Wall Street Menguat, S&P 500 dan Dow Jones Cetak Rekor Baru
Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup naik tipis pada perdagangan Senin (12/1). Indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average mencetak rekor tertinggi baru sepanjang masa, meski investor sempat mencermati kabar pembukaan investigasi kriminal oleh Departemen Kehakiman AS terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell.
Indeks S&P 500 naik 0,16% dan ditutup di level 6.977,27. Dow Jones Industrial Average bertambah 86,13 poin atau 0,17% ke posisi 49.590,20. Kedua indeks tersebut sempat menyentuh rekor tertinggi intraday dan mengakhiri perdagangan di level tertinggi baru. Sementara itu, Nasdaq Composite naik 0,26% dan ditutup di level 23.733,90.
Indeks-indeks utama Wall Street pulih dari tekanan di awal sesi, seiring penguatan saham Walmart dan sejumlah saham teknologi. Indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 juga mencatatkan rekor tertinggi baru sepanjang masa.
Pasar sempat bergejolak menyusul seruan Presiden AS Donald Trump untuk membatasi suku bunga kartu kredit selama satu tahun di level 10%. Sejumlah pengamat menilai kebijakan tersebut berpotensi menekan penyaluran kredit dan merugikan profitabilitas perbankan.
Saham-saham bank pun tertekan, dengan saham Citigroup turun sekitar 3%. Saham JPMorgan Chase dan Bank of America masing-masing melemah lebih dari 1%, sementara Capital One anjlok sekitar 6%.
“Dalam beberapa hal, isu ini tidak terlalu penting. Saya melihatnya sebagai gangguan kecil dan bahkan tidak terlalu memengaruhi arah suku bunga,” ujar Kepala Strategi Investasi Sage Rob Williams dikutip dari CNBC, Selasa (13/1).
Tekanan di awal perdagangan juga dipicu pernyataan Jerome Powell dalam video langsung pada Minggu malam. Powell mengonfirmasi bahwa jaksa federal membuka penyelidikan kriminal terkait kesaksiannya di Komite Perbankan Senat mengenai renovasi gedung kantor The Fed.
Ia menyebut penyelidikan tersebut sebagai upaya lain Trump untuk memengaruhi kebijakan moneter bank sentral, serta menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan politik. Masa jabatan Powell sebagai Ketua The Fed dijadwalkan berakhir pada Mei mendatang.
Sepanjang 2025, pasar saham relatif mengabaikan tekanan Trump terhadap The Fed, seiring bank sentral memangkas suku bunga sebanyak tiga kali di tengah inflasi yang stabil. Namun, Trump sebelumnya kembali menegaskan keinginannya agar The Fed terus menurunkan suku bunga.
Kepala Ahli Strategi Pasar Cerity Partners Jim Lebenthal menilai dampak penyelidikan terhadap Powell cenderung bersifat jangka panjang.
"Penyelidikan ini kemungkinan tidak akan mengubah suku bunga atau inflasi dalam jangka pendek,” ujarnya.
Lebenthal menambahkan, sentimen positif dari ekspektasi kinerja keuangan emiten dan potensi inflasi yang berada jauh di bawah 3% menjadi penopang utama pasar dalam waktu dekat.
Ia juga mengingatkan bahwa tekanan politik terhadap The Fed berpotensi memengaruhi kebijakan moneter ke depan.
Di tengah kekhawatiran terhadap berkurangnya independensi The Fed, kontrak berjangka emas yang kerap dipandang sebagai aset lindung nilai melonjak 2,5% dan mencetak rekor penutupan di level US$ 4.614,7 per ons.
Sementara itu, saham Walmart naik sekitar 3% didorong antusiasme pasar menjelang masuknya ritel raksasa tersebut ke dalam indeks Nasdaq-100, yang dilacak oleh ETF Invesco QQQ Trust.
Walmart memimpin penguatan sektor konsumen, yang turut mendapat sentimen positif dari wacana pembatasan suku bunga kartu kredit dan pergerakan harga minyak menjelang pemilu paruh waktu AS akhir tahun ini.
