Pengusaha Yakin Ekonomi RI Masih Solid di Tengah Huru-Hara Pasar Saham
Kalangan pengusaha menilai gejolak pasar modal dan sorotan lembaga keuangan global terhadap Indonesia lebih disebabkan persoalan transparansi serta kepastian regulasi. Kondisi fundamental ekonomi dinilai masih solid.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengatakan, kinerja ekonomi Indonesia masih relatif solid dengan pertumbuhan stabil di kisaran 5% dan inflasi yang terjaga rendah.
“Kami melihat secara fundamental, Indonesia mampu tumbuh rata-rata 5% selama 30 tahun terakhir, inflasinya juga 2,5%, jadi baiklah,” kata Anindya saat ditemui usai acara ABAC Meeting, Jumat (6/2).
Namun, ia mengakui pelaku pasar memang tengah mempertanyakan aspek transparansi, likuiditas, serta kedalaman pasar saham di dalam negeri, terutama di tengah meningkatnya ketidakpastian kebijakan.
“Yang sekarang ini banyak ditanyakan transparansinya, likuiditasnya, dan kedalaman dari pasar modal,” ujarnya.
Isu tersebut mencuat setelah sejumlah lembaga internasional memberi sentimen negatif terhadap pasar Indonesia. Setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI), beberapa institusi seperti S&P, Nomura, Goldman Sachs, Moody’s, hingga UBS turut menyoroti risiko pasar domestik.
UBS bahkan menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi netral dan memperkirakan tekanan pasar berlanjut sampai ada kejelasan regulasi, termasuk terkait rencana pengalihan 28 izin usaha perusahaan yang dicabut kepada Danantara. Kebijakan ini dinilai berpotensi menambah ketidakpastian bagi investor.
Menanggapi hal itu, Anindya memandang kondisi tersebut sebagai momentum perbaikan struktural.
“Inilah yang kita rasa Indonesia mempunyai kesempatan atau wake up call untuk mereformasi. Ini bisa menjadi katalis untuk Indonesia yang lebih baik,” katanya.
Ia menekankan reformasi bukan hanya penting demi memenuhi standar indeks global seperti MSCI, tetapi untuk memperkuat daya saing pasar keuangan nasional secara keseluruhan.
Menurutnya, basis investor domestik juga terus tumbuh signifikan. Dalam setahun terakhir, jumlah investor ritel meningkat dari sekitar 10 juta menjadi 20 juta.
“Jadi benar-benar harus dikawal,” ujarnya.
Dari sisi dunia usaha, Anindya menyebut kepercayaan terhadap prospek ekonomi masih terjaga. Hasil survei Kadin pada kuartal keempat menunjukkan lebih banyak perusahaan berencana melakukan investasi tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya.
“Secara fundamental Kadin melakukan survei di kuartal keempat bahwa lebih banyak perusahaan yang ingin invest di tahun ini dibanding sebelumnya. Jadi kepercayaannya ada,” kata dia.
