberapa komoditas memberikan andil terbesar, seperti harga beras, cabai merah, bawang merah, daging ayam ras, telur ayam ras, dan lainnya.
“Pelaksanaan program MBG (makan bergizi gratis) yang telah berlangsung selama beberapa bulan turut mendorong lonjakan permintaan terhadap telur ayam ras dan daging ayam ras,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (3/11).
Ia mengatakan inflasi komoditas telur ayam ras pada periode tersebut tercatat sebesar 4,43%. Untuk daging ayam ras inflasinya mencapai 1,13%.
“Keduanya merupakan komoditas yang menjadi penyumbang utama inflasi pada Oktober 2025,” ujarnya.
BPS juga melihat adanya kenaikan permintaan telur ayam dan daging ayam dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) program MBG, yang berasal dari pasar, pengecer, dan pedagang besar.
"Jadi diduga ini menjadi salah satu indikasi naiknya permintaan telur dan daging ayam ras,” katanya.
Tak hanya itu, Pudji mengatakan inflasi telur ayam ras dan daging ayam ras ini didorong oleh adanya peningkatan komponen biaya produksi daging ayam ras. Selain itu, kenaikan harga ayam hidup dan jagung pakan di beberapa wilayah juga turut berkontribusi.
Namun, BPS tidak menghitung besaran inflasi spesifik untuk program MBG. “Sehingga wilayah yang mengalami inflasi karena program MBG ini juga tidak bisa secara spesifik terlihat,” ujar Pudji.
